Editor
KOMPAS.com – Kebutuhan listrik Indonesia diproyeksikan meningkat signifikan dalam beberapa dekade mendatang seiring bertambahnya aktivitas rumah tangga, adopsi kendaraan listrik, hilirisasi industri, hingga pertumbuhan pusat data.
Di satu sisi, peningkatan konsumsi listrik dapat mendukung pertumbuhan ekonomi. Namun, di sisi lain, lonjakan permintaan tersebut perlu diimbangi dengan pasokan energi yang semakin bersih agar elektrifikasi juga berkontribusi terhadap agenda dekarbonisasi dan target net zero emissions Indonesia.
Berdasarkan penelitian Tenggara Strategics dan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia, konsumsi listrik nasional diproyeksikan meningkat dari 539 terawatt hour (TWh) pada 2025 menjadi 1.813 TWh pada 2060.
Baca juga: Tanpa Energi Terbarukan, Indonesia Sulit Dapat Investasi Berkualitas
Sekitar 28 persen permintaan listrik pada periode tersebut diperkirakan berasal dari sektor rumah tangga. Sementara itu, kendaraan listrik diproyeksikan menyumbang sekitar 11 persen dari total permintaan.
Temuan tersebut dipaparkan dalam rangkaian Indonesia International Sustainability Forum (IISF) 2026 bertajuk Electrifying Indonesia: Driving Demand for Renewable Energy, Selasa (6/10/2026).
Direktur Eksekutif CSIS Indonesia Yose Rizal Damuri memaparkan dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Rabu (7/10/2026), elektrifikasi membuka peluang besar bagi Indonesia. Namun, peningkatan permintaan listrik juga perlu diarahkan untuk mempercepat penggunaan energi yang lebih hijau.
Baca juga: Potensi EBT 3.687 GW, Pemerintah Dorong Proyek Energi Terbarukan di Daerah
Salah satu sumber permintaan listrik baru yang dinilai memiliki potensi besar berasal dari sektor rumah tangga, terutama melalui konversi kompor berbahan bakar elpiji (LPG) menjadi kompor induksi atau kompor listrik.
Penelitian Tenggara Strategics dan CSIS Indonesia menunjukkan, apabila dijalankan secara penuh, program tersebut berpotensi menciptakan tambahan permintaan listrik sekitar 27,62 gigawatt (GW) hingga 53,43 GW. Besarnya kebutuhan tersebut bergantung pada tingkat efisiensi kompor induksi yang digunakan.
Tambahan permintaan ini dinilai dapat menjadi salah satu sumber konsumsi yang menopang pengembangan energi terbarukan, termasuk rencana pengembangan energi surya berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp).
Baca juga: Target Energi Terbarukan 70 Persen, Indonesia Butuh 49,12 Juta Tenaga Kerja Green Job
Potensi tersebut juga berkaitan dengan tingginya konsumsi LPG dalam rumah tangga Indonesia. Sekitar 41,46 persen konsumsi energi rumah tangga saat ini berasal dari LPG.
Pada saat yang sama, Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan LPG domestik. Sekitar 77,6 persen kebutuhan LPG nasional dipenuhi melalui impor.
Karena itu, konversi menuju kompor induksi tidak hanya berpotensi meningkatkan permintaan listrik, tetapi juga mengurangi ketergantungan terhadap LPG impor. Penggunaan kompor induksi yang lebih efisien juga dinilai berpotensi menekan beban subsidi energi.
Saat sambutan, Direktur Konservasi Energi Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Gigih Udi Atmo mengatakan, aspek efisiensi perlu menjadi bagian penting dalam pelaksanaan elektrifikasi.
Baca juga: Berkat Energi Terbarukan, Dunia Berhasil Hemat Rp8.632 Triliun dalam Setahun
“Elektrifikasi yang dilakukan dengan teknologi efisien dapat sekaligus memperkuat ketahanan energi,” ujarnya.
Saat memasak, misalnya, penggunaan kompor induksi dapat mengurangi ketergantungan terhadap LPG sekaligus menawarkan efisiensi energi lebih tinggi dibandingkan kompor LPG.
Selain rumah tangga, transportasi menjadi salah satu sektor yang diperkirakan mendorong pertumbuhan permintaan listrik.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya