"Garis pantainya yang luas dan arus lautnya yang kuat bisa menempatkan Filipina sebagai calon pemimpin dalam pengembangan energi laut di Asia Tenggara, bahkan di tingkat global," kata peneliti.
Selain menghasilkan listrik, pasang surut di laut juga memiliki peluang strategis untuk mengatasi energy trilemma, yang menjadi tantangan untuk menyeimbangkan keberlanjutan, serta pemerataan dan ketahanan energi.
Kendati teknologinya kini masih lebih mahal dibandingkan dengan sistem tenaga surya dan angin, studi menunjukkan investasi jangka panjang dan penerapan dalam skala lebih besar ke depan bisa membuat investasi teknologi terbarukan ini lebih murah.
Baca juga: Startup Filipina Bikin AGRICONNECT PH, App Berbasis AI untuk Cegah Gagal Panel
Tak hanya itu, pemanfaatan energi pasang surut air laut juga bisa memperluas akses energi, khususnya di wilayah pesisir yang selama ini kurang terlayani.
Temuan studi dari Universitas Ateneo de Manila bisa menjadi dasar bagi investasi masa depan untuk infrastruktur energi laut.
Terlebih, Filipina berada dalam posisi strategis dalam pemanfaatan sumber daya alam yang paling terabaikan. Padahal, laut senantiasa lebih dari sekadar bentang geografis di Filipina.
Laut menjadi sumber pangan, penopang mata pencaharian, penghubung antar-pulau, serta bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat pesisir.
Selama beberapa generasi, masyarakat Filipina telah hidup berdampingan dengan air yang terus bergerak.
Ricafort dan Recto meyakini bahwa laut lebih dari sekadar sumber mata pencaharian. Di tengah ketidakpastian energi yang semakin besar, jawaban bagi masa depan energi Filipina kemungkinan sedang bergerak di sepanjang garis pantainya.
Kedua peneliti ini kali pertama mempresentasikan riset mereka Assessing Tidal Energy Potential in the Visayas: Viability of the San Bernardino, San Juanico, and Cebu Straits pada konferensi IEEE Region 10, pada Oktober 2025 lalu.
Artikel ini pertama kali dimuat di Philippine Daily Inquirer dan ditayangkan kembali melalui inisiatif kolaborasi konten dari Asia ESG Positive Impact Consortium (A-EPIC), yang mencakup Star Media Group, Kompas Gramedia Media Group dari Indonesia dan Inquirer Group of Companies dari Filipina.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya