Namun, tidak semua bentuk ekspansi memberikan tingkat diversifikasi yang sama.
Investasi pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) maupun hilirisasi batu bara, misalnya, tidak serta-merta mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap komoditas tersebut.
Bahkan, bisnis yang masih terkait erat dengan batu bara berpotensi menambah risiko operasional dan pembiayaan tanpa mengubah profil ketergantungan perusahaan secara signifikan.
Baca juga: Polusi Batu Bara Tembus Pegunungan Paling Terpencil di Dunia
Sebaliknya, pengembangan bisnis mineral dan logam, energi terbarukan, serta pengelolaan limbah berpotensi menghasilkan sumber pendapatan yang lebih beragam.
Meski demikian, sebagian bisnis tersebut masih berada pada tahap awal dan belum memiliki skala yang cukup besar untuk mengubah struktur pendapatan perusahaan.
ESI menilai proses diversifikasi kemungkinan membutuhkan waktu sebelum bisnis baru mampu memberikan kontribusi laba yang signifikan.
Pada tahap awal, perusahaan perlu mengalokasikan modal untuk membangun dan mengembangkan bisnis baru hingga mencapai skala ekonomis. Karena itu, pendapatan dari bisnis batu bara masih diperlukan untuk membiayai area pertumbuhan tersebut.
Namun, membaiknya arus kas batu bara tidak seharusnya menjadi alasan untuk menunda diversifikasi.
"Peningkatan arus kas batu bara beberapa waktu terakhir ini bukan berarti bahwa sektor ini telah menjadi lebih tangguh secara struktural. Justru, kondisi ini memberi perusahaan kesempatan untuk membangun bisnis alternatif yang signifikan, menguntungkan, dan mampu mengurangi ketergantungan pada batu bara dari waktu ke waktu," tutur Hazel.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya