Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Buka Bogor Oncology Summit 2026, Menkes Budi Gunadi Minta Ubah Paradigma Penanganan Kanker

Kompas.com, 3 Agustus 2026, 18:25 WIB
Yohanes Enggar Harususilo

Penulis

KOMPAS.com - Kanker masih menjadi salah satu ancaman kesehatan publik paling mematikan di Indonesia. Data Global Cancer Observatory (Globocan) 2024 mencatat ada lebih dari 1,13 juta penderita kanker di Tanah Air, dengan angka kematian menembus 283 ribu jiwa per tahun.

Tingginya angka fatalitas ini sebagian besar dipicu oleh keterlambatan diagnosis, di mana mayoritas pasien baru mendatangi fasilitas kesehatan saat penyakit telah memasuki stadium lanjut.

Padahal, kunci utama menekan beban pembiayaan kesehatan dan meningkatkan angka harapan hidup pasien justru terletak pada deteksi dini.

Mengubah cara pandang masyarakat dari sekadar pengobatan (kuratif) menjadi pencegahan (preventif) kini menjadi kebutuhan mendesak agar kasus kanker dapat ditemukan pada stadium awal, saat peluang kesembuhannya masih jauh lebih tinggi.

Kebutuhan krusial akan perluasan akses skrining dan transformasi layanan primer ini menjadi fokus utama dalam Bogor Oncology Summit (BOSS) 2026 yang digelar di Bogor, Jawa Barat, bertepatan satu tahun berdirinya Suherman Widyatomo Integrated Cancer Center (SWICC).

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin yang hadir sebagai keynote speaker menegaskan bahwa Indonesia tidak cukup hanya memperkuat layanan pengobatan kanker, tetapi juga harus mengubah paradigma menuju pencegahan dan deteksi dini.

Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya memperkuat upaya promotif dan preventif melalui perluasan akses skrining agar kanker dapat dideteksi lebih awal sebelum berkembang ke stadium lanjut.

Pesan tersebut sejalan dengan transformasi sistem kesehatan yang dijalankan Kementerian Kesehatan melalui penguatan layanan primer dan perluasan program skrining kesehatan sebagai bagian dari strategi nasional pengendalian penyakit tidak menular.

Melalui berbagai program deteksi dini, pemerintah mendorong masyarakat melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala agar penyakit, termasuk kanker, dapat ditemukan lebih cepat sehingga peluang keberhasilan pengobatan meningkat dan angka kematian dapat ditekan.

Urgensi tersebut didukung oleh tingginya beban kanker di Indonesia. Berdasarkan data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2024, diperkirakan terdapat lebih dari 1,13 juta penderita kanker di Indonesia.

Pada tahun yang sama tercatat sekitar 474 ribu kasus baru dan lebih dari 283 ribu kematian akibat kanker. Sebagian besar pasien masih datang ke fasilitas kesehatan pada stadium lanjut sehingga pengobatan menjadi lebih kompleks, biaya meningkat, dan peluang kesembuhan menurun.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kanker yang ditemukan pada stadium awal memiliki peluang keberhasilan pengobatan yang jauh lebih tinggi dibandingkan ketika penyakit telah memasuki stadium lanjut.

Sebaliknya, keterlambatan diagnosis membuat pilihan terapi menjadi lebih kompleks, biaya pengobatan meningkat, serta risiko kematian lebih besar.

Karena itu, peningkatan partisipasi masyarakat dalam program skrining menjadi salah satu strategi penting untuk menekan beban kanker di Indonesia.

Dokter SWICC dr. M. Yadi Permana mengatakan, tantangan terbesar saat ini bukan hanya menyediakan layanan kanker yang lengkap, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan sejak dini.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tren Sustainability 2026, Perusahaan Fokus pada Regulasi dan Kepatuhan
Tren Sustainability 2026, Perusahaan Fokus pada Regulasi dan Kepatuhan
Pemerintah
Penyimpanan Energi Baterai Global Diproyeksikan Tumbuh Enam Lipat pada 2030
Penyimpanan Energi Baterai Global Diproyeksikan Tumbuh Enam Lipat pada 2030
Pemerintah
Suhu Ekstrem dan Kekeringan Ancam Sektor Energi Nuklir Eropa
Suhu Ekstrem dan Kekeringan Ancam Sektor Energi Nuklir Eropa
Pemerintah
Kematian Lalu Lintas Global Turun 21 Persen, Tapi Asia Tenggara Masih Rawan
Kematian Lalu Lintas Global Turun 21 Persen, Tapi Asia Tenggara Masih Rawan
Pemerintah
Buka Bogor Oncology Summit 2026, Menkes Budi Gunadi Minta Ubah Paradigma Penanganan Kanker
Buka Bogor Oncology Summit 2026, Menkes Budi Gunadi Minta Ubah Paradigma Penanganan Kanker
Pemerintah
Starbucks Barista Championship 2026 Mengangkat Keahlian Barista hingga Keberlanjutan Industri Kopi
Starbucks Barista Championship 2026 Mengangkat Keahlian Barista hingga Keberlanjutan Industri Kopi
Swasta
Upaya AQUA Menjaga Kualitas Air Sejak dari Hulu Merapi
Upaya AQUA Menjaga Kualitas Air Sejak dari Hulu Merapi
BrandzView
Cegah Anemia pada Ibu dan Anak, Nutrisi Berbasis Sains dan Skrining Dini Jadi Andalan
Cegah Anemia pada Ibu dan Anak, Nutrisi Berbasis Sains dan Skrining Dini Jadi Andalan
BrandzView
Komitmen Kembangkan Talenta Digital Bawa Telkom Raih Lestari Award 2026
Komitmen Kembangkan Talenta Digital Bawa Telkom Raih Lestari Award 2026
BrandzView
Bukan Predator, Mengapa Masyarakat Dayak Anggap Buaya Sebagai Saudara?
Bukan Predator, Mengapa Masyarakat Dayak Anggap Buaya Sebagai Saudara?
LSM/Figur
Populasi Ikan Kakatua Menurun, IPB Ingatkan Ancaman bagi Terumbu Karang dan Pesisir
Populasi Ikan Kakatua Menurun, IPB Ingatkan Ancaman bagi Terumbu Karang dan Pesisir
LSM/Figur
Praktik 'Greenwashing' Perusahaan Naik di Tengah Anjloknya Kualitas Laporan ESG
Praktik "Greenwashing" Perusahaan Naik di Tengah Anjloknya Kualitas Laporan ESG
Swasta
Penguatan Ekonomi Keluarga Jadi Bagian Strategi Menekan Kemiskinan di Papua
Penguatan Ekonomi Keluarga Jadi Bagian Strategi Menekan Kemiskinan di Papua
Pemerintah
Telur Ayam Umbaran vs Telur dalam Kandang: Mana Lebih Ramah Iklim?
Telur Ayam Umbaran vs Telur dalam Kandang: Mana Lebih Ramah Iklim?
Pemerintah
Regulasi Keberlanjutan Akan Makin Ketat, Ini Sektor Ekonomi Berisiko dan Paling Progresif
Regulasi Keberlanjutan Akan Makin Ketat, Ini Sektor Ekonomi Berisiko dan Paling Progresif
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau