Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dorong Implementasi ESG, Era Transformasi Keberlanjutan Asia Tenggara Dimulai

Kompas.com, 6 Agustus 2026, 16:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber The Star

KOMPAS.com - Perjalanan Asia Tenggara menuju keberlanjutan telah memasuki era perubahan besar. Langkah tersebut salah satunya dilakukan Malaysia, di mana negara tersebut mengambil aksi tegas lewat hukum dan ekonomi untuk menegakkan aturan iklim yang ketat.

Menteri Sumber Daya Alam dan Keberlanjutan Lingkungan Malaysia, Datuk Seri Arthur Joseph Kurup, mengatakan bahwa negaranya kini tidak lagi sekadar mengurangi intensitas emisi.

Sebaliknya, melansir The Star, Rabu (22/7/2026), Malaysia menetapkan target emisi yang pasti yakni membatasi puncak emisi paling lambat pada tahun 2030 dan mencapai bebas emisi  pada tahun 2050.

“Kementerian sedang menyusun Kebijakan Perubahan Iklim Nasional 2.0 sekaligus merancang Undang-Undang Perubahan Iklim Nasional. Aturan baru ini akan meresmikan tata kelola iklim secara menyeluruh. Aturan ini mewajibkan sektor pemerintah maupun swasta untuk bertanggung jawab, lengkap dengan target kerja dan mekanisme pelaporan yang ketat,” ujarnya.

Inti dari langkah ini adalah penerapan pajak karbon secara bertahap yang mulai berlaku tahun ini.

Di tahap awal, pajak ini berfokus pada industri penghasil emisi tinggi seperti baja, besi, dan pembangkit listrik. Arthur menjelaskan bahwa sistem tarif karbon ini dibuat untuk mendorong inovasi teknologi ramah lingkungan, sekaligus menjaga agar produk ekspor Malaysia tetap bisa bersaing di pasar global.

Baca juga: Sektor ESG dan Ekosistem Karbon Jadi Magnet Baru Investasi Strategis

"Tujuan kami bukan untuk menghukum, melainkan menciptakan sistem insentif yang sesuai dengan standar internasional," tegasnya.

Selain mengurangi emisi industri, Malaysia terus menjaga agar minimal 50 persen luas daratannya tetap berupa hutan. Negara ini juga memperluas program ekonomi daur ulang, seperti mengolah sampah menjadi energi dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Arthur juga mengimbau dunia usaha untuk menghindari manipulasi klaim ramah lingkungan. Ia meminta perusahaan menggunakan standar pelaporan internasional yang resmi dan menetapkan target penurunan emisi berbasis bukti ilmiah yang diakui (Science Based Targets initiative/SBTi).

Malaysia juga mendorong perusahaan untuk menghitung total emisi secara akurat di seluruh rantai pasokan mereka terutama Emisi Scope 3 serta menetapkan target pengurangan emisi yang diakui secara ilmiah (SBTi).

"Keterbukaan ini akan membuktikan apakah janji-janji kelestarian lingkungan yang dibuat benar-benar memberi dampak nyata atau sekadar pajangan kosmetik perusahaan,” ujarnya dalam pidato utama secara virtual di acara Asia ESG Summit 2026.

Ia menegaskan pula bahwa untuk mencapai perubahan besar, dibutuhkan kerja sama yang kuat antara kebijakan pemerintah yang tegas, inovasi dari para investor, dan pelaksanaan yang agresif dari pihak perusahaan.

“Saya mengimbau para pemimpin perusahaan untuk tidak menganggap kriteria lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) hanya sebagai aturan kaku yang sekadar dipatuhi. Sebaliknya, jadikan ESG sebagai inti ketahanan perusahaan, pendorong utama inovasi, dan batu loncatan untuk meningkatkan daya saing keuangan di tingkat global,” tambahnya.

Arthur meminta dunia usaha untuk melihat keberlanjutan lingkungan sebagai strategi modal yang disiplin dan sistem tata kelola yang ketat. Menurutnya, pola pikir inilah yang menjadi awal terbentuknya nilai jangka panjang, baik bagi bisnis maupun bagi alam.

Baca juga: Konsorsium Tiga Media di Asia Tenggara Kerja Sama untuk Perkuat ESG

Komitmen media dalam keberlanjutan

Asia ESG Summit sendiri merupakan wadah antar-industri yang sangat strategis bagi para pemikir untuk menggerakkan aksi nyata keberlanjutan di tingkat regional.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Pemerintah
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
LSM/Figur
Karhutla dan Abu Vulkanik Berisiko Ganggu Perdagangan Indonesia
Karhutla dan Abu Vulkanik Berisiko Ganggu Perdagangan Indonesia
LSM/Figur
PBB Peringatkan Kenaikan Permukaan Air Laut Jadi Ancaman Nyata Bagi HAM
PBB Peringatkan Kenaikan Permukaan Air Laut Jadi Ancaman Nyata Bagi HAM
Pemerintah
Krisis Iklim Turunkan Performa Pembangkit Saat Permintaan Listrik Naik
Krisis Iklim Turunkan Performa Pembangkit Saat Permintaan Listrik Naik
Pemerintah
Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang
Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang
Swasta
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Pemerintah
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Swasta
Studi Ungkap Hewan Laut Respons Perubahan Iklim dengan Cara Berbeda-beda
Studi Ungkap Hewan Laut Respons Perubahan Iklim dengan Cara Berbeda-beda
Pemerintah
Urine Pendaki Percepat Pencairan Gletser di Gunung Everest
Urine Pendaki Percepat Pencairan Gletser di Gunung Everest
LSM/Figur
ESDM Siapkan Aturan Kredit Karbon Sektor Energi, Potensi Transaksi Rp 2,2 Triliun per Tahun
ESDM Siapkan Aturan Kredit Karbon Sektor Energi, Potensi Transaksi Rp 2,2 Triliun per Tahun
Pemerintah
Tak Sampai 25 Persen Perusahaan yang Sukses Adopsi AI
Tak Sampai 25 Persen Perusahaan yang Sukses Adopsi AI
Pemerintah
UNICEF: 1 dari 5 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Online
UNICEF: 1 dari 5 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Online
Pemerintah
Peringati Hari Ozon Sedunia, Belantara Foundation-Resona Bank Ltd. Tanam Pohon Langka di Tahura SSH Riau yang Terdegradasi
Peringati Hari Ozon Sedunia, Belantara Foundation-Resona Bank Ltd. Tanam Pohon Langka di Tahura SSH Riau yang Terdegradasi
LSM/Figur
Karhutla di Gambut Bisa Ganggu Regenerasi Alami, Pakar UGM Jelaskan Sebabnya
Karhutla di Gambut Bisa Ganggu Regenerasi Alami, Pakar UGM Jelaskan Sebabnya
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau