KOMPAS.com - Sektor kesehatan global menyumbang sekitar 5 persen dari total emisi gas rumah kaca di bumi. Produk obat-obatan menyumbang porsi yang cukup besar melalui proses pembuatan, penyaluran, penggunaan, hingga pembuangannya.
Menurut WHO, emisi dari sektor farmasi melonjak hingga 77 persen antara tahun 1995 dan 2019.
Pada periode yang sama, emisi yang dihasilkan dari tingkat konsumsi obat-obatan masyarakat dunia juga naik sebesar 49 persen.
Hal ini membuat industri obat-obatan menghadapi dua tekanan sekaligus yakni jejak karbon mereka yang terus membengkak dan kerentanan mereka terhadap dampak perubahan iklim. Di sisi lain cuaca ekstrem, kelangkaan sumber daya, dan gangguan rantai pasokan dapat mengancam produksi obat serta akses pasien untuk membelinya.
Melansir Sustainability Magazine, Sabtu (8/8/2026) itu mengapa kemudian WHO menerbitkan panduan industri global ini pada tahun 2026.
Dokumen yang diberi judul "Towards a greener pharmaceuticals' regulatory highway: a framework for regulators as enablers of decarbonisation" ini merupakan hasil akhir dari proses penyusunan yang sudah dimulai sejak tahun 2024.
Baca juga: Peringatan WHO: 92 Persen Populasi Global Akan Terdampak Kanker
Panduan ini disusun berdasarkan berbagai data dari penelitian ilmiah, diskusi dengan pihak-pihak terkait, pemantauan tren ke depan, serta hasil musyawarah di KTT Pengawas Global WHO pada bulan Juni 2026.
Kerangka kerja farmasi baru dari WHO tersebut bertujuan untuk membantu lembaga pengawas mengurangi emisi industri obat-obatan, sekaligus memperkuat inovasi, ketahanan pasokan, dan akses obat bagi pasien.
Dr. Rogério Gaspar, Direktur Departemen Regulasi dan Prakualifikasi WHO, sangat yakin bahwa perubahan menuju industri obat yang ramah lingkungan ini sangat mungkin untuk diwujudkan.
"Pertanyaannya bukan lagi apakah penurunan emisi karbon di industri obat itu memungkinkan atau tidak. Tantangan sebenarnya adalah seberapa cepat dan adil kita bisa mewujudkannya," ujar Rogério.
Kerangka kerja ini menunjukkan bagaimana lembaga pengawas obat dapat menciptakan ruang bagi lahirnya inovasi baru, tanpa sedikit pun menurunkan standar kualitas, keamanan, dan keampuhan obat.
"Dengan memaksimalkan aturan yang sudah ada, lembaga pengawas dapat membantu menciptakan sistem farmasi yang lebih ramah lingkungan demi kebaikan manusia dan bumi," kata Rogério.
Kerangka kerja ini berjalan melalui tiga pilar utama, yaitu edukasi, standar aturan, dan inovasi regulasi.
Pilar pertama berfokus pada peningkatan pemahaman tentang isu iklim di kalangan lembaga pengawas obat.
Prinsip ramah lingkungan akan dimasukkan ke dalam program pelatihan regulasi yang sudah ada. Langkah ini bertujuan untuk membantu lembaga pengawas mengenali sumber emisi terbesar dari produk obat-obatan dan rantai pasokannya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya