Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi

Kompas.com, 11 Agustus 2026, 21:11 WIB
Sri Noviyanti

Editor

KOMPAS.com – Tumpukan sampah organik dari aktivitas pasar tradisional di Desa Sumbersari, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, mulai diolah menjadi sesuatu yang lebih bernilai.

Melalui pendekatan ekonomi sirkular, sampah organik yang sebelumnya berpotensi menumpuk dan menimbulkan persoalan lingkungan kini diolah menjadi pupuk kompos menggunakan teknologi large-scale compost tumbler system.

Hal yang menarik, fasilitas pengolahan tersebut tidak berhenti sebagai bantuan peralatan. Pengelolaannya diserahkan kepada kelompok pemuda Karang Taruna setempat agar pengolahan sampah dapat berjalan secara mandiri dan berkelanjutan. 

Baca juga: Limbah Pertanian di Lampung Berpotensi Jadi Investasi Hijau dan Ekonomi Sirkular

Sebagai informasi, inisiatif tersebut merupakan bagian dari program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Tahun Anggaran 2026 yang diinisiasi tim dosen Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Telkom University (Tel-U), dengan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Dalam program tersebut, sejumlah sarana pengolahan sampah diserahkan kepada masyarakat, mulai dari compost tumbler, mesin pemotong, hingga mesin pencacah sampah. 

Dari persoalan sampah menjadi peluang

Ketua tim program dari Program Studi Geofisika Unpad, Kusnahadi Susanto, PhD, mengatakan, penyediaan fasilitas tersebut diarahkan agar material dari sampah tetap memiliki nilai dan dapat berputar di tingkat desa.

Baca juga: Ubah Sampah Jadi Nilai: Saat Sekolah Menjadi Motor Ekonomi Sirkular

Menurut dia, keberadaan alat perlu dibarengi dengan pelatihan dan pendampingan agar teknologi yang diberikan benar-benar dapat digunakan sesuai kebutuhan masyarakat.

“Pelatihan dan pendampingan menjadi bagian penting agar sistem pengolahan sampah ini berjalan sesuai kebutuhan lapangan,” ujar Kusnahadi dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (11/8/2026). 

Pendekatan tersebut menjadi penting karena tujuan program bukan sekadar menyerahkan fasilitas kepada masyarakat. Pengelolaan diharapkan dapat terus berjalan setelah program selesai sehingga manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang.

Baca juga: Pengelolaan Sampah Berbasis Ekonomi Sirkular Perlu Kolaborasi Lintas Sektor

Gagasan pengolahan sampah ini bermula dari penjajakan yang dilakukan pada akhir 2025. Saat itu, tim menemukan bahwa limbah pasar di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum belum terkelola secara optimal.

Sampah yang tidak tertangani berpotensi ditumpuk atau dibuang begitu saja. Kondisi tersebut tidak hanya menimbulkan persoalan bau, tetapi juga meningkatkan risiko terhadap kesehatan masyarakat.

Di sisi lain, Desa Sumbersari sebenarnya telah memiliki alur dasar pengelolaan sampah. Namun, kualitas pengomposan sebelumnya belum memiliki standar yang konsisten sehingga hasilnya belum optimal untuk dikembangkan sebagai produk yang dapat dipasarkan. 

Pemuda menjadi penggerak

Untuk menjawab persoalan tersebut, compost tumbler digunakan sebagai salah satu teknologi pengolahan. Sistem ini menggunakan drum horizontal tertutup yang dapat diputar secara mekanis dan dilengkapi ventilasi pasif.

Baca juga: Dukung Ekonomi Sirkular, Peruri Sulap Limbah Produksi Jadi Paving Block

Mekanisme tersebut membantu proses pencampuran bahan baku agar lebih merata sehingga pembusukan alami dapat berlangsung secara lebih terkontrol.

Dari proses tersebut, sampah organik diharapkan menghasilkan kompos berkualitas yang tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan lingkungan, tetapi juga dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi bagi pengelola. 

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau