"Kami melihat pola pikir psikologis dalam proyek lain yang berkaitan dengan penghematan energi. Dalam satu studi besar untuk mengurangi konsumsi energi rumah tangga, kami menemukan bahwa tindakan yang kami lakukan benar-benar berhasil mengurangi penggunaan energi, meskipun hal itu tidak mengubah pola pikir psikologis orang-orang tersebut," jelas Klöckner.
Beberapa orang memang mengubah niat mereka karena informasi yang memicu emosi, tetapi orang-orang yang benar-benar melakukan perubahan positif secara nyata tidak selalu melakukannya karena alasan emosional yang sama.
Organisasi nirlaba (LSM) dapat memperoleh manfaat besar dari penelitian ini. Kerja mereka sangat bergantung pada sumbangan dana dari para pendukung, sehingga memahami apa yang membuat orang mulai, berhenti, atau terus berdonasi menjadi sangat penting.
World Wildlife Fund (WWF) adalah lembaga yang menerima penyaluran donasi dalam penelitian ini. Denise Kohn, penasihat senior untuk kemitraan di WWF Norwegia, menjelaskan bahwa organisasinya memang secara sengaja menggunakan emosi rasa marah, empati, dan harapan dalam penggalangan dana, yang biasanya diikuti dengan ajakan untuk bertindak.
Baca juga: Transaksi Langkah Membumi Naik Dua Kali Lipat, Minat Produk Ramah Lingkungan Menguat
"Kami tahu bahwa para donatur bulanan kami mendukung kami rata-rata selama lima hingga enam tahun," kata Kohn.
"Semua penelitian baru yang dapat membantu kami memahami motivasi donatur dengan lebih baik selalu menarik bagi kami," tambahnya.
Faktor emosional yang terlibat dalam perubahan iklim memang sangat sulit dipahami, mengingat betapa besarnya masalah ini.
"Kami tidak pernah benar-benar sukses dalam penggalangan dana jika hanya mengusung isu iklim saja. Isu kelestarian alam merupakan pintu masuk yang jauh lebih kuat. Selain itu, situasi politik dan geopolitik saat ini membuat isu-isu lain sering kali lebih menyita perhatian publik," jelas Kohn.
Lebih lanjut, penelitian ini membuktikan bahwa rasa marah, empati, dan harapan memainkan peran penting dalam membentuk pemahaman masyarakat tentang perubahan iklim. Namun, emosi-emosi itu saja tidak cukup untuk menghasilkan perubahan nyata yang dapat diukur.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya