Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Adopsi AI Meningkat, Para CEO Pertimbangkan Pengurangan Tenaga Kerja

Kompas.com, 14 Agustus 2026, 20:12 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber esgdive

KOMPAS.com - Laporan dari platform tunjangan karyawan, Businessolver menyebut seiring adopsi kecerdasan buatan (AI) yang meningkat, para CEO mulai mempertimbangkan untuk melakukan pengurangan karyawan.

Kesimpulan didapat setelah menganalisis respons dari 300 eksekutif tingkat atas dan 1000 karyawan.

Melansir ESG Dive, Rabu (12/8/2026) meskipun perusahaan terus berencana menekan biaya operasional dengan mengadopsi AI, hampir separuh pekerja mengaku tidak mendapatkan pelatihan AI yang memadai dari tempat mereka bekerja.

Akibatnya, hampir 4 dari 10 pekerja merasa khawatir akan masa depan karier mereka di perusahaan, menandakan kian meningkatnya kecemasan karyawan seiring diterapkannya teknologi ini.

Baca juga: Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI

"Beberapa bisnis memilih pengurangan karyawan demi menyenangkan para investor, sebuah langkah yang dinilai tidak akan bertahan lama. Dampak buruk di balik keputusan itu adalah rusaknya budaya kerja dan hilangnya rasa percaya," ungkap Marcy Klipfel, Chief Engagement Officer di Businessolver.

Keuntungan ekonomi menjadi alasan utama mengapa banyak perusahaan ingin memperluas penggunaan AI. Sebab, sistem otomatis ini membuat perusahaan bisa menghasilkan lebih banyak hal dengan sumber daya yang lebih sedikit.

Namun, kecemasan terkait biaya kini makin meningkat. Pada beberapa kondisi, penggunaan AI justru bisa lebih mahal daripada mempekerjakan manusia. Di sisi lain, perusahaan juga sering kali kesulitan memantau total biaya yang keluar untuk AI.

Minim keahlian

Minimnya keahlian AI di kalangan pekerja juga menjadi ancaman bagi keberhasilan rencana perusahaan. Meski penggunaan AI sudah umum di kalangan profesional, data dari CompTIA menunjukkan bahwa kurang dari sepertiga pekerja yang benar-benar paham dan mahir menggunakan alat-alat AI.

Selain itu, tingkat kepercayaan terhadap hasil buatan AI masih tertinggal dibanding kecepatan penerapannya. Laporan dari Tether menemukan bahwa para pengguna masih meragukan keakuratan dan keandalan AI, serta merasa cemas akan privasi dan pengumpulan data pribadi mereka.

Di tengah krisis kepercayaan terhadap AI, data Businessolver menemukan bahwa program pelatihan AI dari perusahaan justru bisa mempercepat kenaikan karier, serta membuat karyawan lebih percaya diri dan optimistis.

Baca juga: Peneliti Usulkan Cara Baru Hitung Emisi Gas Rumah Kaca AI, Seperti Apa?

Klipfel menyatakan bahwa para pimpinan perusahaan bertanggung jawab untuk membangun budaya kerja yang tepat seiring berkembangnya penggunaan AI.

“Kita semua perlu bekerja sama mencari cara terbaik memanfaatkan AI untuk memperbaiki kualitas hidup, mempermudah pekerjaan, dan memberikan layanan yang lebih baik kepada pelanggan karena kita bekerja lebih efisien,” kata Klipfel.

Pimpinan tim IT juga disarankan untuk memperkuat kerja sama antardivisi karena teknologi AI kini menyentuh hampir semua proses kerja di perusahaan.

“Ini adalah kesempatan bagus untuk mendorong kolaborasi antara tim IT dengan divisi HR, tim produk, atau bagian mana pun yang menerapkan AI,” lanjut Klipfel.

Namun, sebelum itu, para pimpinan harus menyusun kesepakatan kerja terkait penggunaan AI untuk menentukan standar dan batasan aman dalam penerapannya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hilirisasi Mineral Dorong Ekonomi ke Daerah, tetapi Manfaatnya Belum Merata
Hilirisasi Mineral Dorong Ekonomi ke Daerah, tetapi Manfaatnya Belum Merata
Pemerintah
Adopsi AI Meningkat, Para CEO Pertimbangkan Pengurangan Tenaga Kerja
Adopsi AI Meningkat, Para CEO Pertimbangkan Pengurangan Tenaga Kerja
LSM/Figur
Studi Ungkap Garam Laut dari Pulau Lombok Terkontaminasi Mikroplastik
Studi Ungkap Garam Laut dari Pulau Lombok Terkontaminasi Mikroplastik
Pemerintah
Populasi Gajah Sumatera Tersisa 900-1.350 Ekor, Kemenhut Susun Strategi Konservasi
Populasi Gajah Sumatera Tersisa 900-1.350 Ekor, Kemenhut Susun Strategi Konservasi
Pemerintah
Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Kebakaran Meluas di TNBTS
Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Kebakaran Meluas di TNBTS
LSM/Figur
Tak Sekadar Bantu Ekonomi, TJSL PLN Dorong Nelayan Jaga Laut dan Buka Lapangan Kerja
Tak Sekadar Bantu Ekonomi, TJSL PLN Dorong Nelayan Jaga Laut dan Buka Lapangan Kerja
BUMN
Jejak 18 Tahun, Ketika Kebiasaan Sehat Menjadi Warisan bagi Generasi Indonesia
Jejak 18 Tahun, Ketika Kebiasaan Sehat Menjadi Warisan bagi Generasi Indonesia
Swasta
CKG Ungkap 1 dari 3 Pelajar di Indonesia Alami Anemia, Remaja Putra Juga Tinggi
CKG Ungkap 1 dari 3 Pelajar di Indonesia Alami Anemia, Remaja Putra Juga Tinggi
Pemerintah
Microsoft Manfaatkan Teknologi Bioakustik AI untuk Konservasi Paus
Microsoft Manfaatkan Teknologi Bioakustik AI untuk Konservasi Paus
Pemerintah
Kemenkes: Gejala Cemas dan Depresi Anak Meningkat Seiring Usia, Tertinggi di Jenjang SMA
Kemenkes: Gejala Cemas dan Depresi Anak Meningkat Seiring Usia, Tertinggi di Jenjang SMA
Pemerintah
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
LSM/Figur
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Pemerintah
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
LSM/Figur
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Pemerintah
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau