JAKARTA, KOMPAS.com - Pengurangan emisi dalam pembangunan berkelanjutan tidak cukup hanya dilakukan melalui penerapan standar green building. Pemilihan bahan bangunan dan proses produksinya juga menjadi bagian dari upaya menekan emisi sektor konstruksi.
Direktur Operasi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk Reni Wulandari mengatakan, transisi menuju konstruksi rendah emisi membutuhkan perubahan di sepanjang rantai nilai, termasuk penyediaan bahan bangunan dengan emisi yang lebih rendah.
"SIG mengambil peranan dengan menghadirkan inovasi produk dan solusi rendah emisi yang diproduksi dengan bahan baku dan proses yang ramah lingkungan," kata Reni dalam keterangan tertulis, Jumat (11/9/2026).
Baca juga: Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Salah satu upaya yang dilakukan SIG adalah menerapkan prinsip ekonomi sirkular dalam proses produksi semen. Perusahaan menggunakan bahan bakar alternatif yang berasal dari sampah perkotaan yang diolah menjadi refuse-derived fuel (RDF), limbah industri, dan biomassa.
SIG juga menggunakan energi baru terbarukan (EBT) di sejumlah wilayah operasionalnya. Penggunaan panel surya dan pemanfaatan panas buang melalui Waste Heat Recovery Power Generation (WHRPG) menjadi bagian dari upaya perusahaan mengurangi konsumsi energi dan emisi dari proses produksi.
Selain itu, SIG menerapkan plant digitalization untuk mengoptimalkan proses produksi dan meningkatkan efisiensi.
Menurut Reni, penerapan berbagai upaya tersebut turut menghasilkan produk semen dengan intensitas emisi yang lebih rendah.
"Semen hijau hasil karya SIG lebih ramah lingkungan dengan intensitas emisi lebih rendah hingga 38 persen dibandingkan semen konvensional," ujarnya.
Baca juga: Studi: Banyak Kantor Enggan Terapkan Makan Siang Ramah Lingkungan
Reni mengatakan, penyediaan bahan bangunan rendah emisi menjadi salah satu bagian dari upaya mendukung penerapan prinsip pembangunan berkelanjutan di sektor konstruksi.
Upaya tersebut antara lain diperkenalkan melalui kolaborasi SIG dengan Green Building Council Indonesia (GBCI) dalam Indonesia Green Building Festival 2026.
Festival tersebut digelar di lima kota, yakni Bandung pada 9 September, Yogyakarta pada 14 September, Makassar pada 24 September, Denpasar pada 26 September, dan Surabaya pada 29 September 2026.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya