Sementara PT Indika Energy Tbk menargetkan komposisi serupa pada 2028.
Keduanya telah melakukan investasi pada sektor logam dan mineral. Namun, menurut ESI, perkembangan diversifikasi kedua perusahaan tersebut belum menyamai Harum Energy dan TBS Energi Utama.
ESI menilai tekanan untuk melakukan diversifikasi juga berbeda pada setiap perusahaan.
Perusahaan yang masih memiliki cadangan batu bara besar dan ruang untuk memperpanjang izin operasi cenderung menghadapi tekanan yang lebih kecil untuk segera mengembangkan bisnis alternatif.
ESI juga mengingatkan bahwa keberadaan aset atau anak usaha di luar sektor batu bara tidak otomatis menunjukkan diversifikasi bisnis.
Salah satu contohnya adalah restrukturisasi bisnis PT Adaro Energy Indonesia Tbk yang memisahkan bisnis batu bara termalnya ke PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) pada 2024.
Pada 2025, AADI menyumbang 72 persen dari total pendapatan gabungan bruto AADI dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk, yang merupakan nama baru Adaro Energy Indonesia.
Bahkan, bisnis pertambangan dan perdagangan batu bara menyumbang sekitar 95 persen pendapatan AADI.
Baca juga: Studi Ungkap Hambatan Sulitnya Pensiunkan PLTU Batu Bara di Indonesia
Dengan demikian, meskipun struktur grup perusahaan telah berubah, ketergantungan terhadap batu bara masih sangat besar.
"Idealnya, anak perusahaan tambang batu bara tersebut seharusnya langsung berinvestasi atau mengembangkan proyek non-batu bara. Jika tidak, profil bisnis dan eksposurnya terhadap risiko batu bara tidak berubah. Anak perusahaan tersebut bahkan dapat tetap menjadi sumber pendapatan utama bagi grup," ucap Idham.
Principal and Coal Transition Lead ESI Hazel Ilango mengatakan, pengumuman perusahaan mengenai proyek baru juga tidak dapat langsung dianggap sebagai bukti diversifikasi.
Menurut dia, perusahaan dapat saja mengumumkan proyek hilirisasi batu bara atau rencana memasuki sektor baru. Namun, rencana tersebut harus diwujudkan dalam kegiatan bisnis yang nyata dan memiliki kontribusi ekonomi.
"Ujiannya adalah apakah bisnis-bisnis tersebut mampu mengubah komposisi pendapatan perusahaan dan mengurangi ketergantungan pada arus kas batu bara," ujar Hazel.
Secara keseluruhan, 12 dari 13 perusahaan yang dikaji ESI telah mengembangkan bisnis di luar aktivitas penambangan batu bara secara langsung.
Ekspansi tersebut mencakup bisnis terkait batu bara, mineral dan logam, energi transisi, serta pengelolaan limbah.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya