Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jejak 18 Tahun, Ketika Kebiasaan Sehat Menjadi Warisan bagi Generasi Indonesia

Kompas.com, 14 Agustus 2026, 11:43 WIB
Sri Noviyanti,
Aditya Mulyawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam satu hari setiap pekan, siswa SD Negeri 6 Kajarharjo berkumpul di halaman sekolah.

Senam menjadi kegiatan pertama. Setelah tubuh bergerak dan aktivitas satu selesai, guru mengajak siswa mencuci tangan dengan sabun. Kuku diperiksa. Kemudian, satu per satu bekal dari rumah dibuka.

Ada nasi, lauk, sayur, buah. Bekal itu tidak sekadar menjadi santapan. Guru menggunakannya sebagai kesempatan untuk mengajak siswa mengenali makanan yang mereka konsumsi dan memahami seperti apa makanan bergizi seimbang.

Bagi anak-anak, hal itu menjadi bagian dari jadwal sekolah. Namun, dari kegiatan yang sederhana dan dilakukan berulang setiap pekan itu, sekolah menjadi tempat untuk mengenalkan sekaligus membiasakan perilaku sehat.

Cara membangun kebiasaan melalui lingkungan sekolah bukan persoalan yang hanya muncul di satu sekolah atau satu daerah. Dalam pedoman yang diterbitkan pada 2026, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan lingkungan pangan sekolah sebagai salah satu bagian yang perlu diperhatikan untuk mendukung pilihan makanan yang lebih sehat.

WHO juga mencatat bahwa kebiasaan dan preferensi makan yang terbentuk sejak masa kanak-kanak dan remaja dapat terbawa hingga dewasa.

“Hal ini menjadi pembelajaran mereka dan memiliki konsekuensi seumur hidup bagi kesehatan dan kesejahteraan,” ujar Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, dikutip dari laman resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Selasa (27/1/2026).

Di Indonesia, persoalan gizi anak usia sekolah masih terlihat dalam data kesehatan nasional. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat, 11 persen anak usia 5–12 tahun berada dalam kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U).

Dalam Sustainability Report 2025, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk menempatkan pemenuhan gizi dan ketersediaan pangan sebagai bagian dari kontribusinya menuju visi Indonesia Emas 2045. Melalui JAPFA for Kids, perusahaan menyebut investasinya diarahkan untuk membangun generasi muda yang tangguh.

Sejak dimulai pada 2008, JAPFA for Kids berkembang dari program edukasi kesehatan menjadi pendekatan yang mencakup pemetaan kondisi gizi siswa, intervensi bagi anak dengan kondisi malanutrisi, pemantauan pertumbuhan, serta pelibatan guru, orang tua, dan tenaga kesehatan.

Persoalan yang hendak diatasi juga terlihat dalam pemetaan yang dilakukan Japfa. Pada tujuh lokasi pelaksanaan program pada 2024, sekitar 10,1 persen siswa tercatat mengalami kondisi gizi kurang dan gizi buruk.

Pakar gizi masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof Dr drg Sandra Fikawati, MPH, menilai edukasi mengenai gizi seimbang masih perlu diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor.

Menurut Sandra, pemenuhan gizi anak berkaitan dengan sejumlah faktor, mulai dari akses dan daya beli hingga kebiasaan konsumsi serta pemahaman masyarakat mengenai pola makan seimbang.

“Peningkatan kualitas gizi anak memerlukan keterlibatan banyak pihak,” ujar Sandra.

Kebutuhan untuk melihat persoalan gizi secara lebih menyeluruh pula yang kemudian mendorong perubahan pendekatan JAPFA for Kids dari tahun ke tahun.

Hingga 2025, program tersebut telah menjangkau 201.056 siswa, 13.541 guru, dan 1.214 sekolah di 105 kabupaten/kota serta 28 provinsi di Indonesia.

Namun, perjalanan 18 tahun itu tidak hanya dapat dilihat dari jumlah penerima manfaat. Perubahan juga terjadi pada cara Japfa merancang, menjalankan, dan mengukur program.

Dari kegiatan menjadi dampak

Head of Social Investment Japfa Retno Artsanti mengatakan, perubahan tersebut setidaknya dipengaruhi dua hal.

Pertama, perubahan mandat dari departemen yang sebelumnya menjalankan program sebagai bagian dari Public Relations menjadi departemen Social Investment sejak 2016.

Perubahan itu membuat orientasi program bergeser. Pelaksanaan kegiatan tidak lagi cukup dilihat dari apakah sebuah aktivitas terlaksana, tetapi juga apakah perubahan yang diharapkan benar-benar terjadi pada penerima manfaat dan dapat diukur.

Para siswa mengikuti senam empat pilar gizi seimbang sebagai bagian dari program JAPFA for Kids.Dok Japfa Para siswa mengikuti senam empat pilar gizi seimbang sebagai bagian dari program JAPFA for Kids.

“Hal ini membuat perubahan pendekatan program untuk memastikan terukurnya dampak pada penerima manfaat,” ujarnya saat diwawancarai Kompas.com, Kamis (13/8/2026).

Baca juga: Stabilkan Harga, Japfa Serap Telur Peternak Nasional

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Swasta
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Pemerintah
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Pemerintah
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
LSM/Figur
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
Pemerintah
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Swasta
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Pemerintah
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Pemerintah
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
LSM/Figur
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
LSM/Figur
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
LSM/Figur
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
LSM/Figur
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Pemerintah
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau