Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tim Dokter Tanaman IPB Kunjungi Petani di Blitar, Bawa Mobil Klinik Tanaman

Kompas.com, 28 Agustus 2026, 18:53 WIB
Asip Agus Hasani,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

BLITAR, KOMPAS.com – Mobil Toyota Hiace Premio terparkir di halaman bangunan joglo di Dusun Ngade, Desa Gogodeso, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, Jawa Timur pada Kamis (27/8/2026) pagi.

Pintu belakang dan samping kiri mobil terbuka penuh sehingga terlihat isi di dalamnya yang menyerupai sebuah laboratorium mini. Dua mikroskop berada di atas meja kecil yang berdiri persis di bagian dalam pintu samping.

Pada lambung kiri dan kanan mobil terdapat tulisan yang berbunyi “Klinik Tanaman Terpadu. Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian – IPB University, Bogor”.

“Ini Mobil Klinik Tanaman yang dibawa tim dosen dan mahasiswa IPB dari Bogor. Nanti petani yang ikut acara bisa konsultasi masalah hama dan penyakit tanaman yang mereka hadapi di sini,” ujar Ketua Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Kabupaten Blitar, Choirul Anam.

Baca juga: IPB Kembangkan Sorgum Varietas Unggul, Potensi Produksi 5,79 Ton Per Hektare

Acara yang dimaksud Choirul adalah bagian dari program bertajuk Dosen Pulang Kampung dan Safari Klinik Tanaman 2026, sebuah program pengabdian masyarakat dari Institut Pertanian Bogor (IPB) University. Dalam kegiatan itu, P4S Kabupaten Blitar berperan sebagai mitra lokal.

Kehadiran Mobil Klinik Tanaman menjadi bagian dari program Dosen Pulang Kampung di Blitar. Di dalam mobil tersebut terdapat peralatan laboratorium portabel seperti mikroskop, alat uji tanah PH tanah, alat uji kemanisan buah, alat uji kandungan air, alat ukur agen hayati dan lain sebagainya.

Mobil Klinik Tanaman dari Fakultas Pertanian IPB sudah ada sejak lebih dari 15 tahun lalu.

Konsultasi gratis hama dan penyakit tanaman

Sekitar pukul 08.00 WIB, puluhan peserta petani, laki-laki dan perempuan, mulai berdatangan ke lokasi. Beberapa dari mereka terlihat membawa ranting tanaman yang masih segar dengan daun yang masih terlihat hijau.

Mereka menyerahkan potongan ranting tanaman itu kepada mahasiswa perempuan yang duduk di belakang meja mikroskop di dalam ruang penumpang mobil.

Peserta lainnya terlihat sedang mengonsultasikan masalah tanaman pertaniannya kepada seorang mahasiswa laki-laki yang mengenakan rompi bertuliskan “Dokter Tanaman”.

“Sejauh ini sudah ada 9 kasus gangguan pada tanaman yang kami terima di Mobil Klinik Tanaman ini. Nanti akan kami identifikasi jenis gangguannya, hama dan penyakitnya apa,” ujar Bonjok Istiadi, dosen Fakultas Pertanian IPB yang menjadi pengawas Mobil Klinik Tanaman tersebut.

Hasil identifikasi gangguan pada tanaman yang disampaikan para peserta serta cara mengatasi gangguan tersebut disampaikan dalam sesi terakhir acara yang juga menjadi sesi paling menyedot antusiasme para petani dan sekaligus sesi paling lama.

Pada sesi itu, terjadi dialog interaktif yang dinamis saat satu per satu persoalan tanaman yang disampaikan sebelumnya di Mobil Klinik dibahas oleh “tim Dokter Tanaman” yang dipimpin Bonjok. Dalam setiap persoalan yang dipresentasikan tim, peserta selalu antusias memberikan umpan balik dan pertanyaan.

“Sesi seperti ini memang selalu menarik bagi para petani karena membahas cukup detail persoalan yang sedang mereka hadapi dengan tanaman mereka,” kata Bonjok.

Baca juga: IPB University Tutup SAMI 2026, Kolaborasi untuk Agrifood Berkelanjutan jadi Fokus

Beberapa persoalan gangguan pada tanaman yang disampaikan para petani, antara lain, serangan hama pada tanaman alpukat, penyakit pada tanaman kelapa, penyakit pada tanaman pepaya, penyakit pada tanaman kacang tanah, dan lain sebagainya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tak Hanya di Kelas, Siswa SD YPTSS Belajar Menjaga Lingkungan dari Alam
Tak Hanya di Kelas, Siswa SD YPTSS Belajar Menjaga Lingkungan dari Alam
Swasta
Emisi Metana TPA Berubah Menurut Musim, MERIT Usulkan Perhitungan Lebih Spesifik
Emisi Metana TPA Berubah Menurut Musim, MERIT Usulkan Perhitungan Lebih Spesifik
LSM/Figur
Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Pemerintah
Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Pemerintah
Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau
Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau
LSM/Figur
Google dan NASA Luncurkan AI untuk Pantau Emisi Metana dari Luar Angkasa
Google dan NASA Luncurkan AI untuk Pantau Emisi Metana dari Luar Angkasa
Pemerintah
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Swasta
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
BUMN
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
LSM/Figur
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Pemerintah
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Pemerintah
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Pemerintah
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Pemerintah
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Pemerintah
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau