Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Konservasi Spesies Indonesia Tak Cukup Andalkan Data, Perlu Kolaborasi Lintas Pihak

Kompas.com, 24 Agustus 2026, 17:46 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Upaya konservasi spesies di Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan data dan penelitian. Pengetahuan ilmiah perlu dihubungkan melalui jejaring, kolaborasi lintas disiplin dan taksa, serta diterjemahkan menjadi kebijakan dan aksi konservasi yang nyata.

Co-Chair IUCN Indonesia Species Specialist Group (IdSSG) Sunarto mengatakan, kekuatan konservasi spesies Indonesia tidak hanya ditentukan oleh banyaknya penelitian, tetapi juga kemampuan berbagai pihak dalam menghubungkan dan memanfaatkan pengetahuan tersebut.

"Kekuatan konservasi spesies Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak penelitian dilakukan, tetapi juga oleh seberapa kuat pengetahuan tersebut dihubungkan, dikolaborasikan, dan diterjemahkan menjadi tindakan bersama untuk konservasi biodiversitas Indonesia," ujar Sunarto dalam keterangan tertulis, Senin (24/8/2026).

Baca juga: Karhutla Way Kambas Meluas, Pastikan Gajah Tak Terdampak

Menurut Sunarto, tantangan konservasi spesies di Indonesia semakin kompleks sehingga diperlukan modal sosial berupa jejaring dan kolaborasi untuk memperkuat kontribusi ilmiah dalam upaya pelestarian biodiversitas.

Keberagaman keahlian anggota IdSSG dinilai dapat menjadi modal penting untuk memahami persoalan konservasi spesies secara lebih komprehensif.

Jejaring tersebut dapat berperan dalam riset, penilaian status spesies, penguatan data ilmiah, serta membangun kolaborasi lintas lembaga dan bidang keahlian.

Data ilmiah harus diterjemahkan menjadi aksi

Pentingnya kolaborasi tersebut menjadi salah satu fokus dalam Konferensi dan Pertemuan Anggota IUCN IdSSG 2026 yang digelar di Universitas Pakuan, Bogor, pada 20–22 Agustus 2026.

Kegiatan yang mengusung tema "Conservation Connections: Assess, Plan, Act, Network & Communicate" tersebut mempertemukan para ahli dan praktisi konservasi dari berbagai bidang.

Pertemuan ini juga menjadi pertemuan tatap muka perdana anggota IdSSG sejak organisasi tersebut dibentuk pada 2023.

Kegiatan tersebut diselenggarakan IdSSG bersama Universitas Pakuan dan Belantara Foundation, dengan dukungan Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik, Kementerian Kehutanan.

Sejumlah perwakilan pemerintah juga terlibat dalam forum tersebut, termasuk dari Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup.

Sunarto berharap forum tersebut dapat memperkuat peran IdSSG sebagai wadah bagi para ahli dan praktisi untuk membangun kolaborasi, memperkuat basis pengetahuan, dan mendorong munculnya inisiatif konservasi yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia.

"Melalui pertemuan ini, kami berharap IdSSG semakin efektif dalam memfasilitasi para ahli dan praktisi untuk membangun kolaborasi, memperkuat basis pengetahuan, dan mendorong lahirnya berbagai inisiatif konservasi spesies yang relevan dengan kebutuhan Indonesia," tutur Sunarto.

Baca juga: Kebakaran Melahap 673 Hektar Lahan TN Way Kambas, Gajah Liar Terpantau Masih Aman

Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Kehutanan Ahmad Munawir mengatakan, konservasi spesies membutuhkan kolaborasi yang semakin kuat antara pemerintah, peneliti, akademisi, organisasi konservasi, dan masyarakat.

Menurut dia, jejaring yang terbentuk melalui forum tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat basis data dan pengetahuan ilmiah, tetapi juga memastikan hasil penelitian dapat diterjemahkan menjadi kebijakan dan aksi konservasi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Pemerintah
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemerintah
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Pemerintah
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
LSM/Figur
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Pemerintah
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau