Editor
Karang Taruna Bina Bakti kemudian menjadi salah satu aktor penting dalam keberlanjutan program. Para pemuda telah mendapatkan pelatihan teknis serta pendampingan terkait Standar Operasional Prosedur (SOP).
Pelatihan mencakup cara mengoperasikan sistem, melakukan pencatatan harian, hingga menangani kemungkinan kendala teknis pada mesin.
Baca juga: Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
Selain aspek teknis, pendampingan juga dilakukan dari sisi kelembagaan. Hal ini dilakukan agar pengelolaan fasilitas dapat terus berjalan dengan melibatkan pemerintah desa.
Program tersebut juga melibatkan sejumlah akademisi dari berbagai bidang. Dr Kartika Hajar Kirana dari Unpad berfokus pada aspek lingkungan dan praktik pengomposan.
Sementara itu, Husneni Mukhtar, PhD dari Tel-U menangani aspek kelistrikan, mekanisme pendukung alat, serta kelayakan teknologi tepat guna.
Kolaborasi lintas disiplin tersebut tidak hanya ditujukan untuk menyelesaikan persoalan sampah di Desa Sumbersari. Program juga menjadi ruang bagi mahasiswa dari kedua perguruan tinggi untuk belajar sekaligus terlibat dalam penyelesaian persoalan lingkungan yang terjadi di masyarakat.
Baca juga: Ekonomi Sirkular dari Pesisir Jakarta...
Ke depan, tim gabungan akan melakukan pemantauan rutin terhadap pengoperasian fasilitas pengolahan sampah tersebut. Data operasional harian akan digunakan untuk melihat jumlah sampah yang berhasil direduksi sekaligus memantau konsistensi kualitas kompos.
Dengan pendekatan tersebut, pengelolaan sampah diharapkan tidak berhenti pada upaya mengurangi limbah. Lebih jauh, sampah dapat masuk kembali ke dalam siklus pemanfaatan dan membuka peluang pendapatan tambahan bagi masyarakat Desa Sumbersari.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya