Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia

Kompas.com, 8 September 2026, 11:24 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Transisi energi Indonesia tidak hanya membutuhkan pembangunan pembangkit energi terbarukan, investasi, dan teknologi.

Perubahan menuju sistem energi yang lebih bersih juga membutuhkan sumber daya manusia, termasuk perempuan, untuk terlibat dalam aspek teknis, kepemimpinan, hingga pemberdayaan masyarakat.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan pengembangan energi terbarukan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah menghubungkan kebutuhan pengembangan energi terbarukan dengan kapasitas perguruan tinggi di daerah.

Baca juga: Listrik dari Laut, Potensi Energi Baru di Filipina

“Di mana ada universitas atau perguruan tinggi, kita overlay dengan sebaran EBT, sehingga di titik mana nanti universitas mana harus jadi *center of excellence* dari PLTS misalnya,” ujar Eniya dalam acara Apresiasi EBTKE 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (3/9/2026).

Menurut dia, keterlibatan sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam pengembangan energi terbarukan yang saat ini terus dilakukan di berbagai sektor, mulai dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), panas bumi, bioenergi, kendaraan listrik, hingga efisiensi energi.

Masih dianggap sebagai sektor maskulin

Salah satu tantangan dalam memperluas keterlibatan perempuan adalah persepsi bahwa sektor energi merupakan bidang yang didominasi laki-laki.

Mada Ayu Habsari dari Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), yang menerima penghargaan Women in Clean Energy kategori Energy Leader dalam Anugerah Energi Baru Terbarukan (AEBT) 2026, mengatakan perempuan perlu mendapat ruang yang lebih besar dalam sektor energi dan dekarbonisasi.

“Dengan mengakui dan memperkenalkan perempuan yang telah berkontribusi dalam energi bersih dan dekarbonisasi, kita dapat meningkatkan visibilitas mereka sebagai role model, sekaligus mendorong lebih banyak perempuan untuk terlibat dalam sektor energi,” kata Mada.

Persoalan partisipasi perempuan tidak hanya terjadi pada pekerjaan teknis atau industri energi. Di tingkat masyarakat, perempuan juga menghadapi tantangan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan mengenai energi di wilayahnya.

Rita Kefi dari Yayasan Humanis, penerima penghargaan Women in Clean Energy kategori Changemaker, menemukan tantangan tersebut dalam pendampingannya di Sumba, Nusa Tenggara Timur.

Menurut Rita, sekitar 30-50 persen perempuan di wilayah dampingannya tidak mengenyam pendidikan formal. Kondisi tersebut membuat pendekatan pemberdayaan perlu disesuaikan dengan kemampuan literasi masyarakat.

Ia menggunakan metode menggambar dalam pelatihan agar perempuan yang memiliki keterbatasan kemampuan baca-tulis tetap dapat memahami isu energi bersih.

Baca juga: Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi

“Di pelatihan-pelatihan ini, kemudian kita melatih kepercayaan diri perempuan untuk bisa terlibat di ruang-ruang publik, misalnya mulai terlibat di musyawarah perencanaan desa, kecamatan dan kabupaten. Mereka juga membuat semacam rencana advokasi untuk sektor energi sesuai dengan kebutuhan mereka,” ujar Rita.

Menurut Rita, sektor energi perlu dibuka bagi semua pihak karena keputusan mengenai energi juga berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat di tingkat lokal.

“Kalau berbicara tentang energi, tantangan terbesarnya adalah bagaimana meningkatkan partisipasi perempuan di sektor energi karena orang mengenal bahwa sektor energi ini adalah sektor maskulin, sektornya laki-laki,” katanya.

Dari pendidikan vokasi hingga inovasi

Keterlibatan perempuan juga terlihat dalam bidang pendidikan dan inovasi teknologi.

Novia Utami Putri dari Politeknik Negeri Lampung (Polinela), penerima penghargaan Women in Clean Energy kategori Innovator, mengembangkan inovasi yang berorientasi pada penerapan di masyarakat maupun industri.

Peran tersebut menunjukkan bahwa pengembangan sumber daya manusia untuk transisi energi tidak hanya membutuhkan pendidikan akademik, tetapi juga keterampilan yang dapat diterapkan secara langsung.

Pendidikan vokasi menjadi salah satu jalur untuk menyiapkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan teknis sesuai kebutuhan industri hijau.

Pada saat yang sama, keterlibatan perempuan dalam bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) menjadi bagian dari upaya memperluas basis sumber daya manusia di sektor energi.

Ketiga pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan dalam transisi energi berlangsung di berbagai tingkatan. Ada yang bekerja pada pengembangan sektor energi bersih, membangun kapasitas masyarakat, maupun menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan di lapangan.

Baca juga: Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan

Caecilia Galih, Project Manager Sustainable Energy Transition in Indonesia (SETI) dari Yayasan Indonesia Cerah, mengatakan pengakuan terhadap kontribusi perempuan diperlukan agar semakin banyak perempuan mendapat kesempatan untuk berkontribusi dan memimpin di sektor energi.

“Pengakuan ini penting untuk menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran yang kuat dalam mendorong perubahan di sektor energi. Kami berharap semakin banyak perempuan yang mendapatkan ruang untuk berkontribusi, memimpin, dan menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya,” tutur Caecilia.

Program SETI menjadi salah satu program yang mendorong perluasan ruang bagi perempuan untuk berkontribusi dalam sektor energi. Sementara itu, pemberian penghargaan Women in Clean Energy dalam AEBT 2026 menjadi bagian dari upaya memperkenalkan perempuan yang telah bekerja di berbagai lini transisi energi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Pemerintah
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
LSM/Figur
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
LSM/Figur
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
LSM/Figur
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
LSM/Figur
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Pemerintah
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
LSM/Figur
Karhutla dan Abu Vulkanik Berisiko Ganggu Perdagangan Indonesia
Karhutla dan Abu Vulkanik Berisiko Ganggu Perdagangan Indonesia
LSM/Figur
PBB Peringatkan Kenaikan Permukaan Air Laut Jadi Ancaman Nyata Bagi HAM
PBB Peringatkan Kenaikan Permukaan Air Laut Jadi Ancaman Nyata Bagi HAM
Pemerintah
Krisis Iklim Turunkan Performa Pembangkit Saat Permintaan Listrik Naik
Krisis Iklim Turunkan Performa Pembangkit Saat Permintaan Listrik Naik
Pemerintah
Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang
Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang
Swasta
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Pemerintah
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Swasta
Studi Ungkap Hewan Laut Respons Perubahan Iklim dengan Cara Berbeda-beda
Studi Ungkap Hewan Laut Respons Perubahan Iklim dengan Cara Berbeda-beda
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau