Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sektor Agribisnis Terancam Rugi Rp112,9 Triliun Akibat Biaya Air Tersembunyi

Kompas.com, 24 Agustus 2026, 10:00 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Riset terbaru dari jaringan investor FAIRR memperingatkan bahwa perusahaan-perusahaan terbesar di sektor pangan dan pertanian sangat meremehkan risiko terkait air.

Melansir Edie, Senin (17/8/2026) penelitian ini menganalisis keterbukaan informasi air dari 18 perusahaan peternakan terbuka terbesar di dunia.

Perusahaan-perusahaan tersebut menguasai 20 persen pasar peternakan global dengan total pendapatan mencapai 354 miliar dolar AS. Beberapa di antaranya adalah perusahaan China seperti WH Group dan Muyuan Foods, serta perusahaan Brasil JBS.

Secara keseluruhan, ke-18 perusahaan ini mengambil air bersih setiap tahunnya dalam jumlah yang sama banyaknya dengan penggunaan air di negara Brasil atau Mesir.

Baca juga: Perubahan Iklim Berpotensi Pangkas Separuh Lahan Peternakan Dunia pada 2100

Meskipun begitu, perusahaan-perusahaan tersebut saat ini hanya melaporkan 1 persen saja dari penggunaan air bersih (blue water) di sepanjang rantai pasok mereka. Air bersih yang dimaksud mencakup air dari sumber permukaan tanah maupun air tanah.

Bahkan, hampir sepertiga dari perusahaan-perusahaan tersebut tidak memberikan informasi apa pun mengenai penggunaan air mereka sama sekali.

Tingkat risiko

FAIRR memperingatkan bahwa untuk perusahaan yang melaporkan penggunaan air bersih, tingkat risiko sebenarnya di sepanjang rantai pasok mereka rata-rata 132 kali lebih tinggi dari yang disajikan dalam laporan.

Akibatnya, perusahaan-perusahaan ini menghadapi biaya tersembunyi sebesar 6,4 miliar dolar AS (sekitar Rp112,95 triliun) per tahun, yang setara dengan rata-rata 2 persen dari total pendapatan mereka.

Biaya-biaya ini mencakup pengeluaran untuk mencari sumber air alternatif serta biaya pengadaan pakan dan pasokan ternak. Dalam skenario terburuk, pembengkakan biaya ini bisa melonjak hingga 9 miliar dolar AS (sekitar Rp158,84 triliun) per tahun pada tahun 2050.

"Meskipun kelangkaan air sudah sangat parah, masih ada ketimpangan data yang besar mengenai keterpaparan perusahaan terhadap risiko air. Para investor membutuhkan data yang benar-benar berguna untuk mengambil keputusan terkait dampak risiko air bagi portofolio mereka saat ini dan di masa depan," kata Patricia Calderon, Ekonom iklim dan alam FAIRR.

"Laporan kami menghitung secara jelas besarnya biaya finansial dari risiko air, sekaligus peluang untuk menguranginya. Dengan begitu, perusahaan pangan dan para investor bisa mulai memperhitungkan faktor air dalam keputusan investasi, penetapan risiko, dan perencanaan masa depan," kata Patricia Calderon.

Masalah keterbukaan data ini terjadi di semua sektor. Jumlah perusahaan yang mau melaporkan penggunaan air dan risikonya memang meningkat dua kali lipat dibanding tahun lalu seiring makin parahnya cuaca ekstrem dunia.

Meski begitu, tiga perempat (75 persen) perusahaan masih belum menyajikan data penting terkait dampak di sepanjang rantai pasok mereka.

Baca juga: Kebijakan Perlindungan Tanah Terbukti Sehatkan Lahan Pertanian

FAIRR menemukan bahwa WH Group dan Muyuan Foods menghadapi potensi pembengkakan biaya hingga 8 persen dari total pendapatan mereka. Sementara itu, JBS terancam menderita kerugian hingga 4 miliar dolar AS (sekitar Rp70,59 triliun) dalam skenario terburuk akibat bencana kekeringan.

Laporan tersebut juga menyajikan berbagai tindakan dan solusi yang jika diterapkan sekarang, dapat menghemat biaya.

Langkah-langkah seperti daur ulang air dan sistem irigasi tetes diperkirakan bisa menghemat biaya secara keseluruhan antara 14 miliar dolar AS hingga 20 miliar dolar AS (sekitar Rp 247,08 triliun hingga Rp 352,98 triliun) hingga tahun 2050.

Namun, setelah memperhitungkan biaya pembuatannya, solusi-solusi ini tetap hanya bisa memangkas 9 persen dari total biaya risiko air.

Oleh karena itu, FAIRR menegaskan pentingnya solusi berbasis alam untuk membantu sektor ini menghadapi krisis air.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Pemerintah
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemerintah
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Pemerintah
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
LSM/Figur
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Pemerintah
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau