Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Terumbu Karang di Bali Terus Memburuk, Wisata Berkelanjutan Kunci Pemulihan

Kompas.com, 29 September 2026, 17:00 WIB
Monika Novena,
Andika Aditia

Tim Redaksi

Meski demikian, perekonomian warga Sanur sangat bergantung pada pendapatan pariwisata. Sebagian besar narasumber menilai bahwa sektor pariwisata sebenarnya dapat menjadi sarana yang ampuh untuk mempromosikan, menjalankan, dan mendanai solusi perlindungan karang.

Namun, dampak keseluruhannya sangat bergantung pada tata kelola yang baik, pengelolaan yang efektif, serta kepastian bahwa hasil pendapatan pariwisata benar-benar diinvestasikan kembali untuk melindungi terumbu karang.

"Pendekatan yang terpadu semacam ini akan membantu mengalihkan proses pengambilan keputusan dari sekadar menilai proyek individu menjadi menilai sejauh mana kontribusinya terhadap perubahan sistem secara menyeluruh," tulis studi tersebut.

Sanur bukan satu-satunya kawasan yang menghadapi masalah ini. Banyak pusat tujuan wisata lainnya mengalami tekanan serupa. Menurut tinjauan tahun 2022 terhadap lebih dari 500 proyek restorasi terumbu karang di Indonesia selama tiga dekade terakhir, banyak program pemulihan yang gagal akibat lemahnya tata kelola dan ketiadaan pemantauan jangka panjang.

Zach Boakes, salah satu pendiri sekaligus peneliti karang di North Bali Reef Conservation yang tidak terlibat dalam studi ini, menilai bahwa temuan tersebut menyajikan kerangka kerja yang menyeluruh mengenai bagaimana ancaman dan tindakan pengelolaan saling memengaruhi. Studi ini juga berhasil menyoroti peran ganda pariwisata yang bertolak belakang dalam konservasi karang.

"Pariwisata merupakan salah satu ancaman terbesar bagi terumbu karang di Bali, sekaligus menjadi peluang terbesarnya. Tantangannya adalah memastikan agar sektor pariwisata dapat memberi kontribusi yang lebih besar bagi pelestarian jangka panjang dibandingkan tingkat kerusakannya," kata Boakes.

Baca juga: Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang

Boakes menyatakan bahwa pelaku bisnis pariwisata seharusnya dipandang sebagai mitra konservasi, bukan sebagai sumber masalah. Selain itu koordinasi yang lebih baik di antara para pemangku kepentingan tentu akan membantu meningkatkan kesehatan terumbu karang di Sanur. Namun, ia menegaskan bahwa berbagai tantangan lain juga harus diselesaikan, terutama ketersediaan dana konservasi.

Hal penting lainnya adalah bagaimana program konservasi menilai apakah tindakan mereka benar-benar berhasil dalam jangka panjang. Di sinilah ukuran daya tahan terumbu karang menjadi sangat penting.

Boakes pun mendesak agar setiap program pemulihan memasukkan indikator kesehatan ekosistem dalam pemantauan mereka, termasuk memperhitungkan keberadaan ikan pemakan alga, pembentukan struktur kapur, tingkat pengikisan karang, serta perputaran nutrisi di air.

Akan tetapi sekali lagi meski program perlindungan berjalan efektif, perubahan iklim tetap menjadi ancaman terbesar bagi terumbu karang di seluruh dunia.

"Jika masalah seperti buruknya kualitas air, limbah cair tanpa pengolahan, pembangunan pesisir, dan perubahan iklim terus dibiarkan, maka upaya penanaman karang hanya akan menjadi solusi sementara, bukan solusi jangka panjang, Keberhasilan pemulihan karang pada akhirnya sangat bergantung pada perbaikan kondisi lingkungan agar karang dapat bertahan dan tumbuh secara alami," tegas Boakes.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Rasa Empati dan Marah Ternyata Tak Mampu Tingkatkan Donasi untuk Iklim
Rasa Empati dan Marah Ternyata Tak Mampu Tingkatkan Donasi untuk Iklim
Pemerintah
Lautan Dunia Serap Rekor Panas, Setara 40 Kali Penggunaan Energi Global Tahunan
Lautan Dunia Serap Rekor Panas, Setara 40 Kali Penggunaan Energi Global Tahunan
Pemerintah
Kapan Gletser Dunia Lenyap? Situs Baru Ini Petakan Perkiraannya
Kapan Gletser Dunia Lenyap? Situs Baru Ini Petakan Perkiraannya
Pemerintah
RUU Ketenagakerjaan Perluas Sanksi Pidana, Pengawasan Masih Jadi Tantangan
RUU Ketenagakerjaan Perluas Sanksi Pidana, Pengawasan Masih Jadi Tantangan
LSM/Figur
Ancaman Nyata Kenaikan Air Laut, Ribuan Orang Berpotensi Jadi Pengungsi
Ancaman Nyata Kenaikan Air Laut, Ribuan Orang Berpotensi Jadi Pengungsi
Pemerintah
Paradoks Investasi Lahan di Balik Frasa 'Habis Kebakaran, Terbitlah Sawit'
Paradoks Investasi Lahan di Balik Frasa "Habis Kebakaran, Terbitlah Sawit"
LSM/Figur
Kisah Warga Desa Bogor Rawat Lingkungan Raih Penghargaan Asia
Kisah Warga Desa Bogor Rawat Lingkungan Raih Penghargaan Asia
Swasta
Bappenas: Susut dan Sisa Pangan Bukan Sekadar Masalah Sampah
Bappenas: Susut dan Sisa Pangan Bukan Sekadar Masalah Sampah
Pemerintah
BRWA Soroti Potensi Tumpang Tindih Areal Preservasi dengan Wilayah Adat
BRWA Soroti Potensi Tumpang Tindih Areal Preservasi dengan Wilayah Adat
LSM/Figur
Dunia Mulai Beradaptasi dengan Panas Ekstrem, Namun Masih Sangat Lambat
Dunia Mulai Beradaptasi dengan Panas Ekstrem, Namun Masih Sangat Lambat
Pemerintah
Burung Migrasi Dalam Bahaya, 1 dari 9 Spesies Terancam Punah
Burung Migrasi Dalam Bahaya, 1 dari 9 Spesies Terancam Punah
Pemerintah
Nikel, Kekuatan Besar, dan Tanggung Jawab di Balik Hilirisasi Indonesia
Nikel, Kekuatan Besar, dan Tanggung Jawab di Balik Hilirisasi Indonesia
BUMN
Mengejar Nilai Tambah, Menekan Jejak Karbon dan Limbah Hilirisasi Nikel
Mengejar Nilai Tambah, Menekan Jejak Karbon dan Limbah Hilirisasi Nikel
Swasta
PBB: 1 Miliar Porsi Makanan Terbuang per Hari, Perparah Pemanasan Global
PBB: 1 Miliar Porsi Makanan Terbuang per Hari, Perparah Pemanasan Global
Pemerintah
Jerman Targetkan Bebas Bahan Bakar Fosil pada 2045
Jerman Targetkan Bebas Bahan Bakar Fosil pada 2045
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau