KOMPAS.com - Potensi energi gelombang dan pasang surut perairan Filipina berdasarkan perhitungan sejumlah studi diperkirakan mencapai 170 gigawatt (GW).
Dari total tersebut, kapasitas yang terpasang di wilayah yang memiliki garis pantai sangat luas itu kini baru 32 GW atau 18,82 persen.
Para ilmuwan memprediksi, pemanfaatan seperlima dari potensinya saja sudah setara dengan total kapasitas energi nasional Filipina saat ini.
“Meskipun tidak semua kekuatan laut tersebut praktis bisa dimanfaatkan, pemanfaatan 18 hingga 20 persen dari total energi pasang surut kepulauan ini secara teoretis cukup untuk memenuhi konsumsi listrik Filipina saat ini,” ujar Justin Kyle Ricafort dari Departemen Teknik Elektronika, Komputer dan Komunikasi Universitas Ateneo de Manila, dilansir dari Inquirer.
Baca juga: PLTS 440 Megawatt Dibangun di Filipina, Telan Biaya Rp 5,23 Triliun
Untuk mewujudkannya, Ricafort dan rekannya, King Harold Recto, sedang mempertimbangkan penggunaan sistem energi arus pasang surut bawah laut.
Ini dilakukan dengan generator mekanis yang dapat secara langsung mengubah pergerakan pasang surut laut menjadi listrik.
Para ilmuwan mengidentifikasi Selat San Bernardino, Selat San Juanico dan Selat Cebu sebagai lokasi yang paling layak untuk membangun sistem energi arus pasang surut berdasarkan kecepatan arus air, kedekatan dengan pusat-pusat populasi, dan akses ke jaringan listrik.
Sebuah sistem arus pasang surut berkapasitas satu megawatt sedang dipasang di dekat Pulau Capul, Samar Utara, untuk menggantikan generator bertenaga diesel yang memasok listrik bagi masyarakat di wilayah terpencil tersebut.
Sistem ini bisa menjadi model untuk memperluas penggunaan energi terbarukan laut di seluruh negeri.
Sistem turbin pasang surut dua arah yang dikembangkan oleh perusahaan Belanda Tocardo memanfaatkan tarikan gravitasi pasang surut dan gelombang untuk menghasilkan energi terbarukan secara terukur.
Beberapa perangkat sedang dipasang di dekat Pulau Capul di Selat San Bernardino untuk menggantikan generator diesel yang saat ini memasok listrik bagi kota kecil di pulau itu.
Baca juga: Filipina akan Terapkan Kebijakan Kredit Karbon, Targetkan Sektor Energi
Selama beberapa dekade, Filipina sangat bergantung pada bahan bakar impor yang mahal, seperti batu bara dan gas alam.
Imbasnya, jaringan energi nasional bergantung pada perubahan pasar global dan lonjakan harga.
Gangguan pasokan energi global dan ketegangan geopolitik berulang kali menunjukkan, betapa rapuhnya Filipina karena ketergantungan tersebut, yang pada akhirnya sering mendorong harga listrik menjadi lebih tinggi bagi masyarakat Filipina.
Ricafort dan Recto menilai, energi pasang surut di laut menawarkan opsi yang berbeda. Yaitu, jalur yang berasal dari sumber daya yang sudah dan akan terus tersedia dari perairan Filipina.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya