Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Listrik dari Laut, Potensi Energi Baru di Filipina

Kompas.com, 31 Agustus 2026, 22:51 WIB
Manda Firmansyah,
Mahardini Nur Afifah

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Potensi energi gelombang dan pasang surut perairan Filipina berdasarkan perhitungan sejumlah studi diperkirakan mencapai 170 gigawatt (GW). 

Dari total tersebut, kapasitas yang terpasang di wilayah yang memiliki garis pantai sangat luas itu kini baru 32 GW atau 18,82 persen.    

‎Para ilmuwan memprediksi, pemanfaatan seperlima dari potensinya saja sudah setara dengan total kapasitas energi nasional Filipina saat ini.

‎“Meskipun tidak semua kekuatan laut tersebut praktis bisa dimanfaatkan, pemanfaatan  18 hingga 20 persen dari total energi pasang ‎surut kepulauan ini secara teoretis cukup untuk memenuhi konsumsi listrik Filipina saat ini,” ujar Justin Kyle Ricafort dari Departemen Teknik Elektronika, Komputer dan Komunikasi Universitas Ateneo de Manila, dilansir dari Inquirer.‎

Baca juga: PLTS 440 Megawatt Dibangun di Filipina, Telan Biaya Rp 5,23 Triliun

‎Untuk mewujudkannya, Ricafort dan rekannya, King Harold Recto, sedang mempertimbangkan penggunaan sistem energi arus pasang surut bawah laut.

Ini dilakukan dengan generator mekanis yang dapat secara langsung mengubah pergerakan pasang surut laut menjadi listrik.

‎Para ilmuwan mengidentifikasi Selat San Bernardino, Selat San Juanico dan Selat Cebu sebagai lokasi yang paling layak untuk membangun sistem energi arus pasang surut berdasarkan kecepatan arus air, kedekatan dengan pusat-pusat populasi, dan akses ke jaringan listrik.

‎Sebuah sistem arus pasang surut berkapasitas satu megawatt sedang dipasang di dekat Pulau Capul, Samar Utara, untuk menggantikan generator bertenaga diesel yang memasok listrik bagi masyarakat di wilayah terpencil tersebut.

Sistem ini bisa menjadi model untuk memperluas penggunaan energi terbarukan laut di seluruh negeri.

‎Sistem turbin pasang surut dua arah yang dikembangkan oleh perusahaan Belanda Tocardo memanfaatkan tarikan gravitasi pasang surut dan gelombang untuk menghasilkan energi terbarukan secara terukur.

Beberapa perangkat sedang dipasang di dekat Pulau Capul di Selat San Bernardino untuk menggantikan generator diesel yang saat ini memasok listrik bagi kota kecil di pulau itu.

Baca juga: Filipina akan Terapkan Kebijakan Kredit Karbon, Targetkan Sektor Energi

Ketergantungan bahan bakar impor

‎‎Selama beberapa dekade, Filipina sangat bergantung pada bahan bakar impor yang mahal, seperti batu bara dan gas alam.

Imbasnya, jaringan energi nasional bergantung pada perubahan pasar global dan lonjakan harga.

Gangguan pasokan energi global dan ketegangan geopolitik berulang kali menunjukkan, betapa rapuhnya Filipina karena ketergantungan tersebut, yang pada akhirnya sering mendorong harga listrik menjadi lebih tinggi bagi masyarakat Filipina.

‎Ricafort dan Recto menilai, energi pasang surut di laut menawarkan opsi yang berbeda. Yaitu, jalur yang berasal dari sumber daya yang sudah dan akan terus tersedia dari perairan Filipina.

"Garis pantainya yang luas dan arus lautnya yang kuat bisa menempatkan Filipina sebagai calon pemimpin dalam pengembangan energi laut di Asia Tenggara, bahkan di tingkat global," kata peneliti.

‎Selain menghasilkan listrik, pasang surut di laut juga memiliki peluang strategis untuk mengatasi energy trilemma, yang menjadi tantangan untuk menyeimbangkan keberlanjutan, serta pemerataan dan ketahanan energi.

‎Kendati teknologinya kini masih lebih mahal dibandingkan dengan sistem tenaga surya dan angin, studi menunjukkan investasi jangka panjang dan penerapan dalam skala lebih besar ke depan bisa membuat investasi teknologi terbarukan ini lebih murah. 

Baca juga: Startup Filipina Bikin AGRICONNECT PH, App Berbasis AI untuk Cegah Gagal Panel

Memperluas akses 

Tak hanya itu, pemanfaatan energi pasang surut air laut juga bisa memperluas akses energi, khususnya di wilayah pesisir yang selama ini kurang terlayani.

‎Temuan studi dari Universitas Ateneo de Manila bisa menjadi dasar bagi investasi ‎masa depan untuk infrastruktur energi laut.

Terlebih, Filipina berada dalam posisi strategis dalam pemanfaatan sumber daya alam yang paling terabaikan. Padahal, laut senantiasa lebih dari sekadar bentang geografis di Filipina.‎

‎Laut menjadi sumber pangan, penopang mata pencaharian, penghubung antar-pulau, serta bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat pesisir.

Selama beberapa ‎generasi, masyarakat Filipina telah hidup berdampingan dengan air yang terus ‎bergerak.

‎Ricafort dan Recto meyakini bahwa laut lebih dari sekadar sumber mata ‎pencaharian. Di tengah ketidakpastian energi yang semakin besar, jawaban bagi ‎masa depan energi Filipina kemungkinan sedang bergerak di sepanjang garis pantainya.

‎Kedua peneliti ini kali pertama mempresentasikan riset mereka Assessing ‎Tidal Energy Potential in the Visayas: Viability of the San Bernardino, San Juanico, ‎and Cebu Straits pada konferensi IEEE Region 10, pada Oktober 2025 lalu.

‎Artikel ini pertama kali dimuat di Philippine Daily Inquirer dan ditayangkan kembali melalui inisiatif kolaborasi konten dari Asia ESG Positive Impact Consortium (A-EPIC), yang mencakup Star Media Group, Kompas Gramedia Media Group dari Indonesia dan Inquirer Group of Companies dari Filipina.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Pemerintah
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Pemerintah
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Pemerintah
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
Pemerintah
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Pemerintah
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
LSM/Figur
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Pemerintah
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Pemerintah
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau