KOMPAS.com - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyebut kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, sudah bisa dikendalikan.
Saat ini, Kemenhut melakukan tahapan pendinginan dan penyisiran area bekas terbakar (mopping up) di kawasan TNBTS untuk memastikan tidak ada bara atau titik api yang kembali memicu kebakaran.
Pendinginan difokuskan pada titik-titik yang masih berpotensi menyimpan panas agar bara benar-benar padam dan tidak kembali merambat ke bagian kawasan TNBTS yang belum terdampak.
Baca juga: Kebakaran Bromo Padam, 1.121,66 Hektare Wilayah Terdampak
Setelah hampir dua pekan operasi, Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan bersama dengan Balai Besar TNBTS, TNI-Polri, BPBD Jawa Timur, serta relawan, masih melakukan pemantauan dan pembasahan pada area bekas terbakar.
Kebakaran melanda vegetasi savana, cemara gunung, pakis, semak belukar, dan lapisan serasah yang cukup tebal. Kondisi tersebut memungkinkan bara bertahan meski kobaran api tidak lagi tampak.
Tim gabungan juga mewaspadai pusaran angin lokal (dust devil) yang bisa mengangkat material ringan dan berpotensi membawa bara ke area lain.
“Hampir dua pekan personel bekerja menghadapi medan dan kondisi kebakaran yang tidak mudah. Terkendalinya api bukan akhir dari pekerjaan. Fokus sekarang memastikan seluruh area bekas terbakar benar-benar aman dan tidak ada bara yang kembali menyala," ujar Direktur Pendayagunaan Sumber Daya dan Pengamanan Hutan, Suharyono, dilansir dari laman resmi Kemenhut, Selasa (18/8/2026).
Baca juga: Api Muncul Lagi di TNBTS, Satgas Karhutla Bromo Klaim Sudah Dipadamkan
Sementara itu, Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho mengatakan, ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) belum selesai, meski api di kawasan TNBTS sudah terkendali.
Ia menganggap, penanganan kebakaran di kawasan TNBTS kali ini memberikan pelajaran penting untuk memperkuat pencegahan karhutla menghadapi musim kemarau.
"Pencegahan harus diperkuat dari tingkat tapak dan pengelola kawasan perlu terus memperkuat keterlibatan masyarakat, bukan hanya dalam pencegahan kebakaran, melainkan pula pada aspek pengelolaan taman nasional," jelas dia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya