Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sarihusada dan K-24 Group Dorong Pencegahan Stunting melalui Edukasi Gizi Keluarga di NTT

Kompas.com, 30 Juli 2026, 09:07 WIB
Sri Noviyanti

Editor


KOMPAS.com – Upaya menekan angka stunting membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, dunia usaha, hingga masyarakat.

Berangkat dari semangat tersebut, K-24 Group bersama PT Sarihusada Generasi Mahardhika (Sarihusada) menggelar Festival Sehat Ceria si Kecil di Aula El Tari, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (23/7/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional 2026.

Kegiatan yang diikuti sekitar 1.000 orang tua dan anak ini menghadirkan layanan skrining tumbuh kembang anak, edukasi gizi keluarga, serta konsultasi kesehatan sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pencegahan stunting sejak dini.

Baca juga: WVI: Penanganan Stunting Tak Cukup dengan Gizi, Akses Air Bersih dan Sanitasi Jadi Kunci

Acara tersebut dihadiri Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Provinsi NTT drg Iien Adriany, MKes, yang mewakili Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Ketua Tim Penggerak PKK sekaligus Ketua Tim Pembina Posyandu Provinsi NTT Mindriyati Astiningsih Laka Lena, Sales Director Sarihusada Rizki Imam Ardhi, serta Founder dan CEO K-24 Group dr Gideon Hartono.

Stunting masih menjadi tantangan pembangunan

Stunting masih menjadi salah satu persoalan kesehatan yang berdampak pada kualitas sumber daya manusia Indonesia. Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, sekitar satu dari lima anak Indonesia masih mengalami stunting. Kondisi ini masih menjadi tantangan di sejumlah daerah, termasuk Nusa Tenggara Timur yang memiliki prevalensi stunting relatif tinggi dibandingkan provinsi lain.

Kepala DP3AP2KB Provinsi NTT drg Iien Adriany mengatakan, penurunan angka stunting telah menjadi salah satu prioritas pembangunan daerah karena berkaitan langsung dengan kualitas generasi mendatang.

Baca juga: Manfaatkan Pangan Lokal, Sup Matahari Jadi Menu Favorit Atasi Stunting di Ngawi

“Persoalan stunting tidak dapat diselesaikan hanya melalui intervensi sektor kesehatan,”ujarnya dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (30/7/2026).

Menurutnya, diperlukan kolaborasi lintas sektor, termasuk keterlibatan dunia usaha melalui program yang mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pemenuhan gizi anak dan pentingnya pemantauan tumbuh kembang sejak masa 1.000 hari pertama kehidupan.

Ia juga menilai edukasi kepada orang tua menjadi salah satu langkah penting untuk mengatasi masih rendahnya pemahaman mengenai pencegahan stunting, sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap penanganan gizi yang sesuai bagi anak berisiko mengalami gangguan pertumbuhan.

Peserta Festival Sehat Ceria si Kecil hadir di Aula El Tari, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (23/7/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional 2026.Dok Sarihusada Peserta Festival Sehat Ceria si Kecil hadir di Aula El Tari, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (23/7/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional 2026.

Sales Director Sarihusada Rizki Imam Ardhi mengatakan, kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan diperlukan agar edukasi mengenai gizi dan kesehatan anak dapat menjangkau lebih banyak keluarga.

Menurut Rizki, dukungan terhadap Festival Sehat Ceria si Kecil merupakan bagian dari kampanye Generasi Maju Bebas Stunting yang telah dijalankan sejak 2023.

Baca juga: Kemendukbangga: Program MBG Bantu Cegah Stunting pada Anak

"Kami ingin membantu orang tua memahami pentingnya memantau pertumbuhan anak, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, serta memberikan nutrisi yang tepat sebagai upaya mencegah stunting sejak dini," ujarnya.

Sementara itu, Founder dan CEO K-24 Group dr Gideon Hartono mengatakan bahwa peningkatan literasi kesehatan masyarakat menjadi salah satu langkah penting dalam mendukung pencegahan stunting.

Melalui kegiatan ini, K-24 Group ingin mendorong orang tua lebih memahami pentingnya gizi seimbang, pemantauan tumbuh kembang, serta deteksi dini agar setiap anak memiliki kesempatan tumbuh sehat dan berkembang secara optimal.

Edukasi keluarga menjadi kunci

Dokter Spesialis Anak dr Diana Nubatonis, SpA menjelaskan bahwa stunting merupakan gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang yang tidak hanya memengaruhi tinggi badan, tetapi juga perkembangan otak, kemampuan belajar, hingga produktivitas anak di masa depan.

Karena itu, ia mengimbau orang tua untuk rutin memantau tinggi dan berat badan anak serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila ditemukan tanda-tanda gangguan pertumbuhan.

Baca juga: Cegah Stunting, IPB Beri Penyuluhan ke Masyarakat di Cirebon

"Edukasi kepada orang tua menjadi salah satu strategi penting karena setiap keputusan yang diambil keluarga terkait pemenuhan gizi dan kesehatan anak akan berpengaruh terhadap kualitas tumbuh kembang mereka," kata Diana.

Melalui kolaborasi ini, Sarihusada berharap berbagai inisiatif peningkatan literasi gizi dan pencegahan stunting dapat terus diperluas sebagai bagian dari upaya membangun generasi Indonesia yang lebih sehat dan mendukung terwujudnya pembangunan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
LSM/Figur
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Pemerintah
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau