Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin

Kompas.com, 13 Agustus 2026, 11:02 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Indonesia memiliki lebih dari 3.000 spesies tumbuhan yang diketahui berpotensi dimanfaatkan sebagai pangan. Namun, baru sekitar 200 spesies yang telah didomestikasi atau dikembangkan sebagai tanaman pangan.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Wawan Sujarwo mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan besarnya potensi keanekaragaman hayati Indonesia yang belum dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung sistem pangan.

Ironisnya, sebagian besar komoditas pangan utama yang dikonsumsi masyarakat Indonesia saat ini bukan merupakan tanaman asli Nusantara.

Baca juga: Meski Kemarau Panjang, Stok Pangan Jawa Barat Diklaim Aman hingga Ramadhan 2027

Tanaman seperti jagung, singkong, dan tomat, misalnya, berasal dari kawasan Amerika Latin. Namun, tanaman-tanaman tersebut telah melalui proses naturalisasi selama ratusan tahun sehingga kini menjadi bagian dari pangan dan pertanian Indonesia.

"Sebagian besar bahan pangan dan tanaman komersial di Indonesia justru berasal dari negara lain, seperti yang tadi saya ungkapkan jagung, singkong, tomat. Tapi meskipun itu sudah native-nya atau origin-nya bukan merupakan dari kawasan kita, kalau istilah yang sering kita gunakan kan naturalisasi," ujar Wawan dalam webinar, dilansir Rabu (12/8/2026).

Menurut Wawan, kondisi tersebut seharusnya menjadi momentum untuk kembali menggali potensi tanaman asli Indonesia yang selama ini belum banyak dikembangkan sebagai sumber pangan.

Potensi pangan dari berbagai wilayah

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Dengan luas daratan sekitar 1,9 juta kilometer persegi dan wilayah laut sekitar 6 juta kilometer persegi, Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 25 persen dari total spesies tumbuhan dunia.

Potensi tersebut juga telah tercatat dalam berbagai sumber sejarah.

Di Jawa, misalnya, Serat Centhini mencatat lebih dari 300 spesies tumbuhan. Sementara relief Candi Borobudur menggambarkan berbagai jenis flora yang dimanfaatkan masyarakat pada masa itu, salah satunya nyamplung (Calophyllum inophyllum).

Dokumentasi mengenai kekayaan flora Nusantara juga dilakukan Georg Eberhard Rumphius, naturalis asal Jerman yang bekerja untuk Verenigde Oostindische Compagnie (VOC). Pada abad ke-17, Rumphius menyusun Herbarium Amboinense, salah satu karya penting yang mendokumentasikan tumbuhan di wilayah Indonesia.

Wawan mengatakan, potensi tanaman pangan Indonesia juga berbeda-beda sesuai dengan kondisi geografis dan iklim setiap wilayah.

Jawa dan Sumatera, misalnya, memiliki potensi besar pada komoditas padi, sayuran, dan rempah-rempah. Papua memiliki kekayaan umbi-umbian dan sagu yang dapat menjadi sumber karbohidrat.

Sementara itu, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan karakter iklim yang lebih kering memiliki potensi untuk mengembangkan sorgum dan berbagai tanaman yang tahan terhadap kekeringan.

Adapun Kalimantan dan Sulawesi memiliki potensi pada padi ladang, rotan, bambu, serta berbagai buah-buahan hutan.

"Indonesia merupakan bagian dari kawasan yang menjadi tempat awal domestikasi padi bersama dengan negara tetangga-tetangga kita sebenarnya. Seperti yang tadi saya ungkapkan bahwa sebenarnya kita masih masuk dalam satu area persebaran untuk center of origin-nya," tutur Wawan.

Baca juga: Ampas Kopi Gayo Disulap jadi Kemasan Pangan Ramah Lingkungan

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
LSM/Figur
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Pemerintah
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Pemerintah
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
LSM/Figur
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau