KOMPAS.com - Diversifikasi bisnis perusahaan batu bara di Indonesia masih berjalan terbatas dan tidak merata. Dari 13 produsen utama yang dianalisis, hanya dua perusahaan yang dinilai menunjukkan progres konkret dalam membangun bisnis non-batu bara dengan skala material.
Sementara itu, enam perusahaan lainnya dinilai masih berada pada tahap yang lebih banyak didominasi narasi diversifikasi tanpa diikuti pelaksanaan yang signifikan.
Temuan tersebut tercantum dalam laporan terbaru Energy Shift Institute (ESI) bertajuk Diversification Gap in Indonesia's Coal Sector.
Baca juga: Berbagai Tambang Batu Bara RI dengan Kapasitas 760 Juta Ton Berakhir Izinnya hingga 2035
ESI menilai diversifikasi bisnis menjadi semakin penting bagi perusahaan batu bara di tengah meningkatnya ketidakpastian prospek jangka panjang komoditas tersebut.
Meskipun kondisi pasar batu bara belakangan membaik, perusahaan masih menghadapi sejumlah risiko, mulai dari ketergantungan terhadap pasar ekspor utama, ketidakpastian kebijakan domestik, hingga tekanan biaya yang meningkat.
Senior Analyst ESI Idham Muhammad Fachri mengatakan, diversifikasi bisnis dapat menjadi respons struktural perusahaan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pendapatan batu bara.
Strategi tersebut dapat berjalan bersamaan dengan diversifikasi pasar dan peningkatan efisiensi operasional.
"Strategi diversifikasi di sektor ini masih sangat timpang. Sebagian perusahaan sedang membangun bisnis non-batu bara yang meyakinkan, sementara lainnya telah mengumumkan ambisi tanpa menunjukan kemajuan yang berarti," tutur Idham dalam keterangan tertulis, Kamis (20/8/2026).
Dalam analisisnya, ESI menggunakan seven-step framework untuk menilai tingkat diversifikasi perusahaan. Penilaian tersebut melihat sejauh mana bisnis baru mampu mengubah basis pendapatan dan mengurangi tingkat ketergantungan perusahaan terhadap batu bara.
Hasil analisis menempatkan PT Harum Energy Tbk dan PT TBS Energi Utama Tbk sebagai perusahaan yang melakukan diversifikasi paling terlihat.
Keduanya memiliki cadangan batu bara yang relatif rendah dibandingkan perusahaan sejenis dan telah mengarahkan investasi menuju bisnis non-batu bara, dibandingkan terus memperluas bisnis batu bara.
Pada 2025, bisnis nikel menyumbang 69 persen dari total pendapatan Harum Energy. Sementara itu, 41 persen pendapatan TBS Energi Utama berasal dari bisnis pengelolaan limbah.
Perubahan komposisi pendapatan tersebut menunjukkan bahwa diversifikasi tidak hanya berhenti pada pengumuman investasi atau kepemilikan aset di sektor lain, tetapi mulai menghasilkan kontribusi material terhadap pendapatan perusahaan.
Sejumlah perusahaan lain juga telah menetapkan target untuk meningkatkan kontribusi bisnis non-batu bara.
PT Bumi Resources Tbk, misalnya, menargetkan komposisi pendapatan bisnis batu bara dan non-batu bara menjadi 50:50 pada 2031.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya