Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan

Kompas.com, 10 September 2026, 16:56 WIB
Monika Novena,
Andika Aditia

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Emisi dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia mencapai 19,7 juta ton metrik pada 1-7 September 2026, menjadikannya yang tertinggi di dunia dalam periode tersebut.

Data Fire Emissions Watch yang dikembangkan layanan pemantauan iklim Copernicus Uni Eropa menunjukkan, emisi kebakaran di Indonesia pada periode tersebut melampaui Rusia dan menyumbang lebih dari sepertiga total emisi kebakaran global.

Melansir CNA, Kamis (10/9/2026) portal yang dikembangkan layanan pemantauan iklim Copernicus milik Uni Eropa tersebut mengungkapkan emisi kebakaran di Indonesia dari tanggal 1 hingga 7 September mencapai 19,7 juta ton metrik.

Angka itu menyalip posisi Rusia dalam minggu ini dan menyumbang lebih dari sepertiga total emisi kebakaran global.

Indonesia merupakan salah satu negara yang paling rawan kebakaran hutan di dunia. Namun, karena kondisi cuaca Super El Nino memicu lonjakan suhu dan kekeringan parah, otoritas menyatakan negara ini tengah menghadapi musim kebakaran hutan paling parah dalam 11 tahun terakhir.

"Kami memang memperkirakan akan terjadi beberapa kebakaran di wilayah ini pada waktu-waktu seperti sekarang, tetapi keberadaan El Niño jelas memberikan dorongan yang sangat besar," ujar Mark Parrington, ilmuwan senior di Copernicus Atmosphere Monitoring Service di Bonn.

Baca juga: PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia

"Kondisinya jauh lebih kering, lebih panas, dan begitu ada titik api, kebakaran tersebut membakar dengan cara yang jauh lebih ekstrem," paparnya lagi.

Dari tanggal 1 hingga 7 September, intensitas emisi kebakaran melampaui 1.500 kg per km persegi atau lebih dari 10 kali lipat tingkat emisi di Rusia. Konsentrasi tertinggi terjadi di Kalimantan dan bagian timur Sumatra, menurut data Copernicus pada hari Rabu.

Tingkat emisi ini 273 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata musiman, meskipun masih sedikit lebih rendah dibandingkan 21,7 juta ton emisi yang dihasilkan pada minggu yang sama tahun 2015, saat Indonesia menghadapi kondisi El Niño yang sama intensnya.

Lebih lanjut, salah satu wilayah yang paling parah terdampak adalah Kota Pontianak di Kalimantan Barat, di mana indeks kualitas udara mencapai angka 394 pada hari Rabu, menurut perusahaan pemantau kualitas udara asal Swiss, IQAir. Angka di atas 300 sudah masuk dalam kategori berbahaya.

Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia menyampaikan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka memantau kondisi kualitas udara yang berbahaya di Kalimantan dan wilayah lainnya dengan rasa prihatin.

Kementerian juga menyatakan sedang memantau data dari Copernicus, tetapi menambahkan bahwa data tersebut tidak secara langsung mencerminkan kondisi kualitas udara di wilayah tertentu, dan ada faktor-faktor lain yang juga perlu diperhitungkan.

Area hutan yang terbakar

Dari Januari hingga Juli tahun ini, kebakaran telah membumihanguskan sekitar 202.000 hektar lahan di Indonesia. Area tersebut sekitar sepertiga dari total luas kebakaran pada periode yang sama di tahun 2015, kata Nisa Novita dari organisasi lingkungan YKAN, yang mendampingi masyarakat dalam menanggulangi kebakaran.

"Namun, data bulan Agustus diperkirakan menunjukkan kenaikan tajam hingga sekitar 600.000 hektar, terutama di Kalimantan, Sumatra, dan Papua Selatan," ujarnya.

Indonesia kehilangan total 2,6 juta hektar lahan akibat kebakaran sepanjang tahun 2015.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Pemerintah
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Pemerintah
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Pemerintah
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
Pemerintah
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Pemerintah
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
LSM/Figur
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Pemerintah
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Pemerintah
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau