Editor
KOMPAS.com – Upaya menekan angka stunting membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, dunia usaha, hingga masyarakat.
Berangkat dari semangat tersebut, K-24 Group bersama PT Sarihusada Generasi Mahardhika (Sarihusada) menggelar Festival Sehat Ceria si Kecil di Aula El Tari, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (23/7/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional 2026.
Kegiatan yang diikuti sekitar 1.000 orang tua dan anak ini menghadirkan layanan skrining tumbuh kembang anak, edukasi gizi keluarga, serta konsultasi kesehatan sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pencegahan stunting sejak dini.
Baca juga: WVI: Penanganan Stunting Tak Cukup dengan Gizi, Akses Air Bersih dan Sanitasi Jadi Kunci
Acara tersebut dihadiri Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Provinsi NTT drg Iien Adriany, MKes, yang mewakili Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Ketua Tim Penggerak PKK sekaligus Ketua Tim Pembina Posyandu Provinsi NTT Mindriyati Astiningsih Laka Lena, Sales Director Sarihusada Rizki Imam Ardhi, serta Founder dan CEO K-24 Group dr Gideon Hartono.
Stunting masih menjadi salah satu persoalan kesehatan yang berdampak pada kualitas sumber daya manusia Indonesia. Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, sekitar satu dari lima anak Indonesia masih mengalami stunting. Kondisi ini masih menjadi tantangan di sejumlah daerah, termasuk Nusa Tenggara Timur yang memiliki prevalensi stunting relatif tinggi dibandingkan provinsi lain.
Kepala DP3AP2KB Provinsi NTT drg Iien Adriany mengatakan, penurunan angka stunting telah menjadi salah satu prioritas pembangunan daerah karena berkaitan langsung dengan kualitas generasi mendatang.
Baca juga: Manfaatkan Pangan Lokal, Sup Matahari Jadi Menu Favorit Atasi Stunting di Ngawi
“Persoalan stunting tidak dapat diselesaikan hanya melalui intervensi sektor kesehatan,”ujarnya dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (30/7/2026).
Menurutnya, diperlukan kolaborasi lintas sektor, termasuk keterlibatan dunia usaha melalui program yang mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pemenuhan gizi anak dan pentingnya pemantauan tumbuh kembang sejak masa 1.000 hari pertama kehidupan.
Ia juga menilai edukasi kepada orang tua menjadi salah satu langkah penting untuk mengatasi masih rendahnya pemahaman mengenai pencegahan stunting, sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap penanganan gizi yang sesuai bagi anak berisiko mengalami gangguan pertumbuhan.
Peserta Festival Sehat Ceria si Kecil hadir di Aula El Tari, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (23/7/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional 2026.Sales Director Sarihusada Rizki Imam Ardhi mengatakan, kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan diperlukan agar edukasi mengenai gizi dan kesehatan anak dapat menjangkau lebih banyak keluarga.
Menurut Rizki, dukungan terhadap Festival Sehat Ceria si Kecil merupakan bagian dari kampanye Generasi Maju Bebas Stunting yang telah dijalankan sejak 2023.
Baca juga: Kemendukbangga: Program MBG Bantu Cegah Stunting pada Anak
"Kami ingin membantu orang tua memahami pentingnya memantau pertumbuhan anak, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, serta memberikan nutrisi yang tepat sebagai upaya mencegah stunting sejak dini," ujarnya.
Sementara itu, Founder dan CEO K-24 Group dr Gideon Hartono mengatakan bahwa peningkatan literasi kesehatan masyarakat menjadi salah satu langkah penting dalam mendukung pencegahan stunting.
Melalui kegiatan ini, K-24 Group ingin mendorong orang tua lebih memahami pentingnya gizi seimbang, pemantauan tumbuh kembang, serta deteksi dini agar setiap anak memiliki kesempatan tumbuh sehat dan berkembang secara optimal.
Dokter Spesialis Anak dr Diana Nubatonis, SpA menjelaskan bahwa stunting merupakan gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang yang tidak hanya memengaruhi tinggi badan, tetapi juga perkembangan otak, kemampuan belajar, hingga produktivitas anak di masa depan.
Karena itu, ia mengimbau orang tua untuk rutin memantau tinggi dan berat badan anak serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila ditemukan tanda-tanda gangguan pertumbuhan.
Baca juga: Cegah Stunting, IPB Beri Penyuluhan ke Masyarakat di Cirebon
"Edukasi kepada orang tua menjadi salah satu strategi penting karena setiap keputusan yang diambil keluarga terkait pemenuhan gizi dan kesehatan anak akan berpengaruh terhadap kualitas tumbuh kembang mereka," kata Diana.
Melalui kolaborasi ini, Sarihusada berharap berbagai inisiatif peningkatan literasi gizi dan pencegahan stunting dapat terus diperluas sebagai bagian dari upaya membangun generasi Indonesia yang lebih sehat dan mendukung terwujudnya pembangunan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya