Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Ungkap Garam Laut dari Pulau Lombok Terkontaminasi Mikroplastik

Kompas.com, 14 Agustus 2026, 15:20 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sebuah studi terbaru mengungkapkan garam laut yang dijual di berbagai pasar di Pulau Lombok telah tercemar oleh mikroplastik.

Mikroplastik adalah serpihan plastik sangat kecil yang berasal dari hancurnya sampah plastik besar. Para ilmuwan telah menemukan mikroplastik di hampir semua tempat yang mereka teliti, termasuk di dalam makanan laut dan garam dapur yang memicu kekhawatiran akan dampaknya bagi kesehatan manusia.

Melansir Eco Business, Kamis (13/8/2026) sebagian besar sampah plastik yang berasal dari daratan pada akhirnya terbuang ke laut dan hancur menjadi mikroplastik.

Karena garam laut dibuat dengan cara menguapkan air laut, garam ini sangat mudah tercemar jika air yang digunakan sejak awal sudah mengandung butiran mikroplastik.

Para ilmuwan sendiri memperkirakan ada jutaan ton sampah plastik di lautan, yang menjadikannya sebagai bentuk pencemaran laut yang paling parah saat ini.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Anna Ida Sunaryo Purwiyanto dari Universitas Sriwijaya ini mengumpulkan 20 sampel garam dari para penjual di 10 pasar yang tersebar di Pulau Lombok. Mereka mengekstrak partikel yang berpotensi sebagai mikroplastik dari sampel tersebut dan mengidentifikasinya menggunakan mikroskop stereo.

Baca juga: Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak

Setiap sampel garam terbukti mengandung mikroplastik. Hal ini menunjukkan adanya pencemaran yang merata di seluruh pasar yang diteliti, catat studi tersebut.

Perbedaan kandungan mikroplastik

Para peneliti menemukan sedikit perbedaan tingkat pencemaran mikroplastik di beberapa pasar, begitu pula antara garam laut kasar dan garam halus. Namun, hasilnya secara konsisten menunjukkan bahwa bahan baku garam tersebut yaitu air laut di sekitar Pulau Lombok memang telah tercemar mikroplastik.

Para peneliti mencatat bahwa garam laut kasar memiliki kandungan mikroplastik yang lebih tinggi daripada garam halus. Kemungkinan besar hal ini disebabkan karena garam halus telah melalui proses pencucian dan penyaringan yang ikut membuang sebagian partikel mikroplastik.

Mereka menyimpulkan bahwa proses pencucian dan penyaringan tambahan pada garam dapat mengurangi tingkat pencemaran mikroplastik secara lebih maksimal.

“Dari sudut pandang aturan, belum adanya pedoman standar untuk mikroplastik pada produk garam menjadi hambatan utama dalam mengurangi pencemaran mikroplastik],” catat studi tersebut.

Baca juga: Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter

Memasukkan pemantauan mikroplastik ke dalam standar nasional untuk keamanan pangan dan kualitas garam akan memberikan acuan yang lebih jelas untuk penilaian dan pengawasan.

Tamara Galloway, peneliti mikroplastik dari Universitas Exeter di Inggris yang tidak terlibat dalam penelitian ini menyebut keberadaan mikroplastik pada garam laut sebenarnya sudah diketahui dan dilaporkan sejak beberapa tahun lalu. Temuan dari Pulau Lombok ini makin memperkuat hasil penelitian-penelitian sebelumnya.

“Mengingat massa plastik lebih ringan daripada air laut, kecenderungan plastik untuk mengapung di dekat permukaan sangat mungkin menyebabkan penumpukan di titik-titik lokasi tertentu,” ujar Galloway.

“Risiko bagi kesehatan manusia akibat menelan mikroplastik dalam garam laut sebenarnya sangat kecil, terutama jika dibandingkan dengan banyaknya sumber mikroplastik dan zat berbahaya lainnya yang masuk lewat makanan sehari-hari serta lingkungan kita,” tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Swasta
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Pemerintah
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Pemerintah
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
LSM/Figur
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
Pemerintah
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Swasta
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Pemerintah
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Pemerintah
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
LSM/Figur
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
LSM/Figur
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
LSM/Figur
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
LSM/Figur
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Pemerintah
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau