KOMPAS.com - Bank Dunia telah menerbitkan Obligasi Pembangunan Berkelanjutan senilai 4 miliar dolar AS (sekitar Rp70,78 triliun) yang jatuh tempo pada Agustus 2033.
Melansir ESG News, Kamis (20/8/2026) obligasi ini berhasil menarik minat investor hingga mencapai lebih dari 11 miliar dolar AS (Rp194,64 triliun). Surat utang acuan berjangka waktu tujuh tahun ini diminati oleh lebih dari 150 pembeli.
Pesanan datang dari divisi keuangan bank, bank sentral, lembaga resmi pemerintah, hingga pengelola dana investasi. Kesepakatan ini memberikan kapasitas dana segar baru bagi Bank Internasional untuk Rekonstruksi dan Pembangunan (IBRD) dalam menjalankan tugas pembangunan berkelanjutannya. IBRD sendiri memegang peringkat kredit tertinggi, yaitu Aaa/AAA.
Baca juga: Bank Dunia Sebut AI Bisa Dongkrak Produktivitas di Negara Berkembang
“Obligasi Pembangunan Berkelanjutan berjangka 7 tahun ini menunjukkan besarnya kepercayaan investor berkualitas terhadap misi Bank Dunia dan kemampuannya menghimpun dana untuk pembangunan berkelanjutan,” ujar Jorge Familiar, Wakil Presiden sekaligus Bendahara Grup Bank Dunia.
“Kualitas pesanan yang masuk mencerminkan pengakuan investor atas kekuatan keuangan Bank Dunia serta dampak positif dari program-program yang didanai obligasi ini,” tambahnya.
Permintaan investor juga tersebar luas dari berbagai penjuru dunia. Investor dari Eropa, Timur Tengah, dan Afrika mendapatkan porsi terbanyak yaitu 42 persen. Wilayah Amerika menyusul dengan 38 persen, sementara Asia mencatatkan 20 persen.
Bagi investor besar, pembelian ini memberikan investasi yang sangat aman sekelas negara, sekaligus menyalurkan modal langsung untuk mendukung kegiatan pembangunan Bank Dunia.
Banyaknya pesanan yang masuk membuat total permintaan melonjak tajam dibanding dana yang ditargetkan. Jumlah pesanan yang masuk bahkan menembus lebih dari 2,5 kali lipat dari target penerbitan obligasi sebesar 4 miliar dolar AS (Rp70,78 triliun).
Obligasi ini sendiri memberikan bunga sebesar 4,50 persen per enam bulan. Harganya ditetapkan dengan selisih yang sangat kecil (3,9 basis poin) di atas Obligasi Pemerintah AS sebagai acuan.
Baca juga: Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Bank of America, Morgan Stanley, Nomura, dan TD Securities bertindak sebagai pengelola utama transaksi ini. Obligasi tersebut akan didaftarkan di Bursa Efek Luksemburg.
"Penjualan ini membuktikan kuatnya hubungan Bank Dunia dengan investor global serta besarnya dukungan pasar terhadap misi pembangunan berkelanjutan," ujar Kamini Sumra, Managing Director Bank of America Securities.
Bagi para investor dan pengelola keuangan, transaksi ini menjadi tolok ukur baru untuk melihat tingginya minat pasar terhadap obligasi pembangunan berkelanjutan.
Keterlibatan berbagai lembaga besar dari seluruh dunia ini juga membuktikan peran penting Bank Dunia dalam menyalurkan modal global ke proyek-proyek pembangunan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya