Meski demikian, perekonomian warga Sanur sangat bergantung pada pendapatan pariwisata. Sebagian besar narasumber menilai bahwa sektor pariwisata sebenarnya dapat menjadi sarana yang ampuh untuk mempromosikan, menjalankan, dan mendanai solusi perlindungan karang.
Namun, dampak keseluruhannya sangat bergantung pada tata kelola yang baik, pengelolaan yang efektif, serta kepastian bahwa hasil pendapatan pariwisata benar-benar diinvestasikan kembali untuk melindungi terumbu karang.
"Pendekatan yang terpadu semacam ini akan membantu mengalihkan proses pengambilan keputusan dari sekadar menilai proyek individu menjadi menilai sejauh mana kontribusinya terhadap perubahan sistem secara menyeluruh," tulis studi tersebut.
Sanur bukan satu-satunya kawasan yang menghadapi masalah ini. Banyak pusat tujuan wisata lainnya mengalami tekanan serupa. Menurut tinjauan tahun 2022 terhadap lebih dari 500 proyek restorasi terumbu karang di Indonesia selama tiga dekade terakhir, banyak program pemulihan yang gagal akibat lemahnya tata kelola dan ketiadaan pemantauan jangka panjang.
Zach Boakes, salah satu pendiri sekaligus peneliti karang di North Bali Reef Conservation yang tidak terlibat dalam studi ini, menilai bahwa temuan tersebut menyajikan kerangka kerja yang menyeluruh mengenai bagaimana ancaman dan tindakan pengelolaan saling memengaruhi. Studi ini juga berhasil menyoroti peran ganda pariwisata yang bertolak belakang dalam konservasi karang.
"Pariwisata merupakan salah satu ancaman terbesar bagi terumbu karang di Bali, sekaligus menjadi peluang terbesarnya. Tantangannya adalah memastikan agar sektor pariwisata dapat memberi kontribusi yang lebih besar bagi pelestarian jangka panjang dibandingkan tingkat kerusakannya," kata Boakes.
Baca juga: Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Boakes menyatakan bahwa pelaku bisnis pariwisata seharusnya dipandang sebagai mitra konservasi, bukan sebagai sumber masalah. Selain itu koordinasi yang lebih baik di antara para pemangku kepentingan tentu akan membantu meningkatkan kesehatan terumbu karang di Sanur. Namun, ia menegaskan bahwa berbagai tantangan lain juga harus diselesaikan, terutama ketersediaan dana konservasi.
Hal penting lainnya adalah bagaimana program konservasi menilai apakah tindakan mereka benar-benar berhasil dalam jangka panjang. Di sinilah ukuran daya tahan terumbu karang menjadi sangat penting.
Boakes pun mendesak agar setiap program pemulihan memasukkan indikator kesehatan ekosistem dalam pemantauan mereka, termasuk memperhitungkan keberadaan ikan pemakan alga, pembentukan struktur kapur, tingkat pengikisan karang, serta perputaran nutrisi di air.
Akan tetapi sekali lagi meski program perlindungan berjalan efektif, perubahan iklim tetap menjadi ancaman terbesar bagi terumbu karang di seluruh dunia.
"Jika masalah seperti buruknya kualitas air, limbah cair tanpa pengolahan, pembangunan pesisir, dan perubahan iklim terus dibiarkan, maka upaya penanaman karang hanya akan menjadi solusi sementara, bukan solusi jangka panjang, Keberhasilan pemulihan karang pada akhirnya sangat bergantung pada perbaikan kondisi lingkungan agar karang dapat bertahan dan tumbuh secara alami," tegas Boakes.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya