Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim dan Masalah Sosial Berpotensi Dorong Aksi Protes yang Lebih Radikal

Kompas.com, 30 Juli 2026, 07:56 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Di berbagai belahan dunia, ratusan ribu orang turun ke jalan untuk melakukan unjuk rasa karena khawatir akan perubahan lingkungan, penderitaan hewan, kerusakan alam, serta lambatnya penanganan krisis iklim.

Namun melansir Phys, Selasa (28/7/2026), demonstrasi itu bisa berubah menjadi aksi protes yang lebih ekstrem dan makin sering terjadi.

Hasil dari studi terbaru dari Flinders University tersebut dipicu oleh meningkatnya kemarahan para aktivis hingga warga biasa yang merasa punya tanggung jawab moral bersama untuk melindungi bumi dan mencegah bencana iklim yang lebih parah.

Aktivisme iklim yang ekstrem ini tetap dilakukan meski berisiko memicu dampak ekonomi.

Beberapa contoh aksinya antara lain pelemparan cat ke lukisan-lukisan berharga di Eropa, menerobos masuk ke rumah potong hewan untuk 'menyelamatkan' ternak, hingga menggelar demonstrasi menolak tambang di jalanan Australia.

Baca juga: Bappenas: Krisis Iklim Bisa Ancam Kedaulatan Negara

"Melihat kelestarian lingkungan atau kesejahteraan hewan sebagai sesuatu yang suci dan wajib dilindung akan memperkuat keyakinan moral seseorang," ujar Dr. Lucy Bird, peneliti dari Flinders University sekaligus penulis utama studi.

"Keyakinan itulah yang mendorong orang-orang untuk terlibat dalam aksi penyelamatan lingkungan sehari-hari hingga tindakan yang lebih ekstrem, terutama ketika mereka tahu orang lain juga memiliki kepedulian yang sama," terangnya lagi.

Oleh karena itu, keyakinan moral masyarakat akan makin kuat saat gerakan penolakan terhadap krisis iklim mendapat dukungan dan dorongan dari aksi-aksi bersama lainnya di seluruh dunia.

"Masyarakat menunjukkan dukungan mereka terhadap isu lingkungan dan keselamatan hewan melalui berbagai cara, mulai dari membagikan unggahan di media sosial dan menandatangani petisi, hingga melakukan aksi pembangkangan sipil dan demonstrasi langsung," kata Bird.

"Aksi-aksi seperti ini kemungkinan besar akan terus berlanjut atau makin meningkat jika tidak ada upaya nyata dan serentak dari dunia internasional untuk memotong emisi serta menghentikan kerusakan pada alam dan hewan," paparnya lagi.

Psikolog sosial dan politik dari Flinders University, Emma Thomas, menambahkan bahwa terbentuknya sudut pandang bersama dalam suatu kelompok sangat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor.

Para peneliti menyebutkan bahwa para aktivis terus mengingatkan bahwa jutaan orang kini tewas atau kehilangan tempat tinggal akibat badai, banjir, kebakaran hutan, dan kekeringan parah yang disebabkan oleh perubahan iklim.

Baca juga: Negara Asia-Pasifik Sepakati Peta Jalan Baru Atasi Krisis Iklim

"Masyarakat perlu diberikan ruang untuk berunjuk rasa dan menyampaikan rasa keadilan moral mereka tanpa harus berujung pada aksi kekerasan yang ekstrem," kata Thomas, wakil direktur Jeff Bleich Centre for Democracy and Disruptive Technologies di Flinders University.

Tindakan masyarakat dalam menggelar aksi bersama berdasarkan sudut pandang yang sama sangat bergantung pada rasa keadilan sosial dan identitas diri mereka masing-masing.

"Kita perlu memahami seberapa kuat komitmen atau keyakinan moral seseorang terhadap suatu isu, serta hal apa yang membuat keyakinan itu berubah menjadi aksi yang radikal," tambah Thomas.

Studi ini menilai tanggapan dari lebih dari 580 warga dewasa Australia mengenai situasi di sekitar proyek tambang yang kontroversial di Queensland, serta tanggapan masyarakat terkait isu kesejahteraan hewan secara terpisah.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Sistem Kesehatan Asia Pasifik Hadapi Tekanan Ganda dari Perubahan Iklim dan AI
Sistem Kesehatan Asia Pasifik Hadapi Tekanan Ganda dari Perubahan Iklim dan AI
Pemerintah
Emisi NOx Indonesia Naik 50 Persen, Hotspot Polusi Tersebar hingga Kawasan Hilirisasi
Emisi NOx Indonesia Naik 50 Persen, Hotspot Polusi Tersebar hingga Kawasan Hilirisasi
LSM/Figur
Hilirisasi Mineral Dorong Ekonomi ke Daerah, tetapi Manfaatnya Belum Merata
Hilirisasi Mineral Dorong Ekonomi ke Daerah, tetapi Manfaatnya Belum Merata
Pemerintah
Adopsi AI Meningkat, Para CEO Pertimbangkan Pengurangan Tenaga Kerja
Adopsi AI Meningkat, Para CEO Pertimbangkan Pengurangan Tenaga Kerja
LSM/Figur
Studi Ungkap Garam Laut dari Pulau Lombok Terkontaminasi Mikroplastik
Studi Ungkap Garam Laut dari Pulau Lombok Terkontaminasi Mikroplastik
Pemerintah
Populasi Gajah Sumatera Tersisa 900-1.350 Ekor, Kemenhut Susun Strategi Konservasi
Populasi Gajah Sumatera Tersisa 900-1.350 Ekor, Kemenhut Susun Strategi Konservasi
Pemerintah
Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Kebakaran Meluas di TNBTS
Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Kebakaran Meluas di TNBTS
LSM/Figur
Tak Sekadar Bantu Ekonomi, TJSL PLN Dorong Nelayan Jaga Laut dan Buka Lapangan Kerja
Tak Sekadar Bantu Ekonomi, TJSL PLN Dorong Nelayan Jaga Laut dan Buka Lapangan Kerja
BUMN
Jejak 18 Tahun, Ketika Kebiasaan Sehat Menjadi Warisan bagi Generasi Indonesia
Jejak 18 Tahun, Ketika Kebiasaan Sehat Menjadi Warisan bagi Generasi Indonesia
Swasta
CKG Ungkap 1 dari 3 Pelajar di Indonesia Alami Anemia, Remaja Putra Juga Tinggi
CKG Ungkap 1 dari 3 Pelajar di Indonesia Alami Anemia, Remaja Putra Juga Tinggi
Pemerintah
Microsoft Manfaatkan Teknologi Bioakustik AI untuk Konservasi Paus
Microsoft Manfaatkan Teknologi Bioakustik AI untuk Konservasi Paus
Pemerintah
Kemenkes: Gejala Cemas dan Depresi Anak Meningkat Seiring Usia, Tertinggi di Jenjang SMA
Kemenkes: Gejala Cemas dan Depresi Anak Meningkat Seiring Usia, Tertinggi di Jenjang SMA
Pemerintah
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
LSM/Figur
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Pemerintah
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau