Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pangkas Kesenjangan, Operasi Transplantasi Kornea Pertama Resmi Digelar di Ternate

Kompas.com, 15 Agustus 2026, 11:14 WIB
Yohanes Enggar Harususilo

Penulis

KOMPAS.com – Hak atas akses kesehatan setara masih menjadi tantangan mendasar di wilayah kepulauan dan kawasan timur Indonesia.

Kesenjangan fasilitas medis, tingginya biaya tindakan, hingga minimnya keterjangkauan teknologi kesehatan kerap membuat penanganan penyakit kronis, termasuk gangguan penglihatan berat.

Salah satu fakta memprihatinkan terlihat pada kasus kebutaan akibat kerusakan kornea. Data tim medis mencatat, terdapat estimasi 200 ribu hingga 250 ribu pasien di Indonesia yang menantikan transplantasi kornea.

Sayangnya, kapasitas tindakan nasional saat ini baru mampu melayani sekitar 100 hingga 200 operasi saja per tahunnya. Mengubah ketimpangan ini membutuhkan intervensi strategis dan penguatan layanan rujukan regional di kawasan timur.

Menjawab tantangan tersebut, Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, resmi membuka bakti sosial operasi transplantasi kornea dan katarak bertajuk "Melihat adalah Anugerah" di RSUD dr. H. Chasan Boesoirie, Ternate, Selasa (4/8/2026).

Program yang berlangsung pada 3–7 Agustus 2026 ini mencatat sejarah sebagai layanan transplantasi kornea pertama yang digelar di kawasan Indonesia Timur, dengan PT Erlangga Edi Laboratories (Erela) sebagai mitra bersama Duke Global Ophthalmology dan dokter spesialis mata Universitas Gadjah Mada (UGM).

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Provinsi Maluku Utara, Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA), RSUP Dr. Sardjito Kementerian Kesehatan, PT Erlangga Edi Laboratories (Erela), Duke Global Ophthalmology (Duke GO), Departemen Ilmu Kesehatan Mata FKKMK UGM, serta Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami).

Dalam sambutan, Sarbin Sehe menyampaikan apresiasi kepada UGM, PT Erela, dan seluruh pihak terlibat, serta menginstruksikan Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara mengawal jalannya kegiatan.

Ia berharap program ini memperkuat posisi RSUD Chasan Boesoirie sebagai pusat rujukan layanan kesehatan mata di kawasan timur Indonesia dan dapat berlanjut secara berkelanjutan.

Presiden Direktur PT Erela, Lily Radite Handojo menyampaikan, keterlibatan perusahaan merupakan wujud komitmen jangka panjang mendukung perluasan akses layanan kesehatan mata, termasuk di Maluku Utara.

Ia menegaskan program ini bukan sekadar inisiatif CSR, melainkan kolaborasi nyata berbagai pihak untuk menghadirkan layanan kesehatan yang lebih maju dan merata di kawasan timur Indonesia.

Tim medis dalam kegiatan ini diperkuat oleh pakar kornea asal Amerika Serikat, Prof. Lloyd Williams yang juga menjabat Direktur Duke Global Ophthalmology.

Williams memaparkan kebutuhan transplantasi kornea di Indonesia jauh melampaui kapasitas layanan tersedia, dengan estimasi 200-250 ribu pasien masih mengantre, sementara jumlah operasi yang berhasil dilakukan setiap tahun hanya berkisar 100 hingga 200 tindakan.

Ia menjelaskan kebutaan akibat kerusakan kornea, seperti pseudophakic bullous keratopathy, tidak hanya menghilangkan penglihatan tetapi juga menimbulkan rasa sakit berkepanjangan sehingga transplantasi kornea berperan ganda: mengembalikan penglihatan sekaligus menghilangkan nyeri.

Kepala Departemen Ilmu Kesehatan Mata FKKMK UGM, dr. Muhammad Bayu Sasongk menyebut terdapat sekitar 200 ribu kasus kebutaan akibat gangguan kornea di Indonesia yang membutuhkan penanganan.

Tantangan utama, menurutnya, bukan lagi pada teknik operasi, melainkan pada minimnya donor kornea dan tingginya biaya bahan medis habis pakai.

Ia menambahkan, kemajuan teknologi bedah kini memungkinkan prosedur dilakukan dengan anestesi lokal, jauh lebih aman dari yang selama ini dibayangkan masyarakat, meski mitos seputar donor kornea masih menjadi hambatan meski sudah mendapat dukungan berbagai organisasi keagamaan.

Baca juga: Dihadiri 25.000 Buruh, Puncak May Day 2026 di Tangerang Diisi Memancing 5 Ton Ikan hingga Bakti Sosial

Melalui sinergi erat antara pemerintah daerah, akademisi, dan sektor industri, pembentukan pusat rujukan kesehatan mata mandiri dan terjangkau di luar Pulau Jawa bukan lagi hal mustahil.

Langkah kolektif ini sekaligus menjadi pengingat bahwa upaya mewujudkan pemerataan akses kesehatan adalah pilar kunci dalam membangun sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas dan inklusif.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pangkas Kesenjangan, Operasi Transplantasi Kornea Pertama Resmi Digelar di Ternate
Pangkas Kesenjangan, Operasi Transplantasi Kornea Pertama Resmi Digelar di Ternate
Swasta
Studi: Memanen Air Hujan dari Atap Jadi Solusi Atasi Suhu Ekstrem di Perkotaan
Studi: Memanen Air Hujan dari Atap Jadi Solusi Atasi Suhu Ekstrem di Perkotaan
Pemerintah
Pembangkit Listrik Tenaga Angin Didorong Pakai Teknologi Perlindungan Satwa
Pembangkit Listrik Tenaga Angin Didorong Pakai Teknologi Perlindungan Satwa
Pemerintah
Pengetahuan Jadi Bekal Petani dan Perajin Pangan untuk Lebih Mandiri
Pengetahuan Jadi Bekal Petani dan Perajin Pangan untuk Lebih Mandiri
Swasta
Sistem Kesehatan Asia Pasifik Hadapi Tekanan Ganda dari Perubahan Iklim dan AI
Sistem Kesehatan Asia Pasifik Hadapi Tekanan Ganda dari Perubahan Iklim dan AI
Pemerintah
Emisi NOx Indonesia Naik 50 Persen, Hotspot Polusi Tersebar hingga Kawasan Hilirisasi
Emisi NOx Indonesia Naik 50 Persen, Hotspot Polusi Tersebar hingga Kawasan Hilirisasi
LSM/Figur
Hilirisasi Mineral Dorong Ekonomi ke Daerah, tetapi Manfaatnya Belum Merata
Hilirisasi Mineral Dorong Ekonomi ke Daerah, tetapi Manfaatnya Belum Merata
Pemerintah
Adopsi AI Meningkat, Para CEO Pertimbangkan Pengurangan Tenaga Kerja
Adopsi AI Meningkat, Para CEO Pertimbangkan Pengurangan Tenaga Kerja
LSM/Figur
Studi Ungkap Garam Laut dari Pulau Lombok Terkontaminasi Mikroplastik
Studi Ungkap Garam Laut dari Pulau Lombok Terkontaminasi Mikroplastik
Pemerintah
Populasi Gajah Sumatera Tersisa 900-1.350 Ekor, Kemenhut Susun Strategi Konservasi
Populasi Gajah Sumatera Tersisa 900-1.350 Ekor, Kemenhut Susun Strategi Konservasi
Pemerintah
Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Kebakaran Meluas di TNBTS
Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Kebakaran Meluas di TNBTS
LSM/Figur
Tak Sekadar Bantu Ekonomi, TJSL PLN Dorong Nelayan Jaga Laut dan Buka Lapangan Kerja
Tak Sekadar Bantu Ekonomi, TJSL PLN Dorong Nelayan Jaga Laut dan Buka Lapangan Kerja
BUMN
Jejak 18 Tahun, Ketika Kebiasaan Sehat Menjadi Warisan bagi Generasi Indonesia
Jejak 18 Tahun, Ketika Kebiasaan Sehat Menjadi Warisan bagi Generasi Indonesia
Swasta
CKG Ungkap 1 dari 3 Pelajar di Indonesia Alami Anemia, Remaja Putra Juga Tinggi
CKG Ungkap 1 dari 3 Pelajar di Indonesia Alami Anemia, Remaja Putra Juga Tinggi
Pemerintah
Microsoft Manfaatkan Teknologi Bioakustik AI untuk Konservasi Paus
Microsoft Manfaatkan Teknologi Bioakustik AI untuk Konservasi Paus
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau