"Negara-negara Barat saat ini lebih fokus pada persaingan geopolitik. Anggaran pertahanan mereka meningkat signifikan sehingga perhatian terhadap pendanaan iklim ikut bergeser," katanya.
Ia menilai kondisi tersebut membuka peluang bagi negara-negara berkekuatan menengah (middle powers), termasuk Indonesia, untuk memperkuat kepemimpinan dalam menjaga kerja sama global di bidang iklim.
Menurut Dino, Indonesia memiliki kapasitas untuk bekerja sama dengan negara-negara seperti Brasil, Australia, Jerman, dan Kanada dalam menjaga agenda aksi iklim tetap menjadi prioritas internasional.
"Perlu ada kelompok negara middle power yang mengambil alih kemudi. Indonesia mempunyai kapasitas untuk menjaga kerja sama global ini tetap berada pada jalurnya," ujarnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya