Pertimbangan tersebut mencakup fungsi kemasan dalam melindungi produk, menjaga kualitas dan keamanan, serta memastikan produk tetap terjangkau bagi konsumen.
“Kemasan produk harus memiliki berbagai fungsi penting, mulai dari melindungi produk, menjaga kualitas dan keamanan, hingga memastikan produk tetap terjangkau bagi konsumen. Di Indonesia, solusi kemasan juga harus mampu menghadapi tantangan iklim tropis dan distribusi antarpulau yang kompleks,” ujar Nurdiana di Hotel Indonesia Kempinski, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (7/10/2026).
Nurdiana menjelaskan, inovasi kemasan dapat dilakukan dengan mengoptimalkan fungsi dari sistem kemasan yang sudah ada. Langkah tersebut mencakup pengurangan penggunaan material, pengembangan teknologi pelapis dan barrier, pembuatan kemasan yang lebih ringan, serta peningkatan penggunaan material daur ulang.
“Dalam praktiknya, inovasi kemasan tidak selalu berarti mengganti seluruh material kemasan. Sering kali, dampak terbesar justru dihasilkan melalui optimalisasi fungsi dalam sistem kemasan yang sudah ada dengan tetap menjaga keamanan, kualitas, performa, kenyamanan, dan keterjangkauan yang diharapkan konsumen,” paparnya.
Nurdiana menambahkan, solusi kemasan perlu mempertimbangkan pengelolaan setelah produk digunakan. Kemasan harus mampu menjalankan fungsinya sepanjang siklus hidup serta memiliki jalur pengumpulan dan pengolahan kembali setelah digunakan.
“Oleh karena itu, inovasi kemasan perlu berjalan beriringan dengan penguatan sistem pengelolaan sampah agar dapat memberikan dampak yang nyata dan berkelanjutan,” tuturnya.
Unilever sendiri mengeksplorasi penggunaan material alternatif, termasuk kemasan berbasis kertas (paper-based). Berbagai uji coba dilakukan dengan mempertimbangkan kemampuan kemasan dalam menjaga keamanan, kualitas, performa, kenyamanan, dan keterjangkauan produk, serta ketersediaan jalur pengelolaan setelah digunakan.
Sebagai informasi, di Unilever pengembangan produk diarahkan untuk menghasilkan produk berkualitas dengan tetap mempertimbangkan dampak lingkungan dan sosial.
Upaya tersebut mencakup pengurangan penggunaan plastik primer, peningkatan penggunaan plastik daur ulang dalam kemasan, serta pengembangan kemasan yang dapat digunakan kembali, didaur ulang, atau dikomposkan.
Unilever juga mendukung pengumpulan dan pengolahan lebih banyak kemasan plastik jika dibandingkan jumlah plastik yang digunakan.
Salah satu contohnya adalah desain ulang kemasan Molto yang memungkinkan perusahaan mengurangi penggunaan plastik sebanyak 96 ton dengan tetap mempertahankan kualitas dan fungsi produk.
Selain inovasi produk, Unilever Indonesia juga terus mendorong partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah berbasis bank sampah.
Hingga 2025, Unilever Indonesia telah mendukung lebih dari 5.000 bank sampah di 50 kota dan kabupaten yang tersebar di 11 provinsi di Indonesia.
Untuk meningkatkan akses masyarakat, lebih dari 1.000 lokasi bank sampah juga telah terdaftar dan dapat ditemukan melalui Google My Business, Google Maps, serta sejumlah platform Google lain.
Unilever Indonesia juga telah membangun dan mendukung lebih dari 2.900 stasiun refill yang berada di bank sampah mitra dan sejumlah lokasi strategis.
Stasiun refill tersebut dikelola melalui kolaborasi dengan jaringan organisasi dan sociopreneur di wilayah Jabodetabek dan Surabaya. Kehadiran fasilitas ini ditujukan untuk memperluas akses masyarakat terhadap pilihan konsumsi yang lebih berkelanjutan serta mendukung pengurangan penggunaan kemasan sekali pakai.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya