KOMPAS.com - Laporan dari platform tunjangan karyawan, Businessolver menyebut seiring adopsi kecerdasan buatan (AI) yang meningkat, para CEO mulai mempertimbangkan untuk melakukan pengurangan karyawan.
Kesimpulan didapat setelah menganalisis respons dari 300 eksekutif tingkat atas dan 1000 karyawan.
Melansir ESG Dive, Rabu (12/8/2026) meskipun perusahaan terus berencana menekan biaya operasional dengan mengadopsi AI, hampir separuh pekerja mengaku tidak mendapatkan pelatihan AI yang memadai dari tempat mereka bekerja.
Akibatnya, hampir 4 dari 10 pekerja merasa khawatir akan masa depan karier mereka di perusahaan, menandakan kian meningkatnya kecemasan karyawan seiring diterapkannya teknologi ini.
Baca juga: Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
"Beberapa bisnis memilih pengurangan karyawan demi menyenangkan para investor, sebuah langkah yang dinilai tidak akan bertahan lama. Dampak buruk di balik keputusan itu adalah rusaknya budaya kerja dan hilangnya rasa percaya," ungkap Marcy Klipfel, Chief Engagement Officer di Businessolver.
Keuntungan ekonomi menjadi alasan utama mengapa banyak perusahaan ingin memperluas penggunaan AI. Sebab, sistem otomatis ini membuat perusahaan bisa menghasilkan lebih banyak hal dengan sumber daya yang lebih sedikit.
Namun, kecemasan terkait biaya kini makin meningkat. Pada beberapa kondisi, penggunaan AI justru bisa lebih mahal daripada mempekerjakan manusia. Di sisi lain, perusahaan juga sering kali kesulitan memantau total biaya yang keluar untuk AI.
Minimnya keahlian AI di kalangan pekerja juga menjadi ancaman bagi keberhasilan rencana perusahaan. Meski penggunaan AI sudah umum di kalangan profesional, data dari CompTIA menunjukkan bahwa kurang dari sepertiga pekerja yang benar-benar paham dan mahir menggunakan alat-alat AI.
Selain itu, tingkat kepercayaan terhadap hasil buatan AI masih tertinggal dibanding kecepatan penerapannya. Laporan dari Tether menemukan bahwa para pengguna masih meragukan keakuratan dan keandalan AI, serta merasa cemas akan privasi dan pengumpulan data pribadi mereka.
Di tengah krisis kepercayaan terhadap AI, data Businessolver menemukan bahwa program pelatihan AI dari perusahaan justru bisa mempercepat kenaikan karier, serta membuat karyawan lebih percaya diri dan optimistis.
Baca juga: Peneliti Usulkan Cara Baru Hitung Emisi Gas Rumah Kaca AI, Seperti Apa?
Klipfel menyatakan bahwa para pimpinan perusahaan bertanggung jawab untuk membangun budaya kerja yang tepat seiring berkembangnya penggunaan AI.
“Kita semua perlu bekerja sama mencari cara terbaik memanfaatkan AI untuk memperbaiki kualitas hidup, mempermudah pekerjaan, dan memberikan layanan yang lebih baik kepada pelanggan karena kita bekerja lebih efisien,” kata Klipfel.
Pimpinan tim IT juga disarankan untuk memperkuat kerja sama antardivisi karena teknologi AI kini menyentuh hampir semua proses kerja di perusahaan.
“Ini adalah kesempatan bagus untuk mendorong kolaborasi antara tim IT dengan divisi HR, tim produk, atau bagian mana pun yang menerapkan AI,” lanjut Klipfel.
Namun, sebelum itu, para pimpinan harus menyusun kesepakatan kerja terkait penggunaan AI untuk menentukan standar dan batasan aman dalam penerapannya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya