Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Indonesia Didesak Masukkan Rencana PLTS 100 GW ke Sistem Kelistrikan Nasional

Kompas.com, 2 September 2026, 15:26 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com-Indonesia sebaiknya memasukkan program tenaga surya 100 gigawatt (GW) yang baru diluncurkan ke dalam rencana kelistrikan nasional berbiaya terendah, ketimbang menjadikannya sebagai target yang berdiri sendiri.

Hal ini disampaikan dalam analisis terbaru dari lembaga pemikir Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA).

Melansir Eco Business, Selasa (1/9/2026) rencana berbiaya terendah milik Indonesia ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan listrik masa depan secara andal dengan total biaya paling murah bagi sistem kelistrikan.

Rencana ini tidak hanya menghitung biaya awal pembangunan pembangkit, tetapi juga biaya bahan bakar, jaringan listrik, penyimpanan energi, operasional, serta biaya perawatan pembangkit yang sudah tua.

Masuk dalam rencana kelistrikan nasional

IEEFA menyatakan bahwa program tenaga surya yang pertama kali diumumkan pada Juni tahun lalu dan diresmikan oleh Presiden Prabowo pada 25 Agustus ini harus dimasukkan ke dalam revisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) di masa mendatang.

Baca juga: PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi

RUPTL adalah peta jalan 10 tahun yang bertujuan mengubah pendekatan biaya terendah tersebut menjadi pilihan nyata dalam hal pembangkitan, jaringan, penyimpanan, dan pengadaan listrik.

"Memasukkan target tenaga surya ke dalam sistem perencanaan akan membantu pemerintah dan PLN untuk mengatur investasi pembangkit, jaringan listrik, dan penyimpanan energi secara terpadu di lokasi serta teknologi yang paling menguntungkan secara ekonomi maupun teknis," tulis laporan tersebut.

Daripada hanya mengandalkan ladang panel surya yang besar atau memisahkan tiap jenisnya, revisi RUPTL sebaiknya merencanakan berbagai jenis proyek tenaga surya secara bersamaan.

Ini mencakup panel surya di atas tanah, panel surya terapung yang berpotensi mencapai 91,6 GW di danau dan waduk, serta panel surya atap yang berpotensi 30 hingga 40 GW dari rumah warga dan bisnis.

Studi tersebut juga menyebutkan bahwa rencana ini harus memperhitungkan jumlah kapasitas panel surya yang dibutuhkan untuk menggantikan bahan bakar fosil. Untuk menggantikan listrik dari batu bara dan gas, dibutuhkan kapasitas panel surya sekitar tiga kali lipat lebih besar agar bisa menghasilkan jumlah listrik yang sama.

Sementara untuk menggantikan pembangkit bermesin diesel, dibutuhkan kapasitas panel surya sekitar dua kali lipatnya.

Perbandingan biaya

IEEFA juga menyatakan bahwa perencanaan kelistrikan Indonesia perlu mencerminkan biaya pembangkitan saat ini dan perkiraan ke depannya, bukan lagi mengandalkan anggapan lama bahwa batu bara adalah sumber listrik termurah di Indonesia.

Berdasarkan perhitungan biaya menyeluruh, laporan tersebut memperkirakan biaya pembangkit listrik batu bara mencapai 0,10 dolar AS hingga 0,15 dolar AS per kilowatt-jam (kWh) atau sekitar Rp1.777 hingga Rp 2.665.

Sementara jika dibandingkan dengan proyek panel surya skala besar, hanya 0,05 dolar AS hingga 0,08 dolar AS per kWh atau sekitar Rp888 hingga Rp1.421/kWh. Sedangkan penggunaan angin darat sebesar 0,06 dolar AS hingga 0,10 dolar AS per kWh atau sekitar Rp1.066 hingga Rp1.777/kWh.

Pada kisaran biaya terendahnya, panel surya skala besar sekitar 44 persen lebih murah daripada batu bara, sedangkan energi angin darat sekitar 32 persen lebih murah.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Pemerintah
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemerintah
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Pemerintah
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
LSM/Figur
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Pemerintah
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Pemerintah
25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau