KOMPAS.com - Microsoft dan SMRU Consulting bekerja sama menggunakan bioakustik bertenaga AI untuk mendeteksi orca, mengurangi tabrakan kapal dan mendukung konservasi keanekaragaman hayati laut global.
Bioakustik merupakan ilmu yang menggabungkan biologi dan akustik untuk mempelajari bagaimana hewan dan manusia menghasilkan, menerima, dan mengirimkan suara. Ini menjadi metode kunci untuk memahami kesehatan ekosistem serta mengukur keanekaragaman hayati dan melacak satwa liar.
Orca sendiri bergantung pada keterampilan akustik mereka untuk navigasi, pencarian makanan, dan komunikasi, namun dengan meningkatnya penggunaan laut untuk logistik rantai pasokan, perjalanan, dan ketegangan geopolitik, mamalia laut ini mengalami kesulitan.
Kebisingan di bawah air, yang dihasilkan oleh kapal, mengganggu ekolokasi paus yang pada akhirnya mengakibatkan peningkatan risiko tabrakan, kelaparan, dan terpisah dari kawanannya menjadi makin tinggi.
Melansir Sustainability Magazine, Jumat (7/8/2026) Microsoft pun turun tangan dengan memanfaatkan perangkat AI untuk mendeteksi dan mengelompokkan suara secara otomatis, sehingga membantu para peneliti memantau populasi paus secara jauh lebih luas.
Baca juga: AI Bisa Jadi Senjata Baru Berantas Perdagangan Satwa Laut Ilegal
Lantas seperti apa cara kerjanya? Di pusat kerja sama ini terdapat Communication Acoustics Buoy (CAB), sebuah pelampung khusus yang mendengarkan suara lautan setiap saat.
CAB dilengkapi dengan panel surya dan jangkar agar tetap berada di posisinya, serta mikrofon bawah air untuk menangkap berbagai macam suara laut termasuk yang berasal dari satwa. Semua suara ini langsung diolah oleh teknologi komputer di lokasi untuk memberikan informasi dengan sangat cepat.
CAB tidak hanya berguna untuk paus orca. Tim peneliti percaya bahwa seluruh biota laut perlu dilindungi. Oleh karena itu, teknologi ini siap memberikan peringatan kepada para pelaut saat ada spesies yang terancam punah melintas di dekat mereka.
Model AI milik Microsoft bertugas mengelompokkan panggilan suara yang ditangkap oleh pelampung. Teknologi ini menghemat sangat banyak waktu para pejuang konservasi karena mampu mengenali pola dan melakukan pengukuran secara otomatis dalam skala besar.
Dengan deteksi yang lebih akurat dan data yang makin terpercaya, keberadaan paus kini dapat dilaporkan secara otomatis kepada para pelaut setempat.
“Kapal-kapal besar biasanya menjadi lebih tenang dan tidak bising saat melambat. Jadi, ketika kami mendeteksi keberadaan paus, kami memperingatkan pelaut untuk memperlambat kapal mereka demi melindungi paus-paus tersebut,” kata Rachel Aronson, Direktur Program Quiet Sound di Maritime Blue.
"Jika kita bisa membuktikan bahwa metode ini berhasil di sini, maka alat dan cara yang sama dapat diterapkan di tempat lain untuk melindungi lautan kita,” papar Aronson.
Kapal-kapal kini dapat dilengkapi dengan informasi real-time, sehingga nakhoda dapat mengatur kecepatan dan arah kapal ketika ada paus atau hewan laut lainnya di dekat mereka.
Teknologi ini bertujuan untuk mengurangi kebisingan bawah air dan mencegah tabrakan dengan satwa laut, terutama selama musim berkembang biak dan mencari makan.
Baca juga: Paus Abu-Abu di Samudra Pasifik Terancam Punah Akibat Kelaparan Massal
Proyek kolaborasi antara Microsoft dan SMRU Consulting membuktikan bahwa ilmu konservasi dan teknologi AI bisa bersatu untuk melindungi kehidupan laut yang rentan.
Bagi hewan-hewan yang menggunakan ekolokasi, dampak teknologi ini terasa secara langsung dalam membantu mereka tetap berkumpul dalam kelompok, mencari makan, serta menemukan sumber makanan dengan efisien.
Para peneliti percaya bahwa jika pendekatan ini berhasil, metode yang sama dapat diterapkan di jalur perairan seluruh dunia untuk mendukung keanekaragaman hayati dan memperkuat upaya pelestarian laut.
Kolaborasi ini merupakan langkah awal yang penting, dengan tujuan akhir untuk turut melindungi populasi ikan salmon di masa depan.
“Setiap suara panggilan paus yang terdeteksi. Setiap kapal yang memperlambat kecepatannya. Setiap wawasan baru yang dihasilkan secara langsung di lokasi. Masing-masing merupakan langkah menuju masa depan di mana teknologi membantu melindungi ekosistem tempat kita semua bergantung,” tulis Microsoft dalam pernyataannya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya