Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci

Kompas.com, 7 Oktober 2026, 20:52 WIB
Sri Noviyanti

Editor


KOMPAS.com – Kebutuhan listrik Indonesia diproyeksikan meningkat signifikan dalam beberapa dekade mendatang seiring bertambahnya aktivitas rumah tangga, adopsi kendaraan listrik, hilirisasi industri, hingga pertumbuhan pusat data.

Di satu sisi, peningkatan konsumsi listrik dapat mendukung pertumbuhan ekonomi. Namun, di sisi lain, lonjakan permintaan tersebut perlu diimbangi dengan pasokan energi yang semakin bersih agar elektrifikasi juga berkontribusi terhadap agenda dekarbonisasi dan target net zero emissions Indonesia.

Berdasarkan penelitian Tenggara Strategics dan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia, konsumsi listrik nasional diproyeksikan meningkat dari 539 terawatt hour (TWh) pada 2025 menjadi 1.813 TWh pada 2060.

Baca juga: Tanpa Energi Terbarukan, Indonesia Sulit Dapat Investasi Berkualitas

Sekitar 28 persen permintaan listrik pada periode tersebut diperkirakan berasal dari sektor rumah tangga. Sementara itu, kendaraan listrik diproyeksikan menyumbang sekitar 11 persen dari total permintaan.

Temuan tersebut dipaparkan dalam rangkaian Indonesia International Sustainability Forum (IISF) 2026 bertajuk Electrifying Indonesia: Driving Demand for Renewable Energy, Selasa (6/10/2026).

Direktur Eksekutif CSIS Indonesia Yose Rizal Damuri memaparkan dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Rabu (7/10/2026), elektrifikasi membuka peluang besar bagi Indonesia. Namun, peningkatan permintaan listrik juga perlu diarahkan untuk mempercepat penggunaan energi yang lebih hijau.

Baca juga: Potensi EBT 3.687 GW, Pemerintah Dorong Proyek Energi Terbarukan di Daerah

Salah satu sumber permintaan listrik baru yang dinilai memiliki potensi besar berasal dari sektor rumah tangga, terutama melalui konversi kompor berbahan bakar elpiji (LPG) menjadi kompor induksi atau kompor listrik.

Penelitian Tenggara Strategics dan CSIS Indonesia menunjukkan, apabila dijalankan secara penuh, program tersebut berpotensi menciptakan tambahan permintaan listrik sekitar 27,62 gigawatt (GW) hingga 53,43 GW. Besarnya kebutuhan tersebut bergantung pada tingkat efisiensi kompor induksi yang digunakan.

Tambahan permintaan ini dinilai dapat menjadi salah satu sumber konsumsi yang menopang pengembangan energi terbarukan, termasuk rencana pengembangan energi surya berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp).

Baca juga: Target Energi Terbarukan 70 Persen, Indonesia Butuh 49,12 Juta Tenaga Kerja Green Job

Potensi tersebut juga berkaitan dengan tingginya konsumsi LPG dalam rumah tangga Indonesia. Sekitar 41,46 persen konsumsi energi rumah tangga saat ini berasal dari LPG.
Pada saat yang sama, Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan LPG domestik. Sekitar 77,6 persen kebutuhan LPG nasional dipenuhi melalui impor.

Karena itu, konversi menuju kompor induksi tidak hanya berpotensi meningkatkan permintaan listrik, tetapi juga mengurangi ketergantungan terhadap LPG impor. Penggunaan kompor induksi yang lebih efisien juga dinilai berpotensi menekan beban subsidi energi.

Saat sambutan, Direktur Konservasi Energi Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Gigih Udi Atmo mengatakan, aspek efisiensi perlu menjadi bagian penting dalam pelaksanaan elektrifikasi.

Baca juga: Berkat Energi Terbarukan, Dunia Berhasil Hemat Rp8.632 Triliun dalam Setahun

“Elektrifikasi yang dilakukan dengan teknologi efisien dapat sekaligus memperkuat ketahanan energi,” ujarnya.

Saat memasak, misalnya, penggunaan kompor induksi dapat mengurangi ketergantungan terhadap LPG sekaligus menawarkan efisiensi energi lebih tinggi dibandingkan kompor LPG.

Kendaraan listrik hingga pusat data

Selain rumah tangga, transportasi menjadi salah satu sektor yang diperkirakan mendorong pertumbuhan permintaan listrik.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Swasta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
LSM/Figur
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau