KOMPAS.com - Data terbaru dari Lembaga Nasional untuk Penelitian Luar Angkasa Brasil (Inpe) melalui Sistem Deteksi Deforestasi Real-Time (Deter) menunjukkan bahwa pada tahun 2026, luas wilayah Hutan Amazon yang terkena peringatan pembalakan liar mencapai 2.874 kilometer persegi.
Angka tersebut turun lebih dari sepertiga dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 4.495 kilometer persegi.
Baca juga: Peta Global Ungkap Beban Berat Hutan dan Biodiversitas Akibat Tambang
Melansir Edie, Senin (10/8/2026) data Deter ini dihitung selama periode 12 bulan, dari Agustus 2025 hingga Juli 2026.
Inpe menyatakan bahwa data baru ini meningkatkan peluang Brasil untuk mencetak rekor penurunan angka deforestasi saat data akhir dirilis dalam beberapa bulan ke depan. Angka ini menjadi yang terendah sejak tahun 2016, saat pencatatan sistem Deter dimulai.
Sistem Deter sendiri menggunakan citra satelit yang hampir secara langsung untuk memandu inspeksi lingkungan oleh lembaga lingkungan hidup pemerintah Brasil.
Karena resolusinya yang rendah, total pasti luas area yang terdeforestasi nantinya akan dihitung oleh sistem Inpe lainnya, yaitu Prodes.
Selama masa jabatan ketiga Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva, luas area Hutan Amazon yang terkena peringatan kerusakan mencapai 19.642 km persegi. Angka ini turun 41 persen dibandingkan periode 2019–2022.
Separuh dari total emisi karbon Brasil berasal dari perusakan hutan. Menurut Sistem Perkiraan Emisi Gas Rumah Kaca, sebuah inisiatif dari LSM Brasil Observatório do Clima, penurunan kerusakan hutan ini berhasil mencegah terlepasnya 2.238 miliar ton CO2, jumlah yang setara dengan total emisi kotor seluruh negara Brasil dalam setahun.
Baca juga: Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
“Angka-angka yang ditunjukkan hari ini adalah sejarah, hasil dari kebijakan perlindungan lingkungan yang serius, dan membuktikan bahwa komitmen negara untuk menghentikan serta memulihkan pembalakan hutan pada 2030 sangat mungkin dicapai," ungkap Marco Astrini, Sekretaris Eksekutif Observatório do Clima.
“Penurunan angka deforestasi ini adalah warisan lingkungan terbesar dari pemerintahan Lula dan salah satu kontribusi terbesar bagi penanganan iklim dunia dalam beberapa tahun terakhir. Meski begitu, penghentian total perusakan hutan baru bisa terwujud jika ada perubahan besar di Parlemen, serta diselesaikannya perbedaan pendapat di internal pemerintah sendiri,” tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya