Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Urutan Pesan yang Tepat Tingkatkan Keberhasilan Ajakan Peduli Lingkungan

Kompas.com, 29 September 2026, 20:44 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Dampak dari pesan-pesan kelestarian lingkungan tidak hanya bergantung pada isinya, tetapi juga pada urutan penyampaiannya. Respons emosional yang muncul dari satu pesan dapat memengaruhi cara orang memahami pesan berikutnya tentang gerakan ramah lingkungan.

Di sektor pariwisata, di mana para wisatawan sering diimbau untuk memilih opsi yang bertanggung jawab terhadap lingkungan, memahami  alur respons emosional ini bekerja dapat membantu organisasi merancang komunikasi lingkungan yang lebih efektif.

Melansir Phys, Rabu (23/9/2026) komunikasi lingkungan sering kali menyampaikan masalah dan solusi secara terpisah. Padahal, masyarakat cenderung menangkap pesan lingkungan sebagai sebuah rangkaian bertahap.

Misalnya saja mengetahui bahaya kerusakan lingkungan, baru kemudian melihat opsi solusinya. Hal ini membuka kemungkinan bahwa emosi negatif di awal dapat memengaruhi cara seseorang menerima pesan positif setelahnya.

Untuk mempelajari proses ini, Profesor Insin Kim dan Dr. Alisa Kazakova dari Pusan National University bekerja sama dengan Dr. Marcel Bastiaansen dari Breda University of Applied Sciences dan Tilburg University di Belanda untuk meneliti bagaimana respons emosional berkembang melalui tahapan-tahapan imbauan ramah lingkungan.

Baca juga: Kepedulian Lingkungan Konsumen Indonesia Kembali Meningkat Setelah 3 Tahun

Pesan gerakan ramah lingkungan yang berdampak

Para peneliti mengembangkan kerangka kerja emosi bertahap yang memperjelas peran berbeda dari tingkat ketertarikan/kewaspadaan (arousal) dan sifat emosi positif-negatif (valence) saat seseorang menerima pesan-pesan lingkungan.

Hasil penelitian ini telah diterbitkan dalam Journal of Travel & Tourism Marketing.

Para peneliti menguji kerangka kerja tersebut melalui dua studi saling melengkapi yang menggabungkan bukti aktivitas otak dan perilaku manusia, dengan fokus memisahkan respons arousal dan valence.

Pada Studi 1, eksperimen perekaman gelombang otak menunjukkan bahwa paparan terhadap gambar kerusakan lingkungan terlebih dahulu berhasil meningkatkan perhatian awal dan menjaga keterikatan pikiran orang tersebut saat kemudian diberikan pesan solusi ramah lingkungan.

Pada Studi 2, dengan urutan pesan yang sama, yakni dimulai dari pesan negatif lalu diikuti pesan positif menghasilkan perubahan emosi ke arah positif yang sangat kuat karena adanya efek kontras. Hal ini pada akhirnya meningkatkan niat orang tersebut untuk melakukan tindakan nyata yang mendukung lingkungan.

Temuan ini membuktikan bahwa arousal dan valence memiliki peran yang berbeda dalam membujuk seseorang.

Tingkat kewaspadaan (arousal) berfungsi menarik perhatian awal dan membantu proses pencernaan pesan, tetapi tidak secara langsung membuat seseorang ingin bertindak.

Akan tetapi penilaian sifat emosi (valence) menjadi faktor utama yang menentukan penilaian akhir dan dorongan seseorang untuk mengambil tindakan ramah lingkungan.

"Temuan kami memperjelas peran berbeda dari rasa tergugah dan rasa positif-negatif dalam tiap tahapan ajakan. Dorongan emosi di awal berguna untuk menyedot perhatian dan membantu memahami pesan, sedangkan penilaian perasaan di tahap berikutnyalah yang mendorong keputusan dan niat seseorang untuk bertindak," jelas Kim.

Menyusun pesan yang saling terhubung

Temuan ini pun membawa manfaat praktis bagi organisasi pariwisata yang mengandalkan partisipasi wisatawan dalam menjaga lingkungan.

Maskapai penerbangan, pengelola kapal pesiar, dan destinasi wisata alam dapat menyusun komunikasi lingkungan sebagai sebuah alur emosi yang berurutan, bukan sekadar menyampaikan pesan ramah lingkungan secara terpisah-pisah.

Sebagai contoh, strateginya adalah menarik perhatian wisatawan pada masalah lingkungan terlebih dahulu, baru kemudian menawarkan solusi yang jelas dan realistis seperti memilih opsi perjalanan rendah emisi, mendukung konservasi laut, atau ikut menjaga kelestarian tempat wisata.

Baca juga: Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan

Para peneliti menyarankan agar alur dari keprihatinan lingkungan menuju solusi positif yang nyata dirancang dengan cermat, sehingga perhatian yang sudah terbangun bisa berubah menjadi tindakan nyata.

Kendati demikian, informasi lingkungan harus tetap jujur dan proporsional, bukan sekadar menakut-nakuti atau membuat wisatawan merasa tertekan.

Menghubungkan informasi lingkungan yang menyentuh emosi dengan solusi yang jelas dan nyata dapat membantu berbagai organisasi mendorong lebih banyak orang untuk ikut bertindak ramah lingkungan.

Dalam beberapa tahun ke depan, strategi ini bisa mengubah cara penyampaian pesan-pesan lingkungan di platform pemesanan online, aplikasi wisata, papan petunjuk digital, hingga pengalaman wisata interaktif. Alih-alih hanya mengandalkan satu imbauan umum, organisasi dapat menyusun pesan yang saling terhubung di setiap tahapan perjalanan wisatawan.

Studi ini membuktikan bahwa persuasi yang efektif tidak sekadar memicu reaksi emosi awal, melainkan mengarahkan perhatian tersebut menuju penilaian positif atas solusi yang dapat dipercaya. Prinsip ini juga bisa diterapkan pada komunikasi isu iklim, konservasi, kesehatan masyarakat, dan kampanye sosial lainnya di luar sektor pariwisata.

"Kampanye masa depan sebaiknya tidak dirancang hanya untuk memicu reaksi emosi yang kuat, tetapi untuk mengarahkan perhatian awal menuju penilaian positif atas solusi yang terpercaya, hingga akhirnya memunculkan kesadaran untuk bertindak secara bertanggung jawab," pungkas Kim.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau