Editor
KOMPAS.com - Menjaga ikan tetap segar setelah ditangkap bukan sekadar persoalan kualitas produk. Bagi nelayan, penanganan hasil tangkapan yang tepat juga berkaitan langsung dengan pendapatan, efisiensi sumber daya, hingga keberlanjutan sektor perikanan.
Salah satu tantangan yang masih dihadapi Indonesia adalah terbatasnya penerapan sistem rantai dingin atau cold chain. Sistem ini berperan menjaga suhu ikan sejak ditangkap, disimpan, diangkut, hingga sampai ke tangan konsumen.
Padahal, produksi perikanan Indonesia mencapai sekitar 15 juta ton pada 2025. Namun, Anggota Komisi IV DPR RI Prof Rokhmin Dahuri menyebut belum banyak hasil perikanan yang mendapatkan penanganan dengan sistem rantai dingin.
Baca juga: 65 Kampung Nelayan Merah Putih Mulai Uji Coba, Penghasilan Tembus Rp 11,10 Miliar
Menurutnya, kondisi tersebut dapat menyebabkan sebagian hasil perikanan mengalami penurunan mutu bahkan terbuang sebelum sampai ke konsumen.
“Saya sangat menyambut baik dan mengapresiasi diselenggarakannya semacam simposium atau lokakarya sistem rantai dingin yang mendukung keberhasilan program Kampung Nelayan Merah Putih,” ujar Rokhmin dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Jumat (11/9/2026).
Rokhmin mengungkapkan, dari sekitar 15 juta ton produksi perikanan Indonesia setiap tahun, kurang dari 12 persen yang dapat ditangani dengan sistem rantai dingin.
Keterbatasan infrastruktur tersebut tidak hanya berdampak pada jumlah hasil perikanan yang terbuang. Ketika kualitas ikan menurun, nelayan juga berpotensi mendapatkan harga jual yang lebih rendah.
Baca juga: Pemerintah Bidik 5.000 Kampung Nelayan Merah Putih hingga 2029
“Kalau kualitas atau mutu ikan dan seafood sudah menurun, bukan hanya berdampak ekonomi, yaitu harga jualnya rendah atau bahkan tidak laku. Ada juga dampak terhadap kesehatan dan rendahnya nilai ekspor kita,” kata Rokhmin.
Rantai dingin pada dasarnya menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi kehilangan hasil perikanan (food loss). Dengan penyimpanan dan distribusi pada suhu yang sesuai, ikan dapat dipertahankan kesegarannya lebih lama sehingga tidak cepat rusak.
Dalam pameran yang mempertemukan pelaku usaha, engineer, dan operator industri refrigerasi, HVAC, serta cold chain tersebut, TITAN Containers menghadirkan dua unit cold storage portabel secara langsung di booth.Dampaknya tidak berhenti pada produk. Semakin sedikit hasil tangkapan yang terbuang, semakin besar pula peluang nelayan memperoleh nilai ekonomi dari hasil tangkapannya.
Sebaliknya, keterbatasan fasilitas penyimpanan membuat nelayan dan pelaku usaha perikanan memiliki waktu yang lebih sempit untuk menjual hasil tangkapan. Kondisi ini dapat semakin berat bagi masyarakat pesisir yang berada jauh dari pusat distribusi atau pasar.
Baca juga: Pemerintah Bangun 1.269 Kampung Nelayan Merah Putih hingga Akhir 2026, Prabowo Siap Resmikan
Persoalan tersebut juga berkaitan dengan daya saing produk perikanan Indonesia. Mutu yang tidak terjaga dapat membuat produk sulit memenuhi persyaratan pasar, termasuk pasar ekspor.
Karena itu, pengembangan rantai dingin perlu dilihat bukan hanya sebagai pembangunan infrastruktur pendingin, tetapi sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem perikanan yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Di sisi lain, pengembangan rantai dingin juga menghadirkan tantangan baru, yakni kebutuhan energi. Fasilitas seperti cold storage, mesin pendingin, refrigerator, dan cool box membutuhkan energi untuk menjaga suhu secara konsisten.
Baca juga: Belum Sebulan, Kampung Nelayan Merah Putih di Konawe Kirim 8 Ton Ikan Kualitas Ekspor
Rokhmin mendorong agar pengembangan teknologi tersebut mulai diarahkan pada sistem yang lebih rendah emisi dengan memanfaatkan sumber energi terbarukan, terutama energi surya.
“Teknologi yang semakin canggih, terutama terkait teknologi low carbon atau zero carbon, harus kita manfaatkan. Indonesia ini gudangnya sumber energi matahari,” ujarnya.
Menurut Rokhmin, pemanfaatan energi surya dapat dilakukan secara bertahap pada berbagai kebutuhan sektor perikanan, mulai dari kapal penangkap ikan hingga fasilitas penyimpanan hasil tangkapan.
Langkah tersebut juga dinilai dapat mengurangi ketergantungan sektor perikanan terhadap bahan bakar fosil.
Baca juga: HUT RI ke-81, KKP Dorong Kampung Nelayan Jadi Pusat Ekonomi Baru
Gagasan pemanfaatan energi matahari untuk sektor perikanan sebenarnya telah mulai diinisiasi sejak Rokhmin menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Saat itu, kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi, termasuk Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dilakukan untuk mengembangkan pemanfaatan energi surya di sektor tersebut.
Upaya membangun rantai dingin yang lebih berkelanjutan pada saat yang sama mendorong berkembangnya teknologi penyimpanan yang tidak hanya mampu menjaga kualitas hasil perikanan, tetapi juga menggunakan energi secara lebih efisien.
Kebutuhan tersebut menjadi semakin relevan bagi wilayah pesisir dan sentra perikanan yang membutuhkan fasilitas penyimpanan dingin untuk menjaga hasil tangkapan sebelum didistribusikan ke pasar. Teknologi cold storage yang lebih fleksibel dan hemat energi dapat menjadi salah satu pilihan untuk mendukung kebutuhan tersebut.
Salah satu teknologi yang diperkenalkan untuk menjawab kebutuhan itu adalah cold storage portabel dari TITAN Containers. PT DS Solutions International, sebagai perwakilan resmi TITAN Containers di Indonesia, menghadirkan teknologi tersebut dalam pameran RHVAC Indonesia 2026 yang berlangsung di Nusantara Indonesia Convention Exhibition (NICE), PIK2, Hall 5 dan 6, mulai Rabu (9/9/2026) hingga Jumat (11/9/2026).
Dalam ajang yang mempertemukan pelaku usaha, engineer, dan operator industri refrigerasi, HVAC, serta cold chain tersebut, TITAN Containers menghadirkan dua unit cold storage portabel, yakni ArcticBlast 20FT dan ArcticStore Horizon 40FT.
Baca juga: Bisnis Cold Chain Mulai Bidik Pasar Indonesia, Diklaim Bisa Stabilkan Harga Pangan
ArcticBlast 20FT dirancang untuk proses rapid chilling dan blast freezing. Dengan sistem mesin ganda, unit ini mampu menurunkan suhu hingga -40 derajat Celsius. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk komoditas yang membutuhkan proses pendinginan atau pembekuan secara cepat, termasuk seafood, sehingga kualitas produk dapat lebih terjaga selama proses penyimpanan.
Sementara itu, ArcticStore Horizon 40FT merupakan generasi terbaru keluarga ArcticStore yang diperkenalkan untuk pertama kalinya di Indonesia melalui ajang tersebut. Unit ini memiliki rentang suhu -30 hingga +30 derajat Celsius.
Dari sisi efisiensi energi, TITAN menyebut ArcticStore Horizon dapat mengurangi konsumsi energi rata-rata hingga 55 persen dibandingkan reefer konvensional. Efisiensi tersebut didukung panel insulasi generasi terbaru dan penggunaan refrigeran dengan Global Warming Potential (GWP) sebesar 0,5.
Baca juga: KAI Logistik Perkuat Layanan Cold Chain, Angkutan Reefer Melonjak 39 Persen
Unit Horizon juga dapat dilengkapi panel surya opsional yang secara tipikal mampu mengurangi konsumsi energi hingga 25 persen lebih lanjut. Pemanfaatan teknologi seperti ini menunjukkan bagaimana kebutuhan menjaga kualitas pangan dapat berjalan beriringan dengan upaya mengurangi konsumsi energi dalam rantai pasok.
Pengembangan rantai dingin juga membutuhkan lebih dari sekadar penyediaan teknologi. Pemanfaatan fasilitas secara optimal membutuhkan pengetahuan dan keterampilan dari nelayan, pembudidaya, pengolah, pedagang, hingga konsumen.
Karena itu, Rokhmin mendorong keterlibatan seluruh unsur pentahelix, yakni pemerintah, industri, akademisi dan peneliti, komunitas nelayan serta pelaku usaha perikanan, dan media.
Pemerintah, kata dia, memiliki peran penting karena memiliki anggaran, sumber daya, sekaligus kewenangan untuk membangun kebijakan yang mendukung ekosistem tersebut.
“Kalau tidak, kita begini terus, nelayan miskin, ekspor kita rendah, banyak ikan yang busuk, dan sektor perikanan tidak sustainable,” ujar Rokhmin.
Baca juga: KKP: Kampung Nelayan Merah Putih Berpotensi Dongkrak Ekonomi Pesisir hingga 16,2 Persen
Ia juga mengingatkan pemerintah agar menjalankan fungsi sebagai regulator dan wasit yang adil dalam pengembangan sektor perikanan, bukan sekaligus masuk ke dalam bisnis.
Penguatan rantai dingin, penggunaan energi terbarukan, peningkatan kapasitas industri dalam negeri, serta kolaborasi berbagai pihak pada akhirnya dapat menjadi bagian dari upaya membangun sektor perikanan yang lebih tangguh.
Bagi Kampung Nelayan Merah Putih, pendekatan tersebut dapat menjadi fondasi untuk tidak hanya meningkatkan produktivitas masyarakat pesisir, tetapi juga mengurangi hasil perikanan yang terbuang, menekan penggunaan energi berbasis fosil, dan menciptakan nilai tambah yang lebih besar di tingkat lokal.
Dengan begitu, keberlanjutan sektor perikanan tidak berhenti pada seberapa banyak ikan yang berhasil ditangkap, tetapi juga pada seberapa banyak hasil tersebut dapat dipertahankan, dimanfaatkan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya