KOMPAS.com - Umbi kimpul berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai komoditas pangan lokal karena tanaman ini mudah dibudidayakan dan memiliki karakter pengolahan yang sederhana.
Guru Besar Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University, Titi Candra Sunarti mengatakan, umbi kimpul berpotensi menjadi komoditas pangan lokal karena dapat tumbuh sebagai tanaman sela.
Bahkan, umbi kimpul juga berpeluang untuk dikembangkan menjadi pangan fungsional dan bahan baku produk pangan bebas gluten.
Baca juga: Sulap Umbi-umbian Jadi Seblak hingga Sushi, Bu Kimpul Ingin Pangan Lokal Tetap Lestari
“Kimpul itu mudah tumbuh dan tidak memerlukan lahan khusus. Tanaman ini juga dapat dijadikan tanaman sela karena tidak terlalu tinggi. Pengolahannya sederhana, bisa direbus atau dikukus dan langsung dikonsumsi,” ujar Titi, dilansir laman dari IPB University.
Menurut Titi, kimpul mempunyai kemiripan dengan talas. Namun, keduanya merupakan tanaman berbeda, yang mana bisa dikenali dari karakter daun dan umbinya.
Untuk kimpul, umbi utama dapat berkembang menjadi lebih dari satu anak umbi pada satu tanaman. Sedangkan talas umumnya menghasilkan satu umbi batang saja.
Ia menganggap, kemudahan pengolahan menjadi salah satu keunggulan umbi ini. Kimpul bisa dikonsumsi sebagai pangan maupun diolah menjadi berbagai produk, seperti perkedel, keripik, dan tepung.
Kimpul mengandung asam oksalat, dengan jumlah relatif sedikit ketimbang jenis umbi lain, sehingga tidak menimbulkan rasa gatal di mulut.
Pada umbi tertentu, kata dia, oksalat bisa berbentuk kristal, seperti jarum yang menimbulkan rasa gatal. Senyawa tersebut dapat dikurangi melalui perlakuan, seperti perendaman dalam air garam atau air kapur dan pemasakan.
Peluang pengembangan kimpul, kata dia, juga semakin terbuka jika diarahkan pada produk pangan khusus, termasuk pangan bebas gluten.
“Kalau produksi berlebih, baru dibuat tepung. Tepung itulah yang kemudian dapat digunakan sebagai bahan berbagai produk pangan,” ujar Titi.
Baca juga: Mahasiswa Unair Ciptakan GARNUSA, Beras Analog Cepat Saji dari Umbi Garut dan Tulang Ikan
Selama ini, diversifikasi pangan lokal menghadapi kendala karena industri tepung berbasis umbi belum berkembang sebesar industri tepung terigu. Maka dari itu, penguatan rantai pasok, standardisasi bahan baku, dan pengembangan produk menjadi kunci agar kimpul bisa menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi, bukan sekadar hanya menjadi pangan lokal.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya