Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BRIN Kembangkan Teknologi Ubah Limbah Nikel Jadi Serbuk Paduan Besi

Kompas.com, 30 Juli 2026, 09:45 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi untuk mengolah limbah hasil samping pengolahan bijih nikel menjadi serbuk paduan besi yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri manufaktur.

Teknologi tersebut memanfaatkan lumpur padat hasil proses hidrometalurgi nikel yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Selain itu, BRIN menggunakan biomassa cangkang sawit sebagai bahan pereduksi sehingga proses pengolahan menjadi lebih efisien dan ramah lingkungan.

Peneliti Pusat Riset Teknologi Mineral BRIN, Nur Ikhwani, mengatakan inovasi tersebut berawal dari audit teknologi pada industri pengolahan nikel yang dilakukan pada 2019-2020.

Baca juga: Hilirisasi Nikel Dinilai Pangkas Jejak Karbon, tetapi Manfaatnya Belum Masuk Perhitungan

Hasil audit menunjukkan limbah padat hasil pengolahan nikel mengandung besi sekitar 40 persen sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku industri.

"Kami mengaudit teknologi proses mereka dan menemukan bahwa limbah hasil pengolahan nikel memiliki kemiripan dengan material laterit yang sebagian besar mengandung besi hingga sekitar 40 persen," ujar Nur, dikutip dari laman resmi BRIN, Rabu (29/7/2026).

Menurut dia, setiap satu ton bijih nikel yang diproses dapat menghasilkan sekitar 1,5 ton lumpur padat.

Selama ini limbah tersebut sebagian besar belum dimanfaatkan, padahal masih mengandung mineral hematit yang dapat diolah menjadi sumber bahan baku besi.

Memanfaatkan limbah sawit

Dalam teknologi yang dikembangkan BRIN, lumpur nikel diproses menggunakan arang cangkang sawit sebagai bahan pereduksi.

Pendekatan tersebut menghasilkan serbuk paduan besi berukuran sekitar 50 mikron yang siap dimanfaatkan untuk industri powder metallurgy, material paduan besi-baja, maupun media shot blasting.

Selain menghasilkan produk bernilai tambah, penggunaan biomassa juga menurunkan suhu proses reduksi dari sekitar 1.380 derajat Celsius menjadi 1.200 derajat Celsius.

Penurunan suhu tersebut membuat kebutuhan energi dan biaya produksi menjadi lebih rendah dibandingkan proses konvensional.

"Inovasi ini memanfaatkan lumpur hasil samping hidrometalurgi nikel dan biomassa limbah sawit menjadi produk bernilai tinggi. Penggunaan biomassa sebagai reduktor juga mendukung pengembangan green product dan ekonomi sirkular," kata Nur.

Berbeda dengan proses konvensional yang menghasilkan sponge iron atau pig iron, teknologi BRIN menghasilkan serbuk paduan besi secara langsung sehingga lebih sesuai untuk kebutuhan industri material maju dan manufaktur berbasis serbuk.

Baca juga: Terlalu Fokus ke Baterai, Hilirisasi Nikel RI Kesampingkan Stainless Steel yang Lebih Potensial

Selain meningkatkan nilai tambah limbah industri, teknologi tersebut juga dinilai berpotensi mengurangi akumulasi limbah pengolahan nikel, menekan penggunaan batu bara sebagai bahan pereduksi, serta mendukung penurunan emisi gas rumah kaca.

BRIN selanjutnya akan mengembangkan teknologi untuk menurunkan kadar sulfur pada produk agar memenuhi spesifikasi industri.

Pengembangan tersebut akan dilakukan melalui kombinasi proses fisik dan pendekatan berbasis bakteri.

Nur berharap teknologi itu dapat segera memasuki tahap komersialisasi melalui kemitraan dengan industri powder metallurgy, shot blasting, dan manufaktur logam.

Menurut dia, kolaborasi dengan industri diperlukan untuk uji aplikasi, validasi performa, hingga pengembangan produk sesuai kebutuhan pasar.

"Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat hilirisasi teknologi dan menghasilkan material maju berbasis sumber daya sekunder yang memiliki daya saing tinggi," ujarnya.

Sebelumnya, Head of Sustainability Nickel Industries Limited Muchtaza mengingatkan bahwa kandungan nikel dalam bijih hanya sekitar 1-2 persen, sedangkan sebagian besar material yang ditambang akan menjadi residu atau limbah.

Menurut dia, pemanfaatan limbah tersebut berpotensi meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya sekaligus mengurangi jejak karbon dari industri nikel.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Saatnya Manfaat Hilirisasi Nikel di Morowali Dibagi Lebih Adil bagi Daerah
Saatnya Manfaat Hilirisasi Nikel di Morowali Dibagi Lebih Adil bagi Daerah
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Ubah Limbah Nikel Jadi Serbuk Paduan Besi
BRIN Kembangkan Teknologi Ubah Limbah Nikel Jadi Serbuk Paduan Besi
Pemerintah
Sarihusada dan K-24 Group Dorong Pencegahan Stunting melalui Edukasi Gizi Keluarga di NTT
Sarihusada dan K-24 Group Dorong Pencegahan Stunting melalui Edukasi Gizi Keluarga di NTT
Swasta
Krisis Iklim dan Masalah Sosial Berpotensi Dorong Aksi Protes yang Lebih Radikal
Krisis Iklim dan Masalah Sosial Berpotensi Dorong Aksi Protes yang Lebih Radikal
LSM/Figur
Di Tengah Krisis Iklim, Perusahaan Energi Fosil Diproyeksikan Cetak Rekor Laba
Di Tengah Krisis Iklim, Perusahaan Energi Fosil Diproyeksikan Cetak Rekor Laba
Swasta
Perlombaan Nuklir Global, PLTN Turbin Gas Atasi Kendala Biaya dan Skala
Perlombaan Nuklir Global, PLTN Turbin Gas Atasi Kendala Biaya dan Skala
Swasta
Campuran Minyak Kayu Putih dan Bensin Bisa Bikin Irit? Ini Penjelasan Ahli IPB
Campuran Minyak Kayu Putih dan Bensin Bisa Bikin Irit? Ini Penjelasan Ahli IPB
LSM/Figur
Siapa Paling Pencemar? Alat Ini Beri Peringkat Emisi dari Pusat Data AI
Siapa Paling Pencemar? Alat Ini Beri Peringkat Emisi dari Pusat Data AI
Pemerintah
Konflik dan Krisis Global Ancam Kelestarian Enam Situs Warisan Dunia
Konflik dan Krisis Global Ancam Kelestarian Enam Situs Warisan Dunia
Pemerintah
Enam Komunitas Agama Bentuk Sekretariat Bersama untuk Perkuat Aksi Iklim
Enam Komunitas Agama Bentuk Sekretariat Bersama untuk Perkuat Aksi Iklim
LSM/Figur
Ketimpangan Iklim: Orang Kaya Nikmati AC, Orang Miskin Terancam Bencana
Ketimpangan Iklim: Orang Kaya Nikmati AC, Orang Miskin Terancam Bencana
Pemerintah
Keadilan Energi Jadi Kunci Mewujudkan Masa Depan Berkelanjutan bagi Generasi Mendatang
Keadilan Energi Jadi Kunci Mewujudkan Masa Depan Berkelanjutan bagi Generasi Mendatang
LSM/Figur
 Pemerintah Siapkan Peta Jalan Pengelolaan Mangrove Nasional hingga 2055
Pemerintah Siapkan Peta Jalan Pengelolaan Mangrove Nasional hingga 2055
Pemerintah
China Targetkan Produksi Energi Terbarukan Naik 50 Persen pada 2030
China Targetkan Produksi Energi Terbarukan Naik 50 Persen pada 2030
Pemerintah
Jurnalisme Berkualitas Kini Jadi Aset Bernilai di Era AI
Jurnalisme Berkualitas Kini Jadi Aset Bernilai di Era AI
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau