Penulis
KOMPAS.com – Hak atas akses kesehatan setara masih menjadi tantangan mendasar di wilayah kepulauan dan kawasan timur Indonesia.
Kesenjangan fasilitas medis, tingginya biaya tindakan, hingga minimnya keterjangkauan teknologi kesehatan kerap membuat penanganan penyakit kronis, termasuk gangguan penglihatan berat.
Salah satu fakta memprihatinkan terlihat pada kasus kebutaan akibat kerusakan kornea. Data tim medis mencatat, terdapat estimasi 200 ribu hingga 250 ribu pasien di Indonesia yang menantikan transplantasi kornea.
Sayangnya, kapasitas tindakan nasional saat ini baru mampu melayani sekitar 100 hingga 200 operasi saja per tahunnya. Mengubah ketimpangan ini membutuhkan intervensi strategis dan penguatan layanan rujukan regional di kawasan timur.
Menjawab tantangan tersebut, Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, resmi membuka bakti sosial operasi transplantasi kornea dan katarak bertajuk "Melihat adalah Anugerah" di RSUD dr. H. Chasan Boesoirie, Ternate, Selasa (4/8/2026).
Program yang berlangsung pada 3–7 Agustus 2026 ini mencatat sejarah sebagai layanan transplantasi kornea pertama yang digelar di kawasan Indonesia Timur, dengan PT Erlangga Edi Laboratories (Erela) sebagai mitra bersama Duke Global Ophthalmology dan dokter spesialis mata Universitas Gadjah Mada (UGM).
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Provinsi Maluku Utara, Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA), RSUP Dr. Sardjito Kementerian Kesehatan, PT Erlangga Edi Laboratories (Erela), Duke Global Ophthalmology (Duke GO), Departemen Ilmu Kesehatan Mata FKKMK UGM, serta Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami).
Dalam sambutan, Sarbin Sehe menyampaikan apresiasi kepada UGM, PT Erela, dan seluruh pihak terlibat, serta menginstruksikan Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara mengawal jalannya kegiatan.
Ia berharap program ini memperkuat posisi RSUD Chasan Boesoirie sebagai pusat rujukan layanan kesehatan mata di kawasan timur Indonesia dan dapat berlanjut secara berkelanjutan.
Presiden Direktur PT Erela, Lily Radite Handojo menyampaikan, keterlibatan perusahaan merupakan wujud komitmen jangka panjang mendukung perluasan akses layanan kesehatan mata, termasuk di Maluku Utara.
Ia menegaskan program ini bukan sekadar inisiatif CSR, melainkan kolaborasi nyata berbagai pihak untuk menghadirkan layanan kesehatan yang lebih maju dan merata di kawasan timur Indonesia.
Tim medis dalam kegiatan ini diperkuat oleh pakar kornea asal Amerika Serikat, Prof. Lloyd Williams yang juga menjabat Direktur Duke Global Ophthalmology.
Williams memaparkan kebutuhan transplantasi kornea di Indonesia jauh melampaui kapasitas layanan tersedia, dengan estimasi 200-250 ribu pasien masih mengantre, sementara jumlah operasi yang berhasil dilakukan setiap tahun hanya berkisar 100 hingga 200 tindakan.
Ia menjelaskan kebutaan akibat kerusakan kornea, seperti pseudophakic bullous keratopathy, tidak hanya menghilangkan penglihatan tetapi juga menimbulkan rasa sakit berkepanjangan sehingga transplantasi kornea berperan ganda: mengembalikan penglihatan sekaligus menghilangkan nyeri.
Kepala Departemen Ilmu Kesehatan Mata FKKMK UGM, dr. Muhammad Bayu Sasongk menyebut terdapat sekitar 200 ribu kasus kebutaan akibat gangguan kornea di Indonesia yang membutuhkan penanganan.
Tantangan utama, menurutnya, bukan lagi pada teknik operasi, melainkan pada minimnya donor kornea dan tingginya biaya bahan medis habis pakai.
Ia menambahkan, kemajuan teknologi bedah kini memungkinkan prosedur dilakukan dengan anestesi lokal, jauh lebih aman dari yang selama ini dibayangkan masyarakat, meski mitos seputar donor kornea masih menjadi hambatan meski sudah mendapat dukungan berbagai organisasi keagamaan.
Melalui sinergi erat antara pemerintah daerah, akademisi, dan sektor industri, pembentukan pusat rujukan kesehatan mata mandiri dan terjangkau di luar Pulau Jawa bukan lagi hal mustahil.
Langkah kolektif ini sekaligus menjadi pengingat bahwa upaya mewujudkan pemerataan akses kesehatan adalah pilar kunci dalam membangun sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas dan inklusif.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya