Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
CERITA LESTARI

Warga dan Hutan Konservasi, Menjaga Ruang Hidup di Solok Selatan

Kompas.com, 17 September 2026, 13:09 WIB
Muhammad Rizqan Alfarisi,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

SOLOK SELATAN, KOMPAS.com – Di tengah hamparan perkebunan PT Kencana Sawit Indonesia (KSI, Wilmar Group), pepohonan masih dibiarkan tumbuh di sejumlah area yang tidak diperuntukkan bagi aktivitas budidaya. Kawasan tersebut merupakan area bernilai konservasi tinggi (/HCV) yang tetap dipertahankan di tengah perkebunan kelapa sawit.high conservation value

Keberadaan kawasan ini membuat batas antara area budidaya dan hutan menjadi penting untuk dijaga. Aktivitas seperti pembukaan lahan dan penebangan pohon dilarang di kawasan HCV seluas 1.760,25 hektare tersebut.

General Estate Manager PT KSI Hari Purnama mengatakan, keberadaan kawasan konservasi tidak hanya penting untuk menjaga hutan dan satwa, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

“Memang sangat bagus, sungai-sungainya terjaga dan ikan-ikan pun kalau mereka ingin memancing atau mencari ikan masih ada,” ujar Hari saat berbincang bersama tim Kompas.com.

Menurut dia, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga kawasan tersebut. Setelah mendapat sosialisasi mengenai fungsi dan batas kawasan, warga sekitar kemudian dilibatkan dalam pengelolaan dan pengawasannya.

Masyarakat ikut mengawasi

Bagi warga yang tinggal di sekitar kawasan konservasi, batas hutan bukan sekadar garis yang memisahkan area perkebunan dan kawasan yang dilindungi. Mereka juga ikut mengawasi apabila ada aktivitas yang berpotensi melanggar aturan.

Datuk Rusli Rangkayo Basa, tokoh adat dan masyarakat Solok Selatan, mengatakan masyarakat ikut mengingatkan apabila ada warga yang hendak membuka lahan di kawasan yang tidak diperbolehkan.

Sungai Ganeh, area yang masuk di kawasan hutan konservasi milik PT Kencana Sawit Indonesia yang tidak boleh digunakan untuk budidaya. PT KSI sendiri mengajak warga sekitar bekerja sama dalam pelestarian hutan lindung tersebut.Dok. PT Kencana Sawit Indonesia Sungai Ganeh, area yang masuk di kawasan hutan konservasi milik PT Kencana Sawit Indonesia yang tidak boleh digunakan untuk budidaya. PT KSI sendiri mengajak warga sekitar bekerja sama dalam pelestarian hutan lindung tersebut.

"Kami dari masyarakat juga ikut menjaga. Kalau ada orang yang mau membuka lahan di kawasan yang tidak boleh, kami sampaikan bahwa itu tidak boleh," kata Datuk Rusli.

Menurut dia, sebagian masyarakat masih memiliki kebutuhan terhadap lahan. Karena itu, pemahaman mengenai batas kawasan dan aturan pemanfaatannya menjadi penting, terutama bagi warga yang tinggal berdekatan dengan area konservasi.

Datuk Rusli juga mengatakan, masyarakat sekitar dilibatkan sebagai tenaga yang membantu menjaga kawasan konservasi. Sebanyak delapan warga disebut dipilih melalui pemangku adat untuk bekerja sebagai penjaga dan pemantau hutan.

Dengan keterlibatan tersebut, pengawasan kawasan tidak hanya dilakukan oleh tim perusahaan. Warga dapat menyampaikan informasi apabila menemukan aktivitas yang berpotensi mengganggu area yang dilindungi.

Bagi masyarakat setempat, keberadaan kawasan hutan dan sungai juga berkaitan dengan aktivitas sehari-hari. Menjaga kawasan agar tidak dibuka sembarangan pun menjadi kepentingan bersama.

Menjaga batas kawasan

Pengawasan oleh masyarakat berjalan berdampingan dengan patroli dan pemantauan yang dilakukan tim konservasi.

HCV Officer Sumatera Barat PT KSI Ityasman mengatakan, tim konservasi yang berjumlah sekitar 12 orang menyusuri kawasan untuk mengamati kondisi lingkungan, mencatat temuan, dan mendokumentasikan kondisi di lapangan.

Petugas HCV sedang berpatroli untuk mendokumentasikan kondisi di kawasan hutan lindug pada Minggu (14/6/2026).Dok. PT Kencana Sawit Indonesia Petugas HCV sedang berpatroli untuk mendokumentasikan kondisi di kawasan hutan lindug pada Minggu (14/6/2026).

Pemantauan terutama dilakukan pada pagi hari. Tim juga menggunakan camera trap untuk memperoleh dokumentasi dari area yang sulit dipantau secara langsung.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau