Perubahan perilaku yang paling dominan adalah menghemat energi di rumah menjadi 59 persen pada 2026, dari 49 persen tahun lalu, mendaur ulang sampah (56 persen, naik dari 46 persen tahun lalu), serta membawa botol minum dan alat makan sendiri (46 persen, naik dari 41 persen tahun lalu).
Selain menerapkan gaya hidup hijau, survei ini juga menemukan bahwa konsumen bersedia membayar hingga 18 persen lebih mahal untuk produk yang membawa manfaat kelestarian lingkungan.
Baca juga: Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa definisi keberlanjutan bagi konsumen kini tidak lagi sebatas ramah lingkungan, tetapi juga mencakup faktor kesehatan dan daya tahan tubuh.
Gabungan dari berbagai faktor ini terbukti menjadi daya tarik yang sangat kuat. Konsumen bahkan rela membayar hingga 24 persen lebih mahal untuk produk yang menawarkan manfaat kesehatan sekaligus kelestarian lingkungan secara bersamaan.
Lebih lanjut, meskipun survei mencatat masih banyak konsumen yang kesulitan menilai tingkat kehati-hatian lingkungan suatu produk, seperti 68 persen responden yang gagal membedakan mana produk dengan jejak karbon lebih rendah, teknologi AI hadir sebagai penentu arah baru.
Walaupun label dan sertifikasi masih menjadi acuan utama saat berbelanja di toko, hampir separuh pengguna AI mengaku telah memanfaatkan teknologi ini dalam 12 bulan terakhir untuk membantu mereka hidup lebih ramah lingkungan.
Sebanyak 38 persen konsumen menggunakan AI untuk meminta rekomendasi produk ramah lingkungan, naik dari 32 persen tahun lalu, dan 36 persen menggunakannya untuk mengecek transparansi serta etika perusahaan, naik dari 30 persen tahun lalu.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya