Editor
KOMPAS.com - Komunitas masyarakat Indonesia yang diprakarsai oleh MFI Association menyelenggarakan Festival Indonesia di Chiba Jepang, Minggu (9/8/2026).
Selain menjadi ruang bertemu bagi pekerja migran Indonesia (PMI) dan diaspora, kegiatan ini membuka ruang untuk mempererat kebersamaan sekaligus meningkatkan perhatian terhadap kehidupan masyarakat Indonesia selama berada di Jepang.
Festival Indonesia yang untuk pertama kalinya digelar di Chiba tersebut mempertemukan masyarakat Indonesia dan Jepang melalui seni, budaya, musik, kuliner, serta berbagai aktivitas interaktif.
Baca juga: Ekonomi Lesu, Rekrutmen Karyawan Keberlanjutan Ternyata Tetap Stabil
Selama dua hari penyelenggaraan di Chiba City Chuo Park, festival tersebut menarik hampir 15.000 pengunjung. Jumlah itu hampir tiga kali lipat dari proyeksi awal penyelenggara yang memperkirakan sekitar 5.000 pengunjung.
CEO MFI Association Mahmudi Fukumoto mengatakan, kegiatan tersebut diharapkan dapat mempererat persahabatan Indonesia dan Jepang melalui pertukaran seni dan budaya.
"Festival juga menjadi ruang bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di Jepang untuk berkumpul dan memperkuat kebersamaan," kata dia dalam keterangan resmi dikutip Minggu (16/8/2026).
Kehadiran ruang interaksi seperti ini dinilai penting karena masyarakat Indonesia di Jepang memiliki latar belakang yang beragam, mulai dari pekerja migran hingga diaspora yang telah lama menetap di Jepang.
Melalui pertemuan informal dan kegiatan bersama, masyarakat Indonesia dapat membangun jejaring yang lebih kuat sekaligus menjaga hubungan antarsesama di tengah kehidupan mereka di Jepang.
Selain membangun jejaring, keberadaan komunitas Indonesia di Jepang juga berkaitan dengan upaya menjaga hubungan baik dengan masyarakat setempat.
Counsellor (Pensosbud) KBRI Tokyo Iqbal Mohammad Amrullah mengatakan, hubungan Indonesia dan Jepang tidak hanya dibangun melalui hubungan antarpemerintah, tetapi juga melalui hubungan antarmasyarakat.
"Masyarakat Indonesia di Jepang diharapkan dapat menjaga persatuan, kekompakan, dan harmoni, sekaligus menghormati aturan yang berlaku di Jepang," jelas dia.
Hal tersebut menjadi semakin penting mengingat jumlah Warga Negara Indonesia (WNI) di Jepang mencapai 266.069 orang per Desember.
Dengan jumlah komunitas yang besar, perilaku dan kehidupan masyarakat Indonesia di Jepang turut berpengaruh terhadap citra Indonesia di mata masyarakat Jepang.
Tokyo Metropolitan Police juga memberikan perhatian terhadap keberadaan tenaga kerja migran Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, kepolisian mengingatkan pekerja migran Indonesia untuk menaati peraturan yang berlaku dan menjaga ketertiban dalam kehidupan bermasyarakat.
Baca juga: Perusahaan Ramai-Ramai Pecat Karyawan Gen Z yang Baru Bekerja, Ini Alasannya
Pesan tersebut menunjukkan bahwa penguatan komunitas diaspora tidak hanya berkaitan dengan kegiatan budaya, tetapi juga bagaimana masyarakat Indonesia dapat beradaptasi, memperoleh dukungan sosial, serta menjalani kehidupan secara aman dan harmonis di negara tempat mereka bekerja atau tinggal.
Festival Indonesia di Chiba kemudian menggunakan budaya sebagai medium untuk mempertemukan masyarakat Indonesia dan Jepang.
Sejumlah kesenian dari kedua negara ditampilkan dalam satu rangkaian acara, antara lain Taiko dan Yosakoi dari Jepang serta Reog Ponorogo dan berbagai tari tradisional Indonesia.
Pengunjung tidak hanya menjadi penonton. Mereka juga diberi kesempatan mencoba menabuh Taiko dan mengikuti tarian Yosakoi. Dalam pertunjukan Reog, pengunjung bahkan dapat mencoba menaikinya dengan pengawasan panitia.
Pertemuan semacam itu membuat pengenalan budaya berlangsung secara langsung. Masyarakat Jepang dapat mengenal budaya Indonesia, sementara masyarakat Indonesia juga memperoleh kesempatan berinteraksi dengan budaya dan masyarakat lokal Jepang.
Secretary-General Asian Productivity Organization Dr. Indra Pradana Singawinata menilai kegiatan semacam ini penting sebagai ruang silaturahmi sekaligus memperkenalkan budaya masing-masing negara.
Menurut dia, pertukaran budaya juga perlu disertai pengenalan nilai-nilai positif, seperti ketertiban dan keramahan.
Besarnya jumlah pengunjung menjadi salah satu gambaran tingginya minat masyarakat terhadap kegiatan yang mempertemukan budaya Indonesia dan Jepang.
Festival yang terbuka dan gratis tersebut tidak hanya dihadiri masyarakat Indonesia yang tinggal di Chiba dan sekitarnya, tetapi juga masyarakat Jepang yang datang untuk menikmati pertunjukan serta mengenal budaya Indonesia.
Baca juga: Komitmen Lindungi Kesehatan Karyawan, GNI Gelar Health Talk
Selama dua hari, jumlah pengunjung mencapai hampir 15.000 orang, jauh melampaui target awal sekitar 5.000 pengunjung.
Antusiasme tersebut juga terlihat dari tingginya permintaan terhadap produk kuliner Indonesia yang dijual selama festival.
Sejumlah tenant mengalami permintaan yang lebih tinggi dari perkiraan. Salah satu tenant bahkan menghabiskan stok makanan yang disiapkan untuk dua hari pada hari pertama sehingga harus kembali memproduksi makanan untuk memenuhi permintaan pada hari berikutnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kegiatan budaya juga dapat membuka ruang bagi pelaku usaha Indonesia untuk memperkenalkan produk sekaligus berinteraksi langsung dengan konsumen di Jepang.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya