Editor
KOMPAS.com - Bertani bukan sekadar menanam, merawat tanaman, kemudian menunggu masa panen. Di balik setiap musim tanam, ada berbagai keputusan yang menentukan apakah usaha tersebut dapat terus berjalan.
Petani perlu memahami berapa biaya yang dikeluarkan, berapa hasil yang diperoleh, hingga bagaimana meningkatkan produktivitas tanpa membuat biaya produksi semakin besar.
Dengan kata lain, kemampuan teknis bertani perlu berjalan beriringan dengan pengetahuan mengelola usaha.
Hal ini menjadi penting ketika kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian masih menghadapi tantangan.
Baca juga: Petani Ngawi Panen 3 Kali Setahun, Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen
Data Analisis Kesejahteraan Petani 2025 yang diterbitkan Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian berdasarkan data Susenas BPS mencatat sekitar 9,03 juta anggota rumah tangga tani berada di bawah garis kemiskinan pada 2025. Jumlah tersebut setara 12,54 persen dari seluruh anggota rumah tangga tani.
Sementara itu, sekitar 2,93 juta anggota rumah tangga buruh tani juga berada di bawah garis kemiskinan.
Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan pertanian bukan hanya soal produksi pangan, tetapi juga menyangkut kemampuan ekonomi masyarakat yang hidup di dalamnya.
Karena itu, pemberdayaan tidak selalu harus dimulai dari pemberian bantuan. Membekali pelaku pertanian dengan pengetahuan yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan juga menjadi bagian penting dari upaya membangun kemandirian.
Baca juga: Petani di Sekitar TNGHS Dapat Pendampingan Kelola Lahan Berkelanjutan dari IPB
Gagasan mengenai pentingnya pengetahuan tersebut menjadi perhatian Bryan Budiman ketika kembali ke Indonesia.
Bryan merupakan lulusan Industrial Design dan Entrepreneurship dari University of Washington, Seattle. Selama berada di Amerika Serikat, ia juga mendapat pengalaman bekerja di The Walt Disney Company serta terlibat dalam berbagai proyek kewirausahaan.
Pada 2020, Bryan kembali ke Indonesia untuk membantu bisnis keluarganya yang terdampak pandemi. Setelah kembali ke Amerika untuk menyelesaikan pendidikan, ia kemudian pulang ke Yogyakarta pada 2023 dan mengambil alih pengembangan bisnis keluarga secara penuh.
Pengalaman tersebut membentuk cara pandangnya dalam mengembangkan bisnis.
Melalui Aleeza Group, Bryan menaungi dua bisnis keluarga, yakni MAX Indonesia dan Podo Joyo. Ia menerapkan pendekatan yang disebut Business Design, menggunakan cara berpikir desain untuk memahami kebutuhan manusia, menemukan persoalan, dan merancang solusi yang relevan.
Bagi Bryan, desain bukan semata-mata tentang bagaimana membuat sebuah produk terlihat menarik.
Pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya justru ingin digunakan untuk membantu orang-orang di dalam ekosistem agrikultur dan pangan agar dapat mengambil keputusan yang lebih baik.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya