Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Microsoft Manfaatkan Teknologi Bioakustik AI untuk Konservasi Paus

Kompas.com, 14 Agustus 2026, 09:26 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Microsoft dan SMRU Consulting bekerja sama menggunakan bioakustik bertenaga AI untuk mendeteksi orca, mengurangi tabrakan kapal dan mendukung konservasi keanekaragaman hayati laut global.

Bioakustik merupakan ilmu yang menggabungkan biologi dan akustik untuk mempelajari bagaimana hewan dan manusia menghasilkan, menerima, dan mengirimkan suara. Ini menjadi metode kunci untuk memahami kesehatan ekosistem serta mengukur keanekaragaman hayati dan melacak satwa liar.

Orca sendiri bergantung pada keterampilan akustik mereka untuk navigasi, pencarian makanan, dan komunikasi, namun dengan meningkatnya penggunaan laut untuk logistik rantai pasokan, perjalanan, dan ketegangan geopolitik, mamalia laut ini mengalami kesulitan.

Kebisingan di bawah air, yang dihasilkan oleh kapal, mengganggu ekolokasi paus yang pada akhirnya mengakibatkan peningkatan risiko tabrakan, kelaparan, dan terpisah dari kawanannya menjadi makin tinggi.

Melansir Sustainability Magazine, Jumat (7/8/2026) Microsoft pun turun tangan dengan memanfaatkan perangkat AI untuk mendeteksi dan mengelompokkan suara secara otomatis, sehingga membantu para peneliti memantau populasi paus secara jauh lebih luas.

Baca juga: AI Bisa Jadi Senjata Baru Berantas Perdagangan Satwa Laut Ilegal

AI untuk mengelompokkan jenis satwa

Lantas seperti apa cara kerjanya? Di pusat kerja sama ini terdapat Communication Acoustics Buoy (CAB), sebuah pelampung khusus yang mendengarkan suara lautan setiap saat.

CAB dilengkapi dengan panel surya dan jangkar agar tetap berada di posisinya, serta mikrofon bawah air untuk menangkap berbagai macam suara laut termasuk yang berasal dari satwa. Semua suara ini langsung diolah oleh teknologi komputer di lokasi untuk memberikan informasi dengan sangat cepat.

CAB tidak hanya berguna untuk paus orca. Tim peneliti percaya bahwa seluruh biota laut perlu dilindungi. Oleh karena itu, teknologi ini siap memberikan peringatan kepada para pelaut saat ada spesies yang terancam punah melintas di dekat mereka.

Model AI milik Microsoft bertugas mengelompokkan panggilan suara yang ditangkap oleh pelampung. Teknologi ini menghemat sangat banyak waktu para pejuang konservasi karena mampu mengenali pola dan melakukan pengukuran secara otomatis dalam skala besar.

Dengan deteksi yang lebih akurat dan data yang makin terpercaya, keberadaan paus kini dapat dilaporkan secara otomatis kepada para pelaut setempat.

“Kapal-kapal besar biasanya menjadi lebih tenang dan tidak bising saat melambat. Jadi, ketika kami mendeteksi keberadaan paus, kami memperingatkan pelaut untuk memperlambat kapal mereka demi melindungi paus-paus tersebut,” kata Rachel Aronson, Direktur Program Quiet Sound di Maritime Blue.

"Jika kita bisa membuktikan bahwa metode ini berhasil di sini, maka alat dan cara yang sama dapat diterapkan di tempat lain untuk melindungi lautan kita,” papar Aronson.

Kapal-kapal kini dapat dilengkapi dengan informasi real-time, sehingga nakhoda dapat mengatur kecepatan dan arah kapal ketika ada paus atau hewan laut lainnya di dekat mereka.

Teknologi ini bertujuan untuk mengurangi kebisingan bawah air dan mencegah tabrakan dengan satwa laut, terutama selama musim berkembang biak dan mencari makan.

Baca juga: Paus Abu-Abu di Samudra Pasifik Terancam Punah Akibat Kelaparan Massal

Data suara untuk pelestarian global

Proyek kolaborasi antara Microsoft dan SMRU Consulting membuktikan bahwa ilmu konservasi dan teknologi AI bisa bersatu untuk melindungi kehidupan laut yang rentan.

Bagi hewan-hewan yang menggunakan ekolokasi, dampak teknologi ini terasa secara langsung dalam membantu mereka tetap berkumpul dalam kelompok, mencari makan, serta menemukan sumber makanan dengan efisien.

Para peneliti percaya bahwa jika pendekatan ini berhasil, metode yang sama dapat diterapkan di jalur perairan seluruh dunia untuk mendukung keanekaragaman hayati dan memperkuat upaya pelestarian laut.

Kolaborasi ini merupakan langkah awal yang penting, dengan tujuan akhir untuk turut melindungi populasi ikan salmon di masa depan.

“Setiap suara panggilan paus yang terdeteksi. Setiap kapal yang memperlambat kecepatannya. Setiap wawasan baru yang dihasilkan secara langsung di lokasi. Masing-masing merupakan langkah menuju masa depan di mana teknologi membantu melindungi ekosistem tempat kita semua bergantung,” tulis Microsoft dalam pernyataannya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Microsoft Manfaatkan Teknologi Bioakustik AI untuk Konservasi Paus
Microsoft Manfaatkan Teknologi Bioakustik AI untuk Konservasi Paus
Pemerintah
Kemenkes: Gejala Cemas dan Depresi Anak Meningkat Seiring Usia, Tertinggi di Jenjang SMA
Kemenkes: Gejala Cemas dan Depresi Anak Meningkat Seiring Usia, Tertinggi di Jenjang SMA
Pemerintah
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
LSM/Figur
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Pemerintah
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
LSM/Figur
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Pemerintah
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
LSM/Figur
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Pemerintah
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
LSM/Figur
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Pemerintah
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Pemerintah
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
LSM/Figur
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau