Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tak Sampai 25 Persen Perusahaan yang Sukses Adopsi AI

Kompas.com, 7 September 2026, 10:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber esgdive

KOMPAS.com - Meskipun upaya penerapan AI sudah dilakukan secara luas, kurang dari seperempat perusahaan yang berhasil mengembangkan penggunaan kecerdasan buatan (AI) ke berbagai unit bisnis mereka, menurut data Gartner.

Melansir ESG Dive, Jumat (4/9/2026) lembaga riset IT ini menyurvei lebih dari 1.300 pemimpin dari perusahaan berpendapatan di atas 50 juta dolar AS antara bulan Januari hingga April tahun ini.

Lambatnya tingkat keberhasilan ini ternyata tidak menyurutkan rencana perusahaan untuk terus memakai AI, di mana 85 persen pemimpin teknologi tetap berencana meningkatkan investasi AI mereka tahun depan.

Namun, sekitar 11 persen perusahaan mengaku tidak memiliki kepastian terkait jumlah biaya yang sudah mereka keluarkan untuk AI pada tahun 2025 lalu.

Kurangnya transparansi dalam pengeluaran biaya AI ini meningkatkan risiko gagalnya pengembalian modal (ROI).

Baca juga: Singapura Jadi Pusat Pendanaan AI Terbesar di Asia Tenggara

"Tanpa pengukuran biaya yang disiplin dan terhubung langsung dengan hasil bisnis, perusahaan berisiko membuang-buang sumber daya dan gagal mencapai target," kata Tina Nunno, Wakil Presiden Eksekutif di Gartner.

Banyak perusahaan terus mengucurkan dana untuk investasi AI meskipun belum ada kejelasan soal keuntungan finansialnya. Namun, pendekatan yang terburu-buru ini justru bisa membuat perusahaan kesulitan menemukan cara penggunaan AI yang paling tepat dan berguna.

Mengukur keuntungan menggunakan AI

Hampir tiga perempat eksekutif senior mengaku bahwa mereka hanya berhasil mengembangkan kurang dari 25 persen dari seluruh uji coba  AI yang mereka jalankan.

Banyak perusahaan ternyata belum siap menerapkan teknologi AI, terutama sistem AI mandiri sebagaimana yang mereka bayangkan. Hanya 1 dari 5 manajer senior dan eksekutif tingkat atas yang menyatakan bahwa perusahaan mereka benar-benar siap merombak proses bisnis agar bisa berjalan secara otomatis menggunakan agen AI.

Selain itu, dua per tiga eksekutif menyebut perusahaan mereka kesulitan mengukur keuntungan nyata dari AI untuk membuktikan manfaat positif yang selama ini dijanjikan, menurut laporan Infosys bulan Agustus.

Perusahaan yang secara rutin memantau keuntungan dari proyek AI mereka, mengelolanya sebagai investasi bernilai, dan menilai kinerjanya secara berkala, terbukti mendapatkan hasil yang jauh lebih besar.

Perusahaan yang menerapkan pola ini dan berani menghentikan proyek AI yang tidak berkembang mencatatkan keuntungan positif pada 81 persen proyek AI mereka.

"Kami ingin perusahaan mendapatkan manfaat maksimal dari AI, bukannya malah menanggung risiko boros anggaran tanpa hasil yang sepadan atau menciptakan risiko teknis baru," kata Nunno.

Baca juga: AI Paling Efektif Bantu Pekerja Jika Dipadukan dengan Pengalaman

Para pimpinan teknologi sering kali terjebak oleh tren atau sensasi berlebihan seputar AI. Penggunaan AI yang paling populer seperti untuk keamanan siber, deteksi ancaman, dan otomatisasi layanan IT ternyata tidak selalu memberikan pengembalian modal yang paling tinggi.

Menurut laporan Gartner, manajemen aset dan efisiensi biaya IT berbasis cerdas, pembuatan data buatan, serta pembuatan dan perbaikan kode pemrograman secara otomatis menjadi tiga penggunaan AI teratas yang paling terbukti memberikan keuntungan.

Namun, penerapan AI yang memberikan manfaat paling besar bagi perusahaan adalah yang mampu menjawab kebutuhan spesifik bisnis dan didukung oleh fondasi data yang kuat.

"Para pimpinan IT harus selalu memprioritaskan penggunaan AI yang memiliki alasan bisnis dan logika keuangan yang masuk akal bagi kondisi perusahaan, tingkat kesiapan AI, serta kebutuhan bisnis mereka," kata Nunno.

"Kedisiplinan dalam menyusun rencana bisnis dan memastikannya sejalan dengan visi strategis perusahaan akan menjamin pimpinan IT memilih penggunaan AI terbaik untuk hasil yang maksimal," tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Urine Pendaki Percepat Pencairan Gletser di Gunung Everest
Urine Pendaki Percepat Pencairan Gletser di Gunung Everest
LSM/Figur
ESDM Siapkan Aturan Kredit Karbon Sektor Energi, Potensi Transaksi Rp 2,2 Triliun per Tahun
ESDM Siapkan Aturan Kredit Karbon Sektor Energi, Potensi Transaksi Rp 2,2 Triliun per Tahun
Pemerintah
Tak Sampai 25 Persen Perusahaan yang Sukses Adopsi AI
Tak Sampai 25 Persen Perusahaan yang Sukses Adopsi AI
Pemerintah
UNICEF: 1 dari 5 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Online
UNICEF: 1 dari 5 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Online
Pemerintah
Peringati Hari Ozon Sedunia, Belantara Foundation-Resona Bank Ltd. Tanam Pohon Langka di Tahura SSH Riau yang Terdegradasi
Peringati Hari Ozon Sedunia, Belantara Foundation-Resona Bank Ltd. Tanam Pohon Langka di Tahura SSH Riau yang Terdegradasi
LSM/Figur
Karhutla di Gambut Bisa Ganggu Regenerasi Alami, Pakar UGM Jelaskan Sebabnya
Karhutla di Gambut Bisa Ganggu Regenerasi Alami, Pakar UGM Jelaskan Sebabnya
LSM/Figur
Kejar Target PLTS 100 GW, ESDM : Bauran EBT Semester II-2026 Capai 17,3 Persen, Kontribusi Energi Surya Hanya 0,51 Persen
Kejar Target PLTS 100 GW, ESDM : Bauran EBT Semester II-2026 Capai 17,3 Persen, Kontribusi Energi Surya Hanya 0,51 Persen
Pemerintah
Efek Krisis Iklim, Nyamuk Tropis Invasif Ditemukan di London
Efek Krisis Iklim, Nyamuk Tropis Invasif Ditemukan di London
Pemerintah
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
BUMN
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Swasta
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Pemerintah
BPDLH Siapkan Skema 'Blended Finance' untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
BPDLH Siapkan Skema "Blended Finance" untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau