KOMPAS.com - Meskipun upaya penerapan AI sudah dilakukan secara luas, kurang dari seperempat perusahaan yang berhasil mengembangkan penggunaan kecerdasan buatan (AI) ke berbagai unit bisnis mereka, menurut data Gartner.
Melansir ESG Dive, Jumat (4/9/2026) lembaga riset IT ini menyurvei lebih dari 1.300 pemimpin dari perusahaan berpendapatan di atas 50 juta dolar AS antara bulan Januari hingga April tahun ini.
Lambatnya tingkat keberhasilan ini ternyata tidak menyurutkan rencana perusahaan untuk terus memakai AI, di mana 85 persen pemimpin teknologi tetap berencana meningkatkan investasi AI mereka tahun depan.
Namun, sekitar 11 persen perusahaan mengaku tidak memiliki kepastian terkait jumlah biaya yang sudah mereka keluarkan untuk AI pada tahun 2025 lalu.
Kurangnya transparansi dalam pengeluaran biaya AI ini meningkatkan risiko gagalnya pengembalian modal (ROI).
Baca juga: Singapura Jadi Pusat Pendanaan AI Terbesar di Asia Tenggara
"Tanpa pengukuran biaya yang disiplin dan terhubung langsung dengan hasil bisnis, perusahaan berisiko membuang-buang sumber daya dan gagal mencapai target," kata Tina Nunno, Wakil Presiden Eksekutif di Gartner.
Banyak perusahaan terus mengucurkan dana untuk investasi AI meskipun belum ada kejelasan soal keuntungan finansialnya. Namun, pendekatan yang terburu-buru ini justru bisa membuat perusahaan kesulitan menemukan cara penggunaan AI yang paling tepat dan berguna.
Hampir tiga perempat eksekutif senior mengaku bahwa mereka hanya berhasil mengembangkan kurang dari 25 persen dari seluruh uji coba AI yang mereka jalankan.
Banyak perusahaan ternyata belum siap menerapkan teknologi AI, terutama sistem AI mandiri sebagaimana yang mereka bayangkan. Hanya 1 dari 5 manajer senior dan eksekutif tingkat atas yang menyatakan bahwa perusahaan mereka benar-benar siap merombak proses bisnis agar bisa berjalan secara otomatis menggunakan agen AI.
Selain itu, dua per tiga eksekutif menyebut perusahaan mereka kesulitan mengukur keuntungan nyata dari AI untuk membuktikan manfaat positif yang selama ini dijanjikan, menurut laporan Infosys bulan Agustus.
Perusahaan yang secara rutin memantau keuntungan dari proyek AI mereka, mengelolanya sebagai investasi bernilai, dan menilai kinerjanya secara berkala, terbukti mendapatkan hasil yang jauh lebih besar.
Perusahaan yang menerapkan pola ini dan berani menghentikan proyek AI yang tidak berkembang mencatatkan keuntungan positif pada 81 persen proyek AI mereka.
"Kami ingin perusahaan mendapatkan manfaat maksimal dari AI, bukannya malah menanggung risiko boros anggaran tanpa hasil yang sepadan atau menciptakan risiko teknis baru," kata Nunno.
Baca juga: AI Paling Efektif Bantu Pekerja Jika Dipadukan dengan Pengalaman
Para pimpinan teknologi sering kali terjebak oleh tren atau sensasi berlebihan seputar AI. Penggunaan AI yang paling populer seperti untuk keamanan siber, deteksi ancaman, dan otomatisasi layanan IT ternyata tidak selalu memberikan pengembalian modal yang paling tinggi.
Menurut laporan Gartner, manajemen aset dan efisiensi biaya IT berbasis cerdas, pembuatan data buatan, serta pembuatan dan perbaikan kode pemrograman secara otomatis menjadi tiga penggunaan AI teratas yang paling terbukti memberikan keuntungan.
Namun, penerapan AI yang memberikan manfaat paling besar bagi perusahaan adalah yang mampu menjawab kebutuhan spesifik bisnis dan didukung oleh fondasi data yang kuat.
"Para pimpinan IT harus selalu memprioritaskan penggunaan AI yang memiliki alasan bisnis dan logika keuangan yang masuk akal bagi kondisi perusahaan, tingkat kesiapan AI, serta kebutuhan bisnis mereka," kata Nunno.
"Kedisiplinan dalam menyusun rencana bisnis dan memastikannya sejalan dengan visi strategis perusahaan akan menjamin pimpinan IT memilih penggunaan AI terbaik untuk hasil yang maksimal," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya