"LCA konvensional harus kita kombinasikan dengan big data, supercomputing, dan AI," tutur Nugroho.
Meski demikian, Nugroho menegaskan penggunaan AI tidak berarti seluruh proses penilaian dapat diserahkan kepada teknologi.
Sejumlah aspek mendasar dalam LCA, seperti penentuan batas sistem, alokasi, verifikasi, serta pertanggungjawaban terhadap hasil penilaian, tetap membutuhkan keahlian dan tanggung jawab manusia.
Menurut Nugroho, penguatan kemampuan pengukuran juga diperlukan karena arah regulasi global semakin menuntut informasi keberlanjutan yang berbasis angka, menggunakan metodologi yang konsisten, serta dapat diverifikasi.
Dengan demikian, perusahaan tidak cukup hanya menyampaikan klaim bahwa produk mereka ramah lingkungan atau rendah karbon.
Indonesia perlu membangun sistem pengukuran dan basis data yang kredibel, dapat dipertanggungjawabkan, serta memiliki peluang untuk diakui dan distandardisasi secara internasional.
"Pesannya sangat jelas, bukan hanya janji hijau, tetapi juga angka yang terkuantifikasi, metodologi, dan verifikator," ucapnya.
Senior Sustainability Scientist Minviro, Irdanto Saputra Lase mengatakan, transparansi profil emisi perlu dilakukan dari sektor hulu hingga hilir dalam rantai pasok mineral kritis.
Hal tersebut mencakup berbagai komoditas strategis, seperti nikel dan bahan baku baterai lithium-ion.
Menurut Irdanto, penghitungan jejak lingkungan mineral kritis memiliki kompleksitas tinggi karena setiap komoditas memiliki jalur produksi dan karakteristik emisi yang berbeda.
Baca juga: Saatnya Manfaat Hilirisasi Nikel di Morowali Dibagi Lebih Adil bagi Daerah
"Setiap mineral kritis memiliki rute produksi yang berbeda dan juga profil emisi karbon yang berbeda," ucapnya.
Ia mencontohkan, perbedaan tersebut dapat dilihat dalam rantai produksi baja, stainless steel, nikel, hingga baterai lithium-ion.
Karena itu, penguatan LCA dinilai menjadi bagian penting untuk memastikan pengembangan industri mineral kritis dan baterai Indonesia tidak hanya berorientasi pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga mampu memenuhi tuntutan keberlanjutan dan transparansi pasar global.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya