KOMPAS.com - Riset terbaru dari jaringan investor FAIRR memperingatkan bahwa perusahaan-perusahaan terbesar di sektor pangan dan pertanian sangat meremehkan risiko terkait air.
Melansir Edie, Senin (17/8/2026) penelitian ini menganalisis keterbukaan informasi air dari 18 perusahaan peternakan terbuka terbesar di dunia.
Perusahaan-perusahaan tersebut menguasai 20 persen pasar peternakan global dengan total pendapatan mencapai 354 miliar dolar AS. Beberapa di antaranya adalah perusahaan China seperti WH Group dan Muyuan Foods, serta perusahaan Brasil JBS.
Secara keseluruhan, ke-18 perusahaan ini mengambil air bersih setiap tahunnya dalam jumlah yang sama banyaknya dengan penggunaan air di negara Brasil atau Mesir.
Baca juga: Perubahan Iklim Berpotensi Pangkas Separuh Lahan Peternakan Dunia pada 2100
Meskipun begitu, perusahaan-perusahaan tersebut saat ini hanya melaporkan 1 persen saja dari penggunaan air bersih (blue water) di sepanjang rantai pasok mereka. Air bersih yang dimaksud mencakup air dari sumber permukaan tanah maupun air tanah.
Bahkan, hampir sepertiga dari perusahaan-perusahaan tersebut tidak memberikan informasi apa pun mengenai penggunaan air mereka sama sekali.
FAIRR memperingatkan bahwa untuk perusahaan yang melaporkan penggunaan air bersih, tingkat risiko sebenarnya di sepanjang rantai pasok mereka rata-rata 132 kali lebih tinggi dari yang disajikan dalam laporan.
Akibatnya, perusahaan-perusahaan ini menghadapi biaya tersembunyi sebesar 6,4 miliar dolar AS (sekitar Rp112,95 triliun) per tahun, yang setara dengan rata-rata 2 persen dari total pendapatan mereka.
Biaya-biaya ini mencakup pengeluaran untuk mencari sumber air alternatif serta biaya pengadaan pakan dan pasokan ternak. Dalam skenario terburuk, pembengkakan biaya ini bisa melonjak hingga 9 miliar dolar AS (sekitar Rp158,84 triliun) per tahun pada tahun 2050.
"Meskipun kelangkaan air sudah sangat parah, masih ada ketimpangan data yang besar mengenai keterpaparan perusahaan terhadap risiko air. Para investor membutuhkan data yang benar-benar berguna untuk mengambil keputusan terkait dampak risiko air bagi portofolio mereka saat ini dan di masa depan," kata Patricia Calderon, Ekonom iklim dan alam FAIRR.
"Laporan kami menghitung secara jelas besarnya biaya finansial dari risiko air, sekaligus peluang untuk menguranginya. Dengan begitu, perusahaan pangan dan para investor bisa mulai memperhitungkan faktor air dalam keputusan investasi, penetapan risiko, dan perencanaan masa depan," kata Patricia Calderon.
Masalah keterbukaan data ini terjadi di semua sektor. Jumlah perusahaan yang mau melaporkan penggunaan air dan risikonya memang meningkat dua kali lipat dibanding tahun lalu seiring makin parahnya cuaca ekstrem dunia.
Meski begitu, tiga perempat (75 persen) perusahaan masih belum menyajikan data penting terkait dampak di sepanjang rantai pasok mereka.
Baca juga: Kebijakan Perlindungan Tanah Terbukti Sehatkan Lahan Pertanian
FAIRR menemukan bahwa WH Group dan Muyuan Foods menghadapi potensi pembengkakan biaya hingga 8 persen dari total pendapatan mereka. Sementara itu, JBS terancam menderita kerugian hingga 4 miliar dolar AS (sekitar Rp70,59 triliun) dalam skenario terburuk akibat bencana kekeringan.
Laporan tersebut juga menyajikan berbagai tindakan dan solusi yang jika diterapkan sekarang, dapat menghemat biaya.
Langkah-langkah seperti daur ulang air dan sistem irigasi tetes diperkirakan bisa menghemat biaya secara keseluruhan antara 14 miliar dolar AS hingga 20 miliar dolar AS (sekitar Rp 247,08 triliun hingga Rp 352,98 triliun) hingga tahun 2050.
Namun, setelah memperhitungkan biaya pembuatannya, solusi-solusi ini tetap hanya bisa memangkas 9 persen dari total biaya risiko air.
Oleh karena itu, FAIRR menegaskan pentingnya solusi berbasis alam untuk membantu sektor ini menghadapi krisis air.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya