Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang

Kompas.com, 7 September 2026, 16:01 WIB
Yohanes Enggar Harususilo

Penulis

KOMPAS.com - Pendidikan tinggi inklusif di Indonesia sejatinya telah dicanangkan sejak tahun 2009 melalui regulasi dasar nasional oleh Kementerian Pendidikan. Langkah ini kini dipercepat oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi lewat Peta Jalan Kampus Inklusif.

Kendati demikian, tantangan di lapangan masih tergolong besar. Dari sekitar 4.000 perguruan tinggi di seluruh Indonesia, baru 125 kampus yang secara resmi membentuk unit layanan disabilitas (ULD).

Rasio ini terbilang belum ideal jika dibandingkan dengan populasi mahasiswa disabilitas yang kini mencapai 3.128 orang.

Kondisi ini menegaskan, keberadaan kampus inklusif bukan sekadar pembuka pintu masuk bagi mahasiswa disabilitas, melainkan kebutuhan mendesak merombak sistem, kepemimpinan, layanan, serta mekanisme dukungan institusi agar mampu merespons kebutuhan penyandang disabilitas yang sangat beragam.

Persoalan inklusivitas di jenjang perguruan tinggi bukan hanya tentang penyediaan fasilitas fisik, melainkan menyangkut kesiapan ekosistem pendidikan menyeluruh. Tanpa layanan pendukung terstruktur, hak pendidikan setara bagi mahasiswa disabilitas sulit terwujud.

Membangun kampus ramah disabilitas memerlukan komitmen kelembagaan kuat, mulai dari prosedur asesmen tepat hingga penyediaan akomodasi.

Oleh karena itu, penguatan kapasitas institusi menjadi kunci utama agar perguruan tinggi di Indonesia dapat bertransformasi dari sekadar menerima mahasiswa disabilitas menjadi lingkungan belajar yang benar-benar memberdayakan mereka.

Sebagai bagian upaya memperkuat kapasitas tersebut, Pijar Foundation melalui program Krisan Fellowship memfasilitasi kegiatan learning visit ke sejumlah institusi pendidikan tinggi di Jepang.

Inisiatif ini menjadi wadah pembelajaran serta pertukaran pengetahuan antara lima perwakilan perguruan tinggi asal Indonesia dengan para akademisi maupun praktisi di Negeri Sakura.

Program ini turut mendapat dukungan penuh dari Kemendiktisaintek dan Komisi Nasional Disabilitas melalui penandatanganan Nota Kesepahaman pada 1 Juli 2026.

Kehadiran Krisan Fellowship ini secara langsung memperkuat program tahunan Kemendiktisaintek dalam memperkokoh dan mengembangkan Unit Layanan Disabilitas (ULD) di seluruh Indonesia.

Inisiatif Krisan Fellowship sendiri awalnya melibatkan perwakilan dari 27 perguruan tinggi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, seperti Aceh, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Gorontalo, hingga Papua Barat Daya.

Sebelum diberangkatkan menuju Jepang, seluruh peserta terlebih dahulu diwajibkan mengikuti Online Executive Workshop selama dua pekan yang mencakup 11 sesi pembelajaran intensif bersama akademisi serta praktisi dari Indonesia dan Jepang.

Setelah melalui serangkaian tahapan awal, pelatihan eksekutif daring, dan proses penilaian langsung dari perwakilan universitas di Jepang, terpilihlah lima perguruan tinggi Indonesia untuk mengikuti learning visit.

Kelima institusi tersebut adalah Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas PGRI Argopuro Jember, Institut Bisnis dan Teknologi Kalla, serta Universitas Bina Mandiri Gorontalo.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Pemerintah
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Pemerintah
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Pemerintah
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
Pemerintah
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Pemerintah
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
LSM/Figur
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Pemerintah
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Pemerintah
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau