Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengubah Kebiasaan Makan Anak, dari Bekal di Sekolah hingga Meja Makan di Rumah

Kompas.com, 31 Agustus 2026, 21:38 WIB
Aningtias Jatmika,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – “Mbak Tamara, Mbak Debora.”

Sapaan itu kini hampir selalu terdengar ketika Tamara Karent dan Debora Intan datang ke sekolah-sekolah di Lampung Selatan. Dua fasilitator program JAPFA for Kids tersebut awalnya sempat khawatir kehadiran mereka tidak mendapat respons dari anak-anak.

Nyatanya, anak-anak justru menyambut antusias. Setelah hampir dua bulan mendampingi, keduanya mulai akrab dengan siswa, guru, hingga kepala sekolah.

Dari kedekatan itu, Tamara dan Debora mulai melihat kebiasaan yang masih perlu dibenahi. Ada anak yang lebih banyak jajan, bekal yang belum beragam, hingga kebiasaan hidup bersih yang belum terbentuk.

“Pola kebiasaan itu enggak bisa semudah itu diubah,” cerita Tamara kepada Kompas.com, Sabtu (29/8/2026).

Temuan itu kemudian menjadi bagian dari pendampingan mereka. Saat melakukan monitoring, Tamara dan Debora tidak sekadar memeriksa makanan. Mereka juga mengingatkan anak untuk mendahulukan makan sebelum jajan, menghabiskan nasi, sayur, dan lauk, serta membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Selama hampir dua dekade, PT Japfa Comfeed Indonesia melalui JAPFA for Kids mengajak sekolah dan keluarga memperhatikan persoalan gizi anak.

Baca juga: Menitipkan Harapan pada 7 Butir Telur Tiap Pekan

Dalam implementasinya, program yang dimulai sejak 2008 itu menjalankan berbagai strategi terintegrasi, mulai dari pemberian asupan protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan bagi siswa dengan kondisi malagizi, pemantauan rutin berat dan tinggi badan siswa melalui aplikasi digital, hingga pembiasaan perilaku hidup sehat melalui program Hari Sehat JAPFA.

Hingga 2025, JAPFA for Kids tercatat telah menjangkau lebih dari 201.056 siswa, 13.541 guru, dan 1.214 sekolah di berbagai wilayah Indonesia.

Tak hanya ditentukan isi piring

Apa yang dilihat Tamara dan Debora di sekolah menunjukkan bahwa kebiasaan makan anak tidak berdiri sendiri. Pilihan jajanan, kebersihan, aktivitas fisik, serta pola yang dibentuk keluarga di rumah ikut membentuk keseharian anak.

Tamara Karent dan Debora Intan, dua fasilitator JAPFA for Kids di Lampung Selatan.Dok pribadi Tamara Karent Tamara Karent dan Debora Intan, dua fasilitator JAPFA for Kids di Lampung Selatan.

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat, 11 persen anak berusia 5-12 tahun berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U).

Persoalannya bukan hanya soal kecukupan asupan, tetapi juga kualitas dan keberagaman makanan. Sebanyak 96,7 persen penduduk usia 5 tahun ke atas masih kurang mengonsumsi sayur dan buah sesuai rekomendasi. Sebanyak 67,5 persen di antaranya hanya mengonsumsi buah dan/atau sayur sekitar satu hingga dua porsi per hari.

Baca juga: Telur, Si Sederhana yang Punya Peran Penting untuk Masa Depan Anak

Angka tersebut menunjukkan tantangan membangun pola makan beragam masih besar, termasuk pada anak.

Ahli gizi (dietitian) Leona Victoria Djajadi, BSc, MND, menjelaskan bahwa gizi anak tidak dapat dilihat hanya dari makanan yang tersaji pada satu waktu. Bahkan, makanan di piring merupakan hasil dari rangkaian proses panjang, mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan, hingga penyimpanan.

Pilihan camilan dan kebiasaan hidup bersih juga perlu diperhatikan. Sebab, pemenuhan gizi bukan sesuatu yang berlangsung dalam satu kali makan.

“Gizi anak pun tidak bisa dilihat dari satu piring dalam satu waktu saja, tapi dari usaha konsisten orangtuanya setiap hari,” ujar perempuan yang karib disapa Ria itu saat dihubungi Kompas.com, Senin (31/8/2026).

Artinya, pemenuhan gizi berjalan bersama dengan kebiasaan yang dibangun di rumah. Sementara itu, sekolah dapat menjadi tempat untuk memperkenalkan sekaligus mengulang perilaku sehat.

Ria menambahkan, guru dapat membantu dengan konsisten mengedukasi anak dan orangtua agar membawa makanan yang bergizi, berimbang, dan beragam.

Baca juga: Kemerdekaan dalam Sepiring Makanan Anak...

Kebiasaan sederhana, seperti mencuci tangan sebelum makan, membawa bekal, serta menyertakan sayur atau buah, juga perlu dilakukan berulang hingga menjadi kebiasaan.

Hal tersebut juga menjadi pendekatan dalam Hari Sehat JAPFA yang dilakukan di sekolah dampingan. Anak tidak hanya diberi tahu mengenai perilaku sehat, tetapi langsung mempraktikkannya.

Menurut Ria, perubahan perilaku dapat menjadi tanda awal bahwa edukasi mulai berjalan. Misalnya, anak mulai mencuci tangan tanpa diingatkan, menyadari ketika sabun habis, lebih sering membawa bekal, atau mulai memasukkan protein, sayur, dan buah ke dalam makanannya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Listrik dari Laut, Potensi Energi Baru di Filipina
Listrik dari Laut, Potensi Energi Baru di Filipina
LSM/Figur
Energi Bukan Lagi Sekadar Menjaga Lampu Tetap Menyala
Energi Bukan Lagi Sekadar Menjaga Lampu Tetap Menyala
Pemerintah
Mengubah Kebiasaan Makan Anak, dari Bekal di Sekolah hingga Meja Makan di Rumah
Mengubah Kebiasaan Makan Anak, dari Bekal di Sekolah hingga Meja Makan di Rumah
Swasta
Pohon di Hutan Sulit Beradaptasi saat Hadapi Kekeringan Panjang
Pohon di Hutan Sulit Beradaptasi saat Hadapi Kekeringan Panjang
Pemerintah
BEI Luncurkan Label Saham Hijau, Dorong Modal Masuk ke Perusahaan Rendah Karbon
BEI Luncurkan Label Saham Hijau, Dorong Modal Masuk ke Perusahaan Rendah Karbon
Swasta
Studi Ungkap Potensi Bahaya Mikroplastik dari Gelas Kopi Sekali Pakai
Studi Ungkap Potensi Bahaya Mikroplastik dari Gelas Kopi Sekali Pakai
Pemerintah
Konsumsi Air Pusat Data Diprediksi Capai 644 Miliar Liter pada  2030
Konsumsi Air Pusat Data Diprediksi Capai 644 Miliar Liter pada 2030
LSM/Figur
Polusi Berbahaya Di Balik Keindahan Kembang Api
Polusi Berbahaya Di Balik Keindahan Kembang Api
Pemerintah
Peneliti Tegaskan Pentingnya Peran Antarktika  Bagi Iklim Global
Peneliti Tegaskan Pentingnya Peran Antarktika Bagi Iklim Global
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Larangan Greenwashing, Laporan Keberlanjutan Wajib Diverifikasi
OJK Siapkan Aturan Larangan Greenwashing, Laporan Keberlanjutan Wajib Diverifikasi
Pemerintah
RI Didorong Perkuat  Daur Hidup Mineral Kritis
RI Didorong Perkuat Daur Hidup Mineral Kritis
Pemerintah
Tak Cukup Hanya Hemat Energi, Teknologi Cerdas Kini Jadi Kunci Efisiensi Bangunan Berkelanjutan
Tak Cukup Hanya Hemat Energi, Teknologi Cerdas Kini Jadi Kunci Efisiensi Bangunan Berkelanjutan
Swasta
Berhasil Kembangkan Potensi Wisata dan Ekonomi Warga, Desa Sejahtera Astra Bugisan Dikunjungi Wamen PPPA
Berhasil Kembangkan Potensi Wisata dan Ekonomi Warga, Desa Sejahtera Astra Bugisan Dikunjungi Wamen PPPA
Desa Sejahtera Astra
Inggris Siapkan 294 Juta Dollar AS untuk Kembangkan Avtur Berkelanjutan
Inggris Siapkan 294 Juta Dollar AS untuk Kembangkan Avtur Berkelanjutan
Pemerintah
Indonesia Butuh Pasokan Air yang Masif untuk Topang Industri Data Center
Indonesia Butuh Pasokan Air yang Masif untuk Topang Industri Data Center
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau