Selain menjadi bagian dari pengabdian masyarakat, kata Bonjok, program itu juga menjadi instrumen untuk terus memperkuat keterhubungan antara dunia riset keilmuan di perguruan tinggi dengan dinamika persoalan pertanian yang dihadapi masyarakat.
M Walid, salah satu peserta, mengungkapkan besarnya manfaat yang ia dapatkan dari acara tersebut.
“Dari acara ini saya baru tahu kalau ada penyakit cendawan pada pohon kelapa. Saya kira ancaman pada kelapa itu hanya kwangwung (kumbang badak),” ujar pria alumnus Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada (UGM) itu.
Padahal, dia sedang memulai perkebunan agroforestry di Desa Serang, Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar dimana telah tertanam ratusan pohon kelapa. Pada sesi itu, Walid juga menyampaikan penyakit pada ratusan tanaman pepaya miliknya.
“Bertani itu gampang-gampang susah. Selain harus mengikuti perkembangan teknologi yang relevan, kita juga harus memahami ilmu tanaman yang cukup kompleks. Apalagi dengan ekosistem saat ini yang sudah rusak,” ujar Walid.
Sebelum sesi pemaparan persoalan hama dan penyakit tanaman, tiga orang mahasiswa memberikan pelatihan pembuatan pupuk organik cair pemacu pertumbuhan tanaman (PGPR) berbasis mikroba.
Setelah pelatihan pembuatan pupuk organik cair, tim memaparkan alat deteksi cuaca yang dapat memberikan panduan bagi petani untuk menentukan langkah apa saja dalam berbudi daya di bidang pertanian dan perkebunan.
Ketua Tim Blitar Program Dosen Pulang Kampung, Ruly Anwar, mengatakan bahwa acara tersebut merupakan salah satu dari 170 acara dalam bingkai Program Dosen Pulang Kampung dari IPB untuk tahun 2026.
“Ini seperti KKN-nya mahasiswa. Selain bentuk pengabdian kepada masyarakat juga menjadi bagian dari upaya membangun relevansi dunia akademis dengan dinamika sosial dalam hal ini di bidang pertanian di masyarakat,” ujar doktor pengajar ilmu proteksi tanaman pada Fakultas Pertanian IPB itu.
Tim Blitar, kata dia, terdiri dari tiga dosen dan empat mahasiswa, termasuk mahasiswa paska-sarjana.
Selain memberikan pelatihan dan menyediakan fasilitas konsultasi persoalan budi daya tanaman pertanian, tim juga akan memasang alat deteksi cuaca di sekitar Sekretariat P4S di Desa Gogodeso, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar yang menjadi tuan rumah kegiatan.
Alat yang disebut Automatic Weather Station (AWS) itu dapat memberikan panduan bermanfaat tentang kondisi cuaca hingga 14 hari ke depan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya