Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global

Kompas.com, 24 Oktober 2026, 15:01 WIB
Monika Novena,
Andika Aditia

Tim Redaksi

Sumber phys

KOMPAS.com - Perubahan iklim dipandang sebagai ancaman besar yang bisa memicu konflik, kelangkaan sumber daya, dan ketidakstabilan antarnegara.

Namun menaikkan anggaran pertahanan atau militer dengan dalih untuk melindungi diri dan menjaga stabilitas ternyata tidak tepat.

Melansir Phys, Rabu (21/10/2026) penelitian yang dimuat dalam jurnal The BMJ memperingatkan bahwa langkah tersebut salah. Menambah uang untuk militer tidak akan menyelesaikan akar masalah perubahan iklim malah semakin memperburuknya dan pada akhirnya justru mengancam keselamatan umat manusia itu sendiri.

Emisi militer perburuk ancaman iklim

Sebagai contoh, emisi gas rumah kaca tahunan dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat lebih besar daripada total emisi tahunan di banyak negara.

Baca juga: PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia

Industri senjata juga menjadi sumber emisi besar lainnya. Selain itu, perang itu sendiri menyebabkan lonjakan emisi yang sangat tinggi, terutama jika target serangannya mengenai infrastruktur minyak dan gas alam.

Meskipun ada sumber emisi militer yang sangat besar yang bisa dikurangi, namun Neta Crawford dari peneliti dari Universitas St Andrews berpendapat bahwa pengurangan emisi yang signifikan baru akan terjadi jika angkatan bersenjata mengurangi ukuran dan jejak operasional mereka secara keseluruhan, serta beralih ke doktrin yang lebih ramah lingkungan termasuk yang tidak memerlukan misi pesawat jarak jauh.

"Kita justru harus lebih banyak membelanjakan dana untuk sektor kesehatan, lingkungan, dan transisi energi daripada untuk mendanai militer," katanya.

"Meskipun bentuk pertahanan tertentu tetap diperlukan, fokusnya harus beralih ke bagaimana cara memastikan pertahanan yang efektif dengan tingkat emisi dan biaya yang lebih rendah," paparnya lagi.

Belanja militer kuras anggaran iklim dan bantuan

Mohammed Abba-Aji dari Universitas Washington dan Nason Maani dari Universitas Edinburgh memperingatkan bahwa peningkatan pengeluaran pertahanan juga dapat mengorbankan keamanan kita.

Mereka mencatat bahwa belanja militer dunia mencapai 2,887 triliun dolar AS (sekitar Rp 47.000 triliun) pada tahun 2025, mendekati 2,5 persen dari total output ekonomi global.

Sementara itu, bantuan pembangunan resmi justru turun menjadi 174 miliar dolar AS pada tahun 2025, yang merupakan penurunan tahunan terbesar dalam sejarah.

Namun, ketika negara-negara mengalihkan sebagian besar anggaran mereka untuk keperluan militer, dana yang tersisa untuk mengatasi iklim, pendidikan, dan kebutuhan dasar manusia lainnya menjadi semakin sedikit.

Para ahli memperingatkan bahwa situasi ini tidak hanya berdampak buruk bagi kesehatan dalam jangka panjang, tetapi juga menciptakan lingkaran setan.

Tekanan akibat perubahan iklim memicu konflik perebutan sumber daya, yang kemudian dijadikan alasan untuk menaikkan anggaran militer. Akibatnya, dana justru tersedot menjauh dari langkah-langkah yang seharusnya bisa memutus siklus tersebut.

Baca juga: Perang Perparah Krisis Iklim, Besarnya Emisi Militer Tak Dilaporkan

Mereka juga menambahkan bahwa meskipun negara-negara kaya mungkin tidak terlibat langsung dalam konflik-konflik ini, mereka tetap membantu menciptakan kondisi yang tidak stabil.

Caranya adalah dengan memasok senjata yang memperpanjang konflik tersebut, sementara di sisi lain mereka justru memangkas bantuan untuk negara-negara yang terdampak.

Menurut mereka, keamanan yang sejati harus berbentuk lain. Pemerintah harus mempertimbangkan dampak kesehatan dan iklim sebelum membuat pilihan antara belanja militer atau anggaran sosial. Selain itu, pemerintah juga harus menyisihkan sebagian dana keamanannya untuk adaptasi iklim, terutama di wilayah-wilayah yang paling rentan.

"Pemerintah akan terus menjalankan kewajiban utama mereka, yaitu melindungi rakyat, dan mereka memang harus melakukannya. Namun, perlindungan tidak boleh hanya berarti melindungi dari agresi fisik semata. Perlindungan harus mencakup perlindungan dari dampak perubahan iklim, perlindungan kesehatan, dan perlindungan lingkungan," tutup mereka.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau